Alkaloid dalam Makanan

glikoalkaloid banyak terdapat pada tanaman suku terong-terongan
Photo by Chad Stembridge on Unsplash

Secara kimia, alkaloid bisa diartikan sebagai senyawa fitokimia yang memiliki struktur cincin sekaligus unsur nitrogen. Bermacam-macam senyawa alkaloid tersebar di beberapa jenis tanaman. Tergantung dari jenis dan kadarnya, efek alkaloid pada kesehatan pun cukup beragam.

 

Sobat Zywie pasti sudah sering mendengar bahayanya nikotin pada rokok. Nah, nikotin dari daun tembakau itu termasuk contoh alkaloid. Di sisi lain, sebagian alkaloid ataupun tanaman penghasilnya dikembangkan menjadi obat karena efek fisiologi tertentu yang ditimbulkannya. Misalnya kinin, dari kulit pohon kina, yang dikenal sebagai obat malaria.

 

Alkaloid umumnya memiliki rasa pahit. Tidak heran, kopi, teh, maupun coklat memiliki rasa pahit karena memang mengandung alkaloid dalam jumlah yang signifikan. Kafein merupakan senyawa alkaloid yang khas dari ketiga tanaman tersebut. Sebagaimana nikotin, kafein termasuk alkaloid yang psikoaktif alias mempengaruhi sistem saraf. Senyawa ini memblok reseptor adenosin di sel otot jantung dan merangsang kerja sistem saraf sehingga membantu meningkatkan konsentrasi sekaligus mencegah timbulnya kantuk [1]. Sekitar 12% dari hasil metabolisme kafein dalam tubuh adalah teobromin [2], senyawa alkaloid yang juga terdapat pada cokelat.

 

Bagaimana dengan tanaman yang biasa dimakan? Tidak terlalu banyak bahan makanan yang mengandung alkaloid, di antaranya kentang dan tomat, akan dibahas sekilas di artikel ini. Secara taksonomi, tanaman bahan pangan yang mengandung alkaloid kebanyakan berasal dari satu suku atau keluarga yang sama, keluarga terong-terongan (Solanaceae). Tembakau juga termasuk anggota dari suku ini, lho.

 

Setiap anggota keluarga terong-terongan punya jenis alkaloid yang khas. Khasiat atau efek biologisnya pun berbeda-beda satu sama lain. Walaupun demikian, tanaman suku terong-terongan ini umumnya menghasilkan alkaloid berjenis glikoalkaloid. Glikoalkaloid punya reputasi buruk sebagai zat beracun dari tanaman suku terong-terongan. Selain menimbulkan rasa pahit, tingginya kadar glikoalkaloid dapat menimbulkan gejala keracunan pada saluran cerna. Contoh gejala keracunan glikoalkaloid mencakup rasa terbakar di mulut, sakit perut, mual, dan muntah [3]. Akan tetapi, biasanya kadar glikoalkaloid dari tanaman suku Solanaceae ini cukup rendah sehingga tidak berbahaya.

 

Kentang

Umbi yang satu ini memiliki kandungan alkaloid utama berupa solanin dan chaconine. Keduanya termasuk glikoalkaloid yang dapat mengganggu kesehatan. Tapi kamu tidak perlu terlalu khawatir, biasanya kadarnya pada kentang cukup rendah sehingga tidak membahayakan. Untuk tujuan keamanan, kentang dianggap tidak layak makan bila kadar glikoalkaloidnya melebihi 200 mikrogram/gram kentang [4]. Sedangkan kadar glikoalkaloid total pada kentang yang dijual di Eropa dan Amerika Serikat umumnya sekitar 20-150 mg/kg [5]. Oh ya, kulit kentang mengandung glikoalkaloid dengan kadar setidaknya tiga kali lebih besar daripada dagingnya [6].

 

Kentang yang mengandung banyak glikoalkaloid juga dicirikan dengan munculnya tunas ataupun warna kehijauan. Pembentukan glikoalkaloid pada kentang ini sebanding dengan paparan cahaya [5]. Makanya, kentang yang ditanam terlalu dekat dengan permukaan tanah kadar glikoalkaloidnya cenderung lebih tinggi. Begitu pula dengan kentang yang sudah dipanen lalu disimpan di tempat terang terlalu lama.

 

Tomat

Glikoalkaloid dari tomat, biasa dikenal dengan nama tomatin, sifatnya relatif lebih aman dibanding glikoalkaloid yang berasal dari kentang. Buah tomat sendiri kadar glikoalkaloidnya lebih rendah dibanding bagian-bagian lain tanaman tomat, misalnya daun atau batangnya. Selain itu, kadar tomatin berkurang seiring dengan proses pematangan buah [7]. Senyawa ini yang menyebabkan tomat hijau berasa pahit saat dikonsumsi [3]. Jadi, hindarilah memakan tomat yang masih hijau ataupun daun dan batang tanaman tomat, ya.

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

ayunina's picture
Ayunina R. F., Apt., M.Sc.
ITB, Farmasi, Ghent University, Nutrition and Rural Development
Semenjak menempuh pendidikan di Sekolah Farmasi ITB, Ayunina tertarik dengan peran makanan dan gaya hidup dalam penyembuhan dan kesehatan. Hal ini pun mengantarkannya untuk menempuh pendidikan magister di jurusan Nutrition and Rural Development di Ghent University dengan beasiswa dari pemerintah wilayah Flanders, Belgia. Setelah memperoleh gelar masternya di tahun 2016, Ayunina kini mengelola...
rizal's picture
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.