Antibiotik: Seberapa Tahukah Anda?

By Microrao (Own work) [Public domain], via Wikimedia Commons
James Gathany
(CDC Public Health Image library ID 11162) [Public domain], via Wikimedia Commons

Siapa sih yang tidak kenal dengan antibiotik. Senyawa yang satu ini bahkan dikenal sebagai “obat sakti” karena telah menyelamatkan jutaan nyawa dengan menghambat dan membunuh mikroba jenis bakteri dengan tidak mengakibatkan kerusakan terhadap sel manusia. Akan tetapi, beberapa dekade terakhir ini magic bullet (baca: antibiotik) kehilangan kemampuan dan justru menimbulkan masalah kesehatan global.

 

Pada tahun 1928, Sir Alexander Fleming secara tidak sengaja menemukan antibiotik - senyawa kimia yang secara spesifik dapat membunuh bakteri – generasi pertama dikenal dengan nama penisilin [1]. Kemudian di tahun 1940an, antibiotik mulai diproduksi dan digunakan secara massal untuk menyembuhkan infeksi bakteri berbahaya (baca: patogen) [2]. Di periode yang bersamaan, resistensi bakteri patogen terhadap penisilin mulai ditemukan [3]. Bakteri memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri sehingga dapat bertahan dari dampak yang ditimbulkan oleh antibiotik. Dalam hal ini bukan tubuh yang menjadi resisten, namun bakteri patogen berkembang menjadi tahan terhadap paparan antibiotik, sehingga pengobatan terhadap infeksi akan semakin sulit untuk dilakukan. Untuk menghindari hal tersebut, penemuan jenis antibiotik baru mulai dilakukan dan lebih dari 20 antibiotik telah ditemukan hingga tahun 1990an [4], namun saat ini penemuan antibiotik baru semakin melambat. Di sisi lain, antibiotik digunakan secara tidak tepat dan berlebihan di sektor medis dan peternakan, seperti penggunaan antibiotik dalam pakan hewan ternak, dan penggunaan antibiotik untuk menyembuhkan demam dan flu. Sekitar 20 -50% dari total konsumsi antibiotik dunia merupakan penggunaan yang tidak tepat [5]. Penggunaan berlebih mengakibatkan perkembangan bakteri resisten semakin cepat, menghasilkan jenis bakteri patogen yang dapat bertahan dari hampir seluruh antibiotik yang telah ditemukan [6]. Bayangkan saja jika semua bakteri penyebab penyakit dapat bertahan dari antibiotik yang ada, lantas luka pun dapat mengakibatkan ancaman yang membahayakan nyawa.

 

Nah, seberapa besarkah ancaman bakteri resisten antibiotik? dan apakah ada acara untuk mengatasinya? Simak di artikel berikut ini ya!

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

I.D.G.S. Deva, S.Si. M.P.H (c)
ITB - Mikrobiologi, Imperial College London - Public Health
Deva saat ini merupakan salah satu mahasiswa magister di Imperial College London dengan jurusan Public Health. Sebelumnya ia lulus dari program studi Mikrobiologi di Institut Teknologi Bandung. Ketertarikan akan penyakit infeksi sejak dari menempuh sarjana, kemudian dibawa dalam jenjang magister dengan mempelajari kesehatan masyarakat yang lebih menekankan pada sisi pencegahan penyakit dalam...
Rifqi Ahmad Riyanto S.Si., M.Sc.
ITB - Mikrobiologi, KNRTU - Food Technology
Kazan National Research Technological University, Rusia menjadi tempat menempuh pendidikan magister bagi Rifqi saat ini dalam bidang Teknologi Pangan. Selain aktif dalam bidang sains, saat ini juga aktif sebagai relawan untuk salah satu lembaga non-profit yang bergerak di bidang sosial.