Debunking the Myth of Food Combining

Pola makan itu penting.

Tidak dapat dipungkiri bahwa hidup yang sehat itu erat dengan makanan yang kita konsumsi. Tidak heran bahwa pola makan mendapat perhatian yang sangat besar dalam menjalani hidup sehat. Keinginan untuk hidup sehat mengakibatkan munculnya berbagai jenis diet yang mengutamakan penurunan berat badan secara drastis dan instan. Namun sebaiknya sebelum memulai diet tertentu, kita menginformasikan diri sebaik-baiknya dan mencari rekomendasi dari ahli gizi. Hal ini disebabkan banyaknya pola makan atau diet yang menjadi populer tetapi tidak didukung oleh penelitian ilmiah. Pola diet seperti ini disebut sebagai fad diet. Food Combining merupakan salah satu contoh dari fad diet.   

 

Food combining adalah salah satu pola makan yang sudah cukup lama populer di kalangan masyarakat. Pada intinya, Food combining mengelompokkan makanan ke dalam beberapa kelompok umum (contohnya daging, karbohidrat, buah, sayur) dan menganjurkan konsumsi makanan dengan urutan dan kombinasi tertentu. Salah satu pencetus awal diet ini adalah Dr Hay, seorang dokter bedah lulusan tahun 1891 dari New York University School of Medicine. Oleh karena itu, pola makan Food Combining sering juga disebut sebagai Hay’s Diet. [1]

 

Dr. Hay awalnya adalah dokter bedah yang memiliki pandangan bahwa ilmu bedah lebih utama peranannya dalam kesehatan daripada gizi. Dr Hay menulis buku yang memaparkan berbagai peraturan pola makan dan penjelasannya setelah beliau mengalami perbaikan kesehatan di saat dirinya mulai memperhatikan pola makannya. [1]

 

 

Makan daging jangan di saat yang sama dengan karbohidrat.

Ini adalah salah satu larangan pemikiran Food combining yang diusulkan oleh Dr. Hay. Larangan ini berasal dari pengamatan bahwa karbohidrat akan dicerna dengan lebih baik dalam kondisi yang basa (dalam pH tinggi). Makanan yang asam (seperti buah-buahan) atau yang menstimulasi asam lambung (seperti protein) dianggap dapat menetralisir kondisi lambung sehingga karbohidrat tidak akan tercerna secara sempurna. [1]

Penjelasan di atas kurang tepat karena dua hal. 

  1. Pertama, lambung akan menghasilkan asam lambung untuk mempertahankan pH yang rendah (kondisi asam pH 2-4) terlepas dari jenis makanan yang dimakan. 
  2. Kedua, karbohidrat dan protein sudah ada mekanisme pencernaan masing-masing yang tidak akan saling menetralisir. Protein akan dicerna oleh enzim pepsin yang akan aktif dalam kondisi asam, maka pencernaan protein terjadi di dalam lambung yang memiliki kondisi asam. Sementara itu, karbohidrat memang membutuhkan kondisi basa untuk dicerna, maka dalam pencernaan manusia, setelah melewati perut, makanan akan bergerak menuju usus kecil. Di saat ini, hati akan menghasilkan empedu, zat yang basa dan menetralisir makanan di usus kecil. Pankreas akan memproduksi berbagai enzim yang mencerna karbohidrat, lemak dan protein secara lebih lanjut. [2]

 

Lebih lengkap tentang pencernaan bisa di baca di sini untuk pencernaan protein.

 

Apa bukti ilmiahnya?

Meskipun ada banyak artikel dari internet maupun buku popular yang menjelaskan prinsip-prinsip Food combining, studi ilmiah yang mempelajari diet ini sangatlah terbatas. Di dalam satu studi yang mempelajari efektifitas Food combining, tidak ditemukan adanya perbedaan signifikan di antara pola makan yang menggunakan metode Food combining dan pola makan yang seimbang. Dalam penelitian tersebut, jumlah asupan gizi pada kedua pola makan dipastikan sama, hanya untuk Food combining asupan gizi dimakan secara terpisah sementara untuk pola makan seimbang asupan gizi dimakan pada saat bersamaan. [3]

 

Studi lain menemukan bahwa konsumsi protein di saat bersamaan dengan karbohidrat membantu menstimulasi ekskresi insulin. Insulin ini akan berperan menstabilkan gula darah supaya tidak naik secara signifikan. Dengan begitu, memakan daging bersamaan dengan memakan karbohidrat memiliki manfaat yaitu dapat mengurangi resiko naiknya kadar gula darah [4,5].

