Asam Lemak Jenuh dan Tak Jenuh

Lemak Jenuh dan Tak Jenuh
Leon Brocard
By Leon Brocard from London, UK (DSC02505) [CC BY 2.0 (http://creativecommons.org/licenses/by/2.0)], via Wikimedia Commons

Setelah kita selesai berucap kenal dengan asam lemak, kamu mengetahui bahwa asam lemak memiliki perbedaan tingkat kejenuhannya yang ditentukan dari jumlah ikatan gandanya. Semakin jenuh suatu asam lemak menandakan semakin banyak atom hidrogen yang terikat pada rantai karbon asam lemak. Berdasarkan tingkat kejenuhannya, asam lemak dibagi menjadi tiga subdivisi besar[1] yakni:

 

  1. Asam lemak jenuh (saturated fatty acid, SFA), tidak memiliki ikatan ganda, contoh: asam palmitat.
  2. Asam lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated fatty acid, MUFA), memiliki satu ikatan ganda, contoh: asam oleat.
  3. Asam lemak tak jenuh jamak (polyunsaturated fatty acid, PUFA), memiliki >1 ikatan ganda, contoh: asam lemak omega-3 dan omega-6.

 

Palmitic acid
Mrgreen71
By Mrgreen71 (Own work) [GFDL (http://www.gnu.org/copyleft/fdl.html) or CC BY-SA 3.0 (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0)], via Wikimedia Commons

Gambar 1. Contoh SFA (Asam Palmitat)

Gambar 2. Contoh MUFA (Asam Oleat)

 

Apa pengaruh struktur ikatan ganda tersebut? Pada kenyataan, setiap terdapat ikatan ganda, rantai karbon akan melengkung seperti pada gambar. Hal ini menyebabkan asam lemak tak jenuh memiliki struktur yang kurang terorganisir dan lebih rapuh dibandingkan asam lemak jenuh.. Oleh karena itu, asam lemak jenuh biasanya memiliki wujud yang lebih padat (contoh, mentega), sedangkan asam lemak tak jenuh banyak berbentuk cair. Selain itu, asam lemak tak jenuh lebih mudah untuk teroksidasi dalam proses pemanasan karena masih dapat mengikat atom hidrogen pada ikatan gandanya [2].

 

Bagaimana dengan efek terhadap kesehatan? Asam lemak jenuh merupakan penyusun utama membran sel yang juga memiliki peran komunikasi antar sel [3]. Di sisi lainnya, penelitian terdahulu menemukan bahwa asam lemak jenuh dapat meningkatkan Low-density Lipoprotein (LDL) di dalam tubuh [4]. Senyawa ini bisa mengendap di dalam arteri pembuluh darah jantung sehingga peningkatan LDL sering dikaitkan dengan risiko penyakit jantung [5]. Namun, hingga saat ini tidak ada penelitian dengan bukti meyakinkan bahwa asam lemak jenuh meningkatkan risiko penyakit jantung, walaupun meningkatkan LDL [3]. Efek tersebut sulit dinilai karena tidak semua jenis asam lemak jenuh meningkatkan LDL, terdapat asam lemak jenuh yang juga diubah menjadi MUFA dengan efektif, serta perannya yang juga bisa meningkatkan High-density Lipoprotein (HDL) [3,4]. 

 

Sebaliknya, asam lemak tak jenuh diketahui dapat menurunkan kadar LDL tubuh, baik MUFA maupun PUFA [4]. Tidak hanya itu, asam lemak tak jenuh juga terbukti menurunkan trigliserida, kolesterol total, serta meningkatkan HDL dengan lebih poten [4]. Oleh karena itu, terdapat rekomendasi untuk mengganti konsumsi asam lemak jenuh dengan asam lemak tak jenuh. Penurunan konsumsi asam lemak jenuh saja diketahui menurunkan LDL, tetapi juga menurunkan HDL [3]. Bukti penelitian menunjukkan bahwa mengganti konsumsi asam lemak jenuh ke asam lemak tak jenuh jenis PUFA dapat mengurangi risiko penyakit jantung koroner [1,3]. Kendati demikian, konsumsi PUFA harus tetap dalam rekomendasi yang dianjurkan, yaitu 6-11% dari total kalori. Konsumsi melebihi batas tersebut meningkatkan risiko reaksi peroksidasi lipid yang menghasilkan radikal bebas [1].Konsumsi asam lemak jenuh disarankan <10% total kalori per hari mengingat risiko peningkatan LDL [1].

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

Rifqi Ahmad Riyanto S.Si., M.Sc.
ITB - Mikrobiologi, KNRTU - Food Technology
Kazan National Research Technological University, Rusia menjadi tempat menempuh pendidikan magister bagi Rifqi saat ini dalam bidang Teknologi Pangan. Selain aktif dalam bidang sains, saat ini juga aktif sebagai relawan untuk salah satu lembaga non-profit yang bergerak di bidang sosial.
dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...