Bakteri resisten antibiotik bisa menyebar lewat makanan

Bakteri resisten antibiotik bisa menyebar lewat makanan
Annie Spratt
Photo by Annie Spratt on Unsplash

Organisasi kesehatan dunia, WHO, menetapkan satu pekan di bulan November sebagai pekan sadar antibiotik setiap tahunnya. Masalah serius yang timbul akibat kurang sadarnya masyarakat dalam menggunakan antibiotik adalah penyebaran bakteri resisten antibiotik, yaitu kondisi di mana bakteri penyebab penyakit tidak mampu dimusnahkan oleh antibiotik. Ada persepsi keliru di masyarakat yang menganggap antibiotik sebagai obat sakti yang mujarab untuk semua penyakit. Padahal antibiotik hanya diindikasikan untuk infeksi bakteri. Jadi kalau kamu flu lalu memakai antibiotik, itu merupakan pemborosan karena flu disebabkan oleh virus, bukan bakteri. Bukan cuma boros, penggunaan antibiotik sembarangan juga termasuk penyebab utama berkembangnya bakteri resisten (1). Tapi ternyata, proses pengolahan makanan yang kamu makan juga bisa membantu penyebaran bakteri resisten antibiotik ini lho!

 

Apa peran sektor pangan?

 

Sistem pangan berkelanjutan hendaklah memandang kualitas produksi pangan tidak hanya dari volume pangan yang dihasilkan. Nilai tambah secara keseluruhan tiap mata rantai produksi, mulai dari usaha tani dan ternak hingga olahannya mencapai piring konsumen, perlu turut diperhatikan. Pada akhirnya, bukan sekedar kenyang yang dibutuhkan, tetapi juga makanan yang aman dan bergizi.

 

Nah, resistensi antibiotik juga termasuk masalah dalam keamanan pangan, di mana sektor hulu produksi pangan bisa berperan dalam penyebaran bakteri resisten. Bagaimana caranya? Pada dasarnya, hal ini sama-sama disebabkan oleh penggunaan antibiotik yang sembarangan, bedanya antibiotik diberikan pada hewan yang bisa menjadi sumber makanan kita. Seperti manusia, hewan pun bisa terkena infeksi dan memperoleh antibiotik. Sayangnya, penggunaaan antibiotik pada hewan seringkali tidak sesuai aturan. Beberapa hewan yang sebenarnya masih sehat sering diberi antibiotik ketika terdapat hewan sakit di lingkungannya. Kasus lainnya banyak hewan yang diberi makanan yang telah dicampur antibiotik karena dapat memacu penggemukan. Terlebih lagi, pemberian antibiotik ini sering tidak sesuai dosis (2).

 

Bukan hanya sebagai sumber bakteri resisten, sektor pangan pun berperan dalam menyebarkan bakteri resisten. Bakteri resisten ini keluar ke lingkungan melalui kotoran ternak yang lalu mencemari tanah, tanaman, air, hewan lain di sekitarnya, atau bahkan bagian tubuh kita sendiri. Air yang tercemar bakteri resisten ini juga bisa dipakai untuk mencuci sayur, buah, dan daging yang kita makan. Bakteri resisten juga dapat berpindah ke makanan kita melalui tangan kita sendiri jika kita tidak mencuci tangan dengan benar sebelum makan atau memasak. Jadi, perpindahan bakteri resisten ke tubuh manusia ini cukup kompleks. Kontaminasi dapat terjadi dari proses penyembelihan, penyimpanan, transport, proses memasak, hingga makan.

