Daging Makanan Penyebab Kanker ?

Daging
CC0 Public Domain

Kamu tentunya sering mendengar nasihat ‘kurangi makan daging dan perbanyak makan sayur’ bukan? Daging sering menjadi makanan yang dikaitkan sebagai penyebab penyakit, termasuk kanker. Sebenarnya benarkah daging adalah makanan penyebab kanker?

 

Terdapat berbagai jenis daging di lingkungan kita

Secara umum, kita dapat membagi jenis daging yang sehari-hari kita makan menjadi tiga jenis [1,2], yaitu:

  • Daging putih, misalnya daging ayam, kelinci, turkey, dan bebek
  • Daging merah, misalnya daging sapi, domba, kambing, kuda, dan babi.
  • Daging olahan, yaitu segala macam daging yang telah melalui proses pengawetan, baik dengan cara penggaraman, pengasapan, pengeringan, atau penambahan pengawet. Contohnya, daging ham, sosis, smoked beef, bacon, daging kalengan, kornet.

 

Tidak semua daging menyebabkan kanker

Pada tahun 2014, komite internasional untuk penelitian mengenai kanker telah mengklasifikan daging sebagai salah satu  faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit kanker, terutama kanker saluran cerna, seperti kanker usus atau sebagian kasus lainnya kanker lambung, kanker pankreas, dan kanker prostat  [1]. Beberapa hipotesis yang mendukung peningkatan risiko kanker pada orang yang banyak mengonsumsi daging adalah terbentuknya beberapa zat penyebab kanker (karsinogen) selama proses pencernaan dalam tubuh maupun proses memasak, contohnya heterosyclic amines (HACs), polycyclic aromatic hydrocarbon (PAHs), atau N-nitroso compound (NOC)[2].

 

Kabar bahagianya adalah hasil penelitian menyimpulkan hubungan antara konsumsi daging dengan kanker ini hanya ditemukan pada konsumsi daging merah dan daging olahan, sementara konsumsi daging putih tidak berhubungan dengan kanker [3]. Berbagai penelitian menunjukkan daging merah memiliki hubungan dengan peningkatan risiko kanker usus, tetapi bukti penelitian yang ditemukan cukup lemah. Walaupun begitu, ditemukan bahwa konsumsi daging merah lebih dari 100 gram/hari dapat meningkatkan risiko kanker usus sebesar 29% [3]. Oleh karena bukti penelitian cukup lemah, perlu diperhatikan gaya hidup lainnya yang dapat memicu kanker, seperti merokok, pola makan yang kurang serat, atau konsumsi alkohol yang tinggi [4]. Penting juga bagi kamu untuk memperhatikan cara memasak daging agar mengurangi timbulnya zat-zat penyebab kanker selama proses memasak.

 

Berbeda halnya dengan konsumsi daging olahan. Penelitian menunjukkan terdapat bukti yang meyakinkan bahwa konsumsi daging olahan meningkatkan risiko kanker usus. Terdapat peningkatan risiko kanker usus sebesar 18-21% untuk konsumsi daging olahan sebanyak 50 gram/hari [1–3]. Hal ini dikarenakan daging olahan mengalami berbagai macam proses pengolahan yang lebih banyak dibandingkan jenis daging lainnya sehingga memiliki kandungan zat penyebab kanker yang lebih tinggi.

 

Tips dan cara mengonsumsi daging

Yup, diluar kaitannya dengan kanker, daging merupakan sumber protein yang sempurna dan mengandung seluruh asam amino esensial. Tidak hanya itu, daging juga mengandung berbagai vitamin dan mineral, seperti vitamin B12, vitamin B2, vitamin B6, Zat Besi, Zink, Selenium. Beberapa jenis daging juga memiliki kandungan asam lemak omega-3 yang baik untuk kesehatan [5].

 

Beberapa tips dan cara untuk konsumsi daging tanpa khawatir dengan risiko kanker:

  • Pilih jenis daging putih dan daging merah dibandingkan daging olahan.
  • Konsumsi daging merah sebaiknya dibatasi <100 gram/hari. Jika ingin mengonsumsi lebih banyak, kamu dapat memperoleh sumber protein hewan dari jenis daging lainnya, seperti ayam atau bebek. Tapi, ingat jangan sampai berlebihan kalori dan membuatmu kegemukan!
  • Jika kamu memiliki akses untuk mendapatkan daging organik atau daging dari hewan yang diberi makan rumput, sebaiknya memilih daging tersebut dibandingkan dengan daging dari hewan yang diberi biji-bijian. Daging jenis ini memiliki kandungan omega-3 yang lebih tinggi.
  • Hindari memasak dengan suhu sangat tinggi, sebaiknya memilih cara memasak dengan merebus, mengukus, atau memanggang. Memasak dengan suhu sangat tinggi dapat meningkatkan kandungan heterosyclic amines (HACs) dan polycyclic aromatic hydrocarbon (PAHs) dalam daging. Keduanya merupakan zat penyebab kanker.
  • Mengonsumsi makanan tinggi serat dan menerapkan gaya hidup yang sehat, seperti tidak merokok atau minum alkohol.

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. Red and Processed Meat and Colorectal Cancer Incidence: Meta-Analysis of Prospective Studies: e20456

Tentang Penulis dan Penyunting

dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...
I.D.G.S. Deva, S.Si. M.P.H
ITB - Mikrobiologi, Imperial College London - Public Health
Deva menyelesaikan jenjang pendidikan magister di Imperial College London dengan jurusan Public Health. Sebelumnya ia lulus dari program studi Mikrobiologi di Institut Teknologi Bandung. Ketertarikan akan penyakit infeksi sejak dari menempuh sarjana, kemudian dibawa dalam jenjang magister dengan mempelajari kesehatan masyarakat yang lebih menekankan pada sisi pencegahan penyakit dalam skala...
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.