Bagaimana provitamin A dari wortel diproses dan diserap tubuh?

Wortel adalah tumbuhan umbi yang biasa digunakan sebagai sayuran dan kaya akan vitamin K, vitamin B, karotenoid (carotenoids) serta mineral seperti kalium, kalsium dan magnesium [1]. Warna merah-oranye pada wortel disebabkan oleh kadar karotenoidnya yang tinggi. Komponen utama karotenoid pada wortel adalah β-karotena, dan sebagian kecil α-karotena, γ-karotena, lutein, dan zeaxanthin [2]. Kadar β-karotena pada wortel adalah sebesar 8,3 mg sedangkan α-karotena sebesar 3,5 mg per 100 gram sajian. 

 

 

Secara umum, karotena adalah senyawa rantai panjang tak jenuh yang terdiri dari 40 atom karbon (Gambar 1, lihat struktur β-karotena). Oleh karena strukturnya yang seperti itu, maka karotena tidak larut dalam air tapi larut dalam minyak/lemak. α-, β-, dan γ-karotena disebut juga sebagai provitamin A karena merupakan bahan pembentuk vitamin A. Selain pada wortel, karotena juga banyak terdapat pada sumber makanan lainnya seperti ubi manis, labu kuning, brokoli, kol, dan minyak sawit merah [3].

 

Gambar 1. Proses pemecahan β-karotena menjadi vitamin A
Keni Vidilaseris
Creative Common

Gambar1. Proses pemecahan β-karotena menjadi vitamin A, by Keni Vidilaseris

 

Ketika kamu makan wortel, β-karotena dan provitamin A lainnya yang terkandung di dalamnya dipecah di mukosa (dinding bagian dalam usus atau disebut juga selaput lendir) usus halus menjadi retinaldehid oleh enzim karotena dioksigenase (Gambar 1) [4]. Kemudian, dengan menggunakan enzim retinol dehidrogenase, retinaldehid diubah menjadi retinol. Selain itu, retinaldehid dapat juga diubah menjadi asam retanoat oleh enzim aldehid oksidase. Ketiga senyawa tersebut (retinol, retinal, dan asam retanoat) inilah yang disebut sebagai vitamin A dan retinol adalah bentuk utama dari vitamin ini.

 

Jika kita lihat dari strukturnya, secara teori β-karotena dapat dipecah oleh enzim karotena dioksigenase menjadi dua molekul retinaldehid (Gambar 1). Akan tetapi pada kenyataannya tidaklah seperti itu. Berdasarkan hasil penelitian, asupan sebanyak 12 mikrogram β-karotena dapat diubah menjadi satu mikrogram retinol di usus [3]. Sedangkan, sisa β-karotena yang tidak dipecah menjadi vitamin A tetap diserap tubuh dalam bentuk aslinya tanpa pengubahan. 

 

Rendahnya kadar β-karotena yang diubah menjadi vitamin A terjadi karena kecilnya aktivitas enzim karotena dioksigenase di usus halus dan adanya kemungkinan terhambatnya kerja enzim tersebut oleh karotenoid non-substrat (bukan zat yang dapat dipecah oleh enzim yang dimaksud) yang terdapat pada makanan [4]. Selain itu, efektivitas absorpsi dan konversi β-karotena juga tergantung pada jenis makanan, cara penyiapan, jumlah lemak yang terkandung pada makanan, dan jenis karotenoid lain yang terdapat pada makanan tersebut [3]. 

 

Karena vitamin A dan karotena tidak larut dalam air, penyerapannya di usus halus harus dalam bentuk lemak terlarut. Oleh karena itu, diet yang mengandung lemak kurang dari 10% menyebabkan terhambatnya penyerapan vitamin A dan karotena sehingga berpotensi terjadinya kekurangan vitamin A [4]. Di usus halus, vitamin A (retinol) kemudian digabungkan dengan asam lemak rantai panjang membentuk retinil ester [5]. Retinil ester ini kemudian dikemas bersamaan dengan lemak-lemak lainnya membentuk kilomikron (chylomicrons) dan disekresikan ke dalam sistem limfatik (sistem sirkulasi sekunder yang berperan dalam menyalurkan limfa/getah bening di dalam tubuh) untuk disalurkan dalam aliran darah ke seluruh tubuh.

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

keni's picture
Keni Vidilaseris, PhD
ITB-Kimia, Biokimia; PhD- Biologi struktural, Vienna University
Keni adalah seorang peneliti di Departemen Biokimia, Universitas Helsinki, Finlandia sejak tahun 2014. Fokus penelitiannya adalah penentuan struktur protein membran dari parasit penyebab malaria, toksoplasmosis, dan juga sleeping sickness sebagai target pengobatan. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana dan masternya dari program studi Kimia di Institut Teknologi Bandung. Pendidikan Doktoralnya ia...
rizal's picture
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.