Aku Sakit Maag, Bolehkah Berpuasa?

Beberapa orang yang pernah mengalami gejala maag sering merasa khawatir gejalanya akan kambuh kembali ketika berpuasa. Ada juga orang yang khawatir akan mengalami maag jika berpuasa, walaupun sebelumnya orang tersebut tidak mengalami masalah lambung. Hal ini dikarenakan sebagian orang berpikir sakit maag ini terjadi karena telat makan, sedangkan berpuasa menyebabkan kamu tidak makan sama sekali. Benarkah?

 

Lambungmu Saat Berpuasa

Tahukah kamu? Lambung justru hanya memproduksi sedikit asam lambung ketika tidak ada makanan yang dikonsumsi. Hal ini dikarenakan keberadaan makanan dalam lambung kita lah yang merangsang produksi asam lambung [1]. Jadi, ketika kita berpuasa, produksi asam lambung kita menurun? Kenyataannya, puasa bisa meningkatkan produksi asam lambung hingga mencapai 50 ml/jam, walaupun tidak ada makanan yang masuk [1]. Hal ini dikarenakan produksi asam lambung ternyata juga dipengaruhi oleh stimulus emosional, misalnya dengan melihat makanan yang diinginkan, memikirkan tentang makanan, atau mencium bau makanan yang menggugah selera makan [1].

 

Reaksi ini sesuai dengan munculnya keinginan kita untuk makan ketika melihat atau mencium makanan yang diinginkan. Tubuh kita mempersiapkannya dengan memproduksi asam lambung untuk mencerna makanan yang akan masuk. Sayangnya, saat berpuasa kita menahan diri untuk tidak makan, sehingga asam lambung tidak digunakan untuk pencernaan makanan. Inilah mengapa produksi asam lambung akan meningkat, terutama beberapa jam sebelum menjelang berbuka puasa. Karena peningkatan asam lambung orang yang berpuasa lebih dipengaruhi status emosional, peningkatan asam lambung tidak selalu terjadi dan akan membaik apabila seseorang terbiasa berpuasa. Selengkapnya tentang pengaruh stimulus emosional terhadap perilaku makan bisa kamu lihat di link ini.

 

Apakah Puasa Berbahaya untuk Sakit Maag?

Orang yang memiliki gejala maag termasuk dalam orang yang berisiko untuk berpuasa. Tetapi, masih ingatkah kamu bahwa sebagian besar gejala maag tidak disertai dengan adanya luka atau kelainan lainnya di lambung? Dalam kondisi ini, berpuasa justru diketahui dapat mengurangi gejala maag karena kita cenderung memiliki waktu makan yang teratur setiap harinya [2]. Hal ini tentu harus disertai dengan pola makan yang baik selama kita berpuasa dan memilih makanan yang dianjurkan untuk gejala maag [2].

 

Di satu sisi lain, puasa juga bisa membahayakan apabila gejala maag disebabkan oleh adanya luka atau kelainan lainnya [3]. Namun, hal ini tidak berarti kamu tidak dapat berpuasa selamanya jika ada luka di lambungmu. Evaluasi lebih lanjut dibutuhkan untuk menilai risiko berpuasa pada kondisi tersebut [3].

 

Jadi, apa yang harus kamu lakukan? Kenali gejala maagmu dan ketahui apa penyebabnya sebelum berpuasa! Jangan lupa juga untuk mengikuti anjuran pola makan yang baik dan benar ketika berpuasa! Bagi kamu yang belum tahu tentang maag, kamu bisa membaca artikelnya di link ini.

 

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.