Bagaimana Memilih Ikan yang Rendah Kandungan Merkuri

Pesce_al_mercato_1.jpeg
By Lucarelli (Own work) [CC BY-SA 3.0 (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0) or GFDL (http://www.gnu.org/copyleft/fdl.html)]
via Wikimedia Commons
Creative commons

Merkuri adalah racun

Kita sudah tahu bahwa merkuri adalah racun yang terkumpul dalam daging ikan melalui bioakumulasi. Nah, merkuri (Hg) ini bersifat racun neuron yang menyerang saraf. Karena itu, merkuri memiliki pengaruh yang buruk khususnya bagi otak manusia yang sedang berkembang terutama pada janin serta anak kecil. [1] Wanita hamil dan anak di bawah umur 6 tahun dianjurkan untuk membatasi konsumsi ikan yang tinggi merkuri. Sedangkan bagi kelompok lain, potensi efek buruk keracunan merkuri tidak terlalu tinggi.  Saat kita mengkonsumsi merkuri, tubuh dapat menyerapnya dengan cepat, namun butuh waktu yang sangat lama untuk mengeluarkannya dari jaringan tubuh. Waktu paruh atau Half life merkuri (waktu yang dibutuhkan sampai jumlah merkuri yang terserap dalam tubuh menurun sampai setengahnya), ditemukan sekitar 50 hari. [2] Maka wanita yang berencana untuk hamil juga dianjurkan untuk lebih berhati-hati dan membatasi konsumsi ikan tinggi merkuri.

 

 

Apakah kita harus menghindari ikan?

Perlu diingat, ikan memiliki kandungan gizi yang sangat baik dan FDA Amerika Serikat menganjurkan untuk mengkonsumsi ikan secara teratur. Hal ini akan membantu menjaga pola makan yang sehat. Khususnya karena ikan merupakan sumber Asam Lemak Omega 3 dan Docosahexaenoic (DHA). [1]

 

Mengutip dari Standar SNI 7387:2009, batas kandungan merkuri yang diperbolehkan dalam ikan dan hasil olahannya adalah 0,5mg/kg,  dan batas Kandungan merkuri yang diperbolehkan dalam udang, kerang dan ikan predator adalah 1 mg/kg. Mengapa ada dua standar? Ikan yang termasuk dalam standar yang lebih tinggi tidak umum dikonsumsi dalam jumlah yang banyak.[4] Jadi meskipun lebih tinggi kandungannya, karena jumlah yang di konsumsi tidak banyak maka total konsumsi merkuri dianggap masih dalam kategori aman.

 

RfD (Reference Dose atau jumlah maksimum suatu zat aman dikonsumsi) untuk merkuri adalah 0.1ug/kg berat badan/hari.[5] Ini berarti toksitas merkuri tergantung pada berat badan kita.

 

 

Lalu kita boleh makan ikan apa saja?

NRDC (Natural Resource Defence Council) America Serikat mengelompokkan ikan ke dalam 4 kategori konsumsi yang dapat ditemukan di bawah ini. Rekomendasi ini didasarkan atas kebutuhan wanita dewasa dengan berat 60kg [6]. Tentu saja bila berat badan kamu lebih rendah dari 60kg, maka kamu harus lebih membatasi konsumsi ikan dengan konsumsi yang lebih jarang atau porsi yang lebih kecil. Sebaliknya bila berat badan kamu lebih tinggi dari 60kg, kamu akan memiliki batas konsumsi merkuri yang lebih tinggi.  

 

Contoh ikan yang disebutkan di sini sudah disesuaikan dengan jenis ikan yang umum dikonsumsi di Indonesia. Sayangnya Zywielab belum dapat menemukan data komprehensif mengenai kandungan merkuri untuk ikan-ikan di Indonesia sehingga mungkin terdapat perbedaan antara contoh yang disebutkan dan kandungan merkuri yang ditemukan di lapangan.

 

1.     Ikan dengan kandungan merkuri rendah (kurang dari 0.09 mg/kg):

Dipersilahkan untuk dikonsumsi dalam jumlah wajar. Contohnya adalah ikan teri, lele, haddock, mackerel, tenggiri, kembung, kerang, salmon, sardin, udang, tilapia (ikan nila), cumi.

 

Lalu kenapa dalam SNI kerang dan udang dikategorikan ke dalam batas tinggi? Ini mungkin berhubungan dengan penemuan kadar merkuri yang lebih tinggi dalam kerang dan udang lokal.

 

2.     Ikan dengan kandungan merkuri sedang (lebih dari 0.1 – 0.29 mg/kg):

Dianjurkan untuk dikonsumsi 6 porsi atau kurang dalam sebulan. Contohnya adalah ikan mas, bass, gurami, cod, halibut, kakap, lobster dan cakalang.

 

3.     Ikan dengan kandungan merkuri tinggi (lebih dari 0.3 – 0.49 mg/kg):

Dianjurkan untuk dikonsumsi 3 porsi atau kurang dalam sebulan. Contohnya adalah ikan kerapu, tongkol, yellowfin tuna kalengan, dan tuna yellowfin (sering ditemukan sebagai sushi maguro atau sushi toro).

 

4.     Ikan dengan kandungan merkuri paling tinggi (lebih dari 0.5 mg/kg):

Ikan-ikan ini biasanya memiliki posisi yang tinggi dalam rantai makanan maka tingkat bioakumulasi merkuri relatif tinggi. Contoh ikan yang harus dihindari adalah hiu, marlin, ikan todak, makerel raja dan tuna (varian bigeye sering ditemukan sebagai sushi maguro atau sushi toro dan varian ahi sering ditemukan sebagai ahi sushi).

 

Sebaiknya kita menghindari konsumsi ikan hiu karena hiu adalah hewan yang bahaya punah jika kita tidak melestarikannya. Selain itu, ikan tuna lazim ditemukan di Indonesia dalam sushi. Jadi sebaiknya konsumsi sushi tuna sangat dibatasi ya!

 

 

Sekali lagi kami sebutkan bahwa pada saat penulisan artikel ini, Zywielab belum menemukan laporan komprehensif mengenai jumlah merkuri dalam ikan yang biasa di konsumsi oleh masyarakat Indonesia. Mengingat ikan adalah salah satu pilihan makanan yang populer di Indonesia, alangkah baiknya bila ada penelitian mengenai kadar merkuri dalam ikan lokal.

 

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

crisant's picture
Dipl-Ing A. Chrisant R. S.T., M.Sc.
SGU - Food Technology, AgroParisTech, Dublin Institute of Technology, Lund University - Food Innovation and Product Design
Chrisant sekarang sedang memperkaya ilmunya dalam Erasmus Mundus Master Course of Food Innovation and Product Design (FIPDes). Seorang dengan ketertarikan terhadap dunia internasional, Chrisant memanfaatkan setiap kesempatan untuk traveling untuk melihat bagaimana beragam cara orang menjalani hidup. Seringkali juga, traveling membantu Chrisant menemukan kesukaannya yang lain, yaitu makanan.
basuki's picture
dr. T.R. Basuki M.D., M.P.H., Ph.D
Reviewer, Medical Doctor, Master - Public Health, PhD - Fetal Medicine, Barcelona University, Lund University
Dr. Basuki menyelesaikan pendidikan S3 (PhD) di Barcelona Spanyol dan Lund Swedia. Topik S3 Dr. Basuki adalah Fetal Medicine yang merupakan program bersama Barcelona University dan Lund University. Sebelumnya Dr. Basuki juga menempuh pendidikan S2 di bidang Public Health di 3 universitas di eropa dengan beasiswa Erasmus Mundus.