 

Apa bahayanya? Perlu kita ketahui, pada hewan maupun manusia terdapat kumpulan bakteri yang secara alami hidup di saluran cernanya. Bakteri tersebut tidak menyebabkan penyakit karena memang merupakan bakteri-bakteri normal di usus, bahkan beberapa jenis bakteri ini justru membantu pencernaan dan metabolisme makronutrien yang didapat dari makanan (5). Pemberian antibiotik secara sembarangan bisa turut membunuh bakteri yang bermanfaat tersebut dan menyisakan bakteri yang kemudian kebal terhadap antibiotik, atau disebut juga dengan bakteri resisten. Bakteri resisten ini lalu dapat memperbanyak diri serta berpindah ke tubuh manusia melalui rantai makanan (3), dan bahkan mentransfer sifat resisten antibiotik ke bakteri lainnya, termasuk bakteri penyebab penyakit (4). Pola tersebut mengakibatkan munculnya berbagai bakteri resisten yang sangat mengancam kesehatan karena infeksi oleh bakteri resisten antibiotik menyebabkan penyembuhan penyakit lebih sulit, lama, dan juga mahal. Selain itu, jika tidak ada lagi jenis antibiotik yang dapat digunakan, maka infeksi bakteri yang saat ini mudah ditangani dapat berujung pada kematian.

 

Walaupun begitu, penggunaan antibiotik pada hewan tidak mungkin dihentikan sepenuhnya. Antibiotik adalah penemuan berharga yang bermanfaat untuk mengatasi infeksi yang menyerang hewan maupun manusia. Akan tetapi, manfaat tersebut hanya ada bila bakterinya tidak resisten alias masih peka terhadap antibiotik. Oleh karena itu, kita harus menggunakan antibiotik dengan bijak supaya manfaatnya senantiasa terjaga.

 

Bagaimana sektor pangan dapat menghindarinya?

 

Cara terbaik mencegah resistensi antibiotik tentunya dimulai dengan menghindari infeksi, sehingga kebutuhan penggunaan antibiotik bisa berkurang. Di lingkungan peternakan, sanitasi dan higienitas harus dijaga agar hewan maupun peternak terhindar dari infeksi. Selain itu, peternak tidak boleh lagi memakai antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan hewan. Peternak harus paham bahwa hewan yang sehat tidak perlu antibiotik. Kalaupun ada dugaan infeksi, pemberian antibiotik harus berdasarkan rekomendasi dokter hewan. Hal terakhir yang tak kalah penting, pastikan bahwa kita selaku konsumen senantiasa mencuci tangan dan peralatan selama proses penyiapan makanan. Bahan makanan harus diolah pada suhu yang memadai untuk menghilangkan bakteri yang ada. Ada baiknya juga kita memisahkan tempat penyimpanan bahan makanan seperti, daging, telur, ataupun seafood dengan bahan makanan lainnya untuk mencegah kontaminasi.

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

ayunina's picture
Ayunina R. F., Apt., M.Sc.
ITB, Farmasi, Ghent University, Nutrition and Rural Development
Semenjak menempuh pendidikan di Sekolah Farmasi ITB, Ayunina tertarik dengan peran makanan dan gaya hidup dalam penyembuhan dan kesehatan. Hal ini pun mengantarkannya untuk menempuh pendidikan magister di jurusan Nutrition and Rural Development di Ghent University dengan beasiswa dari pemerintah wilayah Flanders, Belgia. Setelah memperoleh gelar masternya di tahun 2016, Ayunina kini mengelola...
cindy's picture
dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...
deva's picture
I.D.G.S. Deva, S.Si. M.P.H
ITB - Mikrobiologi, Imperial College London - Public Health
Deva menyelesaikan jenjang pendidikan magister di Imperial College London dengan jurusan Public Health. Sebelumnya ia lulus dari program studi Mikrobiologi di Institut Teknologi Bandung. Ketertarikan akan penyakit infeksi sejak dari menempuh sarjana, kemudian dibawa dalam jenjang magister dengan mempelajari kesehatan masyarakat yang lebih menekankan pada sisi pencegahan penyakit dalam skala...
keni's picture
Keni Vidilaseris, PhD
ITB-Kimia, Biokimia; PhD- Biologi struktural, Vienna University
Keni adalah seorang peneliti di Departemen Biokimia, Universitas Helsinki, Finlandia sejak tahun 2014. Fokus penelitiannya adalah penentuan struktur protein membran dari parasit penyebab malaria, toksoplasmosis, dan juga sleeping sickness sebagai target pengobatan. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana dan masternya dari program studi Kimia di Institut Teknologi Bandung. Pendidikan Doktoralnya ia...
rizal's picture
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.