Cokelat dan Stres (2) : Efek Cokelat

Cokelat Hitam
Simon A. Eugster
CC BY-SA 3.0 (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0)], via Wikimedia Commons

Makanan yang satu ini banyak dipercaya dapat memperbaiki mood yang tidak baik, sehingga cokelat dikenal sebagai teman di kala stres. Namun, banyak pula informasi yang beredar tentang cokelat sebaliknya memiliki efek untuk membuat keadaan psikologis manusia semakin buruk. Kerancuan tentang efek cokelat terhadap kesehatan juga merupakan isu yang marak dibahas. Lantas, yang mana yang benar?

 

Dalam konteks medis, stres adalah kondisi fisik, mental, atau emosional yang dapat menyebabkan tekanan jasmani ataupun mental seseorang. Penyebab stres bisa karena faktor eksternal dan internal (1). Stres dapat menyebabkan berbagai respon dari tubuh, mulai dari detak jantung meningkat, tekanan darah meningkat, otot tegang, hingga perubahan hormon. Hormon yang berperan saat stres antara lain ada kortisol, norephinephrine, dan adrenalin. Kemudian apa peran cokelat dalam kondisi stres?

 

Sebelumnya, mari kita berkenalan dulu dengan jenis-jenis cokelat pada umumnya, cek juga artikel ini ya. Terdapat berbagai variasi jenis cokelat yang beredar di pasaran. Untuk cokelat padat sendiri, yang kita sering dengar ada milk chocolate, dark chocolate, dan white chocolate. Yang membedakan ketiga jenis cokelat itu adalah dari komposisi bahan penyusunnya. Perbedaan bahan penyusun ini pastilah memberikan dampak yang berbeda pula terhadap tubuh manusia. Dari ketiga jenis cokelat padat yang disebutkan, dark chocolate adalah varian yang mengandung kakao yang paling tinggi. Jumlah kandungannya sendiri berbeda-beda setiap produk, mulai dari 35 persen hingga 100 persen. Kakao mengandung antioksidan flavonoid, salah satu jenis dari kelas antioksidan polifenol. Selain itu, kakao juga kaya akan epikatekin, katekin, dan prosianidin (2).

 

Flavonoid, berdasarkan beberapa penelitian, dapat menurunkan tekanan darah. Sehingga dengan mengonsumsi flavonoid, naiknya tekanan darah pada kondisi stres dapat turun. Konsumsi dark chocolate juga terbukti menurunkan hormon-hormon stres yaitu kortisol dan epinephrine (3), walaupun mekanisme yang jelas belum ada. Perlu digaris bawahi bahwa peran dari hormon-hormon stres, tidaklah sebatas mempengaruhi mood yang jelek. Kondisi stres berat pada seseorang juga tidak hanya mempengaruhi mood. Banyak hal yang lebih kompleks dari itu. Studi literatur bahkan banyak membahas kaitan stres dengan penyakit seperti angina pectoris, atherosclerosis, stroke, bahkan kanker (3,4).

 

Kortisol sendiri memiliki peran dalam metabolisme energi. Kortisol menstimulasi konversi asam amino dan substrat lain menjadi glukosa dalam liver dan membantu pemecahan protein sehingga dapat meningkatkan kadar gula darah (5). Peningkatan kadar gula ini yang sebenarnya perlu diwaspadai. Cokelat yang dijual kepada masyarakat kebanyakan adalah jenis cokelat yang telah diproses sedemikian rupa, sehingga menjadi produk cokelat yang tinggi gula dan kadar flavonoidnya turun. Sebuah jurnal membahas perbandingan kadar fenol katekin anatara produk-produk olahan cokelat, hasilnya pada milk chocolate terdapat 15-16 mg/100 g, 48-137 mg/100 g pada dark chocolate, dan 296-327 mg/100g pada bubuk kakao (6).

 

Jadi, benar sebenarnya jika cokelat menjadi teman kita di kala stres. Hanya saja pemilihan jenis cokelatnya yang harus kita pertimbangkan. Dark chocolate yang mengandung tinggi flavonoid adalah pilihan yang tepat karena efeknya yang baik bagi tubuhmu, juga moodmu. Jadilah konsumen yang cermat dengan memperhatikan kandungan makanan. Dalam memilih cokelat, pilihlah cokelat dengan kadar cacao tinggi yang berarti memiliki lebih banyak flavonoid.

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

Nabila Prasisti S.Gz (c)
Ilmu Gizi, Universitas Brawijaya
Ketertarikan terhadap dunia kesehatan dan makanan menjadikan Nabila untuk masuk ke jurusan Ilmu Gizi. Minat tersebut sudah muncul semenjak di bangku SMA, melihat betapa terkaitnya makanan dan tubuh manusia. Pada tahun 2015, Nabila menempuh pendidikannya di Universitas Brawijaya.
Rifqi Ahmad Riyanto S.Si., M.Sc.
ITB - Mikrobiologi, KNRTU - Food Technology
Kazan National Research Technological University, Rusia menjadi tempat menempuh pendidikan magister bagi Rifqi saat ini dalam bidang Teknologi Pangan. Selain aktif dalam bidang sains, saat ini juga aktif sebagai relawan untuk salah satu lembaga non-profit yang bergerak di bidang sosial.