 

Jadi, sistem pencernaan manusia dapat mencerna berbagai jenis makanan sekaligus dan kita tidak perlu mengonsumsi makanan dengan urutan tertentu. Ditambah lagi menurut penelitian-penelitian [4,5], memakan berbagai jenis makanan sekaligus memberikan manfaat bagi kita. Jadi makan nasi dan ayam tidak masalah bagi pencernaan kita ya! 

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. The effects of fat and protein on glycemic responses in nondiabetic humans vary with waist circumference, fasting plasma insulin, and dietary fiber intake

  2. Your Digestive System and How It Works | National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK)

  3. Similar weight loss with low-energy food combining or balanced diets.

    Golay A, Allaz A-F, Ybarra J, Bianchi P, Saraiva S, Mensi N, et al.. Similar weight loss with low-energy food combining or balanced diets. International Journal of Obesity & Related Metabolic DisordersInternational Journal of Obesity & Related Metabolic Disorders [Internet]. 2000;24(4):492. http://ludwig.lub.lu.se/login?url=http://search.ebscohost.com/login.aspx?direct=true&db=a9h&AN=8854557&site=eds-live&scope=site

Tentang Penulis dan Penyunting

Dipl-Ing A. Chrisant R. S.T., M.Sc.
SGU - Food Technology, AgroParisTech, Dublin Institute of Technology, Lund University - Food Innovation and Product Design
Chrisant sekarang sedang memperkaya ilmunya dalam Erasmus Mundus Master Course of Food Innovation and Product Design (FIPDes). Seorang dengan ketertarikan terhadap dunia internasional, Chrisant memanfaatkan setiap kesempatan untuk traveling untuk melihat bagaimana beragam cara orang menjalani hidup. Seringkali juga, traveling membantu Chrisant menemukan kesukaannya yang lain, yaitu makanan.
Tessa A. S. B.AS., M.Sc.
Haagse Hogeschool - Process and Food Technology, University of Helsinki - Food Science, Restauranter
Memiliki passion di bidang pangan yang tertanam sejak dini karena usaha rumah makan milik keluarganya. Tahun 2007, hijrah ke Den Haag, Belanda untuk meraih gelar sarjana di bidang Process and Food Technology (Haagse Hogeschool). Melanjutkan magisternya di bidang Food Science di University of Helsinki, Finlandia. Sejak Februari 2014, Tessa kembali ke tanah air untuk mengembangkan bisnis rumah...
Afina Nuur F. M. S.Si., M.Sc.
ITB - Mikrobiologi, Lund University - Food Technology and Nutrition
Afina menyelesaikan studi magister di Lund University, Swedia tahun 2016 dengan jurusan Food Technology and Nutrition. Sebelumnya di tahun 2013 ia mendapatkan gelar sarjana pada bidang Mikrobiologi, Institut Teknologi Bandung. Kedua background keilmuan tersebut membuatnya tertarik untuk mempelajari lebih lanjut mengenai proses fermentasi makanan dan food safety.
dr. T.R. Basuki M.D., M.P.H., Ph.D
Reviewer, Medical Doctor, Master - Public Health, PhD - Fetal Medicine, Barcelona University, Lund University
Dr. Basuki menyelesaikan pendidikan S3 (PhD) di Barcelona Spanyol dan Lund Swedia. Topik S3 Dr. Basuki adalah Fetal Medicine yang merupakan program bersama Barcelona University dan Lund University. Sebelumnya Dr. Basuki juga menempuh pendidikan S2 di bidang Public Health di 3 universitas di eropa dengan beasiswa Erasmus Mundus.
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.