Expert Chat: Bahan yang baik untuk kemasan makanan

semangka

Kembali lagi bersama expert chat Zywie Laboratorium. Topik kali ini adalah kemasan makanan.

 

Di artikel sebelumnya, pakar-pakar Zywie Laboratorium memberikan pendapat mereka mengenai apakah koran bekas aman untuk bungkus gorengan atau tidak.

 

Di expert chat kali ini, dua pakar Zywie Laboratorium akan memberikan pendapat mereka mengenai bahan yang aman untuk kemasan makanan.

 

Yuk kita simak diskusi pakar-pakar dari Zywie Laboratorium

 

Jadi bahan apa yang baik dipakai untuk kemasan makanan ?

 

Dipl-Ing A. Chrisant R. S.T., M.Sc.

Food Innovation and Product Design

 

Kemasan makanan ada bermacam-macam. Kemasan yang paling baik adalah yang sesuai dengan jenis makanan atau jenis produknya. Contohnya, supaya roti dan sayur tetap fresh butuh kemasan dan cara pengemasan yang berbeda. Bahkan, beda jenis sayurpun kemasan dan cara pengemasannya berbeda.

 

Lalu alangkah baiknya juga dilihat tujuan dari pengemasan tersebut. Apakah untuk menjaga kesegaran, menjaga kualitas produk atau menjaga lingkungan. Kemudian kita juga harus melihat sistem daur ulang tempat makanan itu diproduksi. Contohnya, gelas / kaca itu sangat bagus untuk kemasan karena bisa di daur ulang 100 persen. Tetapi, karena infrastruktur di Eropa jauh lebih baik untuk mendaur ulang gelas / kaca daripada di Indonesia, maka suatu perusahaan bisa saja mempunyai 2 kemasan yang berbeda untuk produk yang sama.

 

Tessa A. S. B.AS., M.Sc.

Process and Food Technology, Food Science, Restauranter

 

Saya setuju dengan Crisant kalau bahan yang paling bagus adalah dari jenis makanannya. Kemasan konvesional yang tidak bereaksi dengan makanan dan sustainable adalah gelas / kaca. Kelemahannya adalah memakan tempat, berat dan rentan.

 

Kalaupun menggunakan plastik, pilihlah jenis plastik yang paling aman sebagai kemasan makanan.

 

Jangan menggunakan plastik dengan jenis Polycarbonate dan PVC. Hal ini dikarenakan Polycarbonate bisa mencemari makanan dengan Bisphenol A (BPA) dan PVC biasanya menggunakan Phthalates dan epoxidised soybean oil (ESBO) untuk plasticisers sampai dengan 40% suapaya PVC menjadi lunak dan fleksibel. BPA dan Phthalates dapat menyebabkan kemandulan, kegemukan, kanker payudara, kanker prostate, penyakit jantung dan diabetes. [1] Pilihlah plastik dengan jenis Polyethylene terephthalate (PET), High density polyethylene (HDPE), Low density polyethylene (LDPE), Polypropylene (PP). [1]

 

Nah jadi kesimpulan dari diskusi ini adalah kemasan yang baik adalah kemasan yang sesuai dengan tujuan pengemasan berdasarkan jenis makanan atau produk yang dikemas.

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

Dipl-Ing A. Chrisant R. S.T., M.Sc.
SGU - Food Technology, AgroParisTech, Dublin Institute of Technology, Lund University - Food Innovation and Product Design
Chrisant sekarang sedang memperkaya ilmunya dalam Erasmus Mundus Master Course of Food Innovation and Product Design (FIPDes). Seorang dengan ketertarikan terhadap dunia internasional, Chrisant memanfaatkan setiap kesempatan untuk traveling untuk melihat bagaimana beragam cara orang menjalani hidup. Seringkali juga, traveling membantu Chrisant menemukan kesukaannya yang lain, yaitu makanan.
Tessa A. S. B.AS., M.Sc.
Haagse Hogeschool - Process and Food Technology, University of Helsinki - Food Science, Restauranter
Memiliki passion di bidang pangan yang tertanam sejak dini karena usaha rumah makan milik keluarganya. Tahun 2007, hijrah ke Den Haag, Belanda untuk meraih gelar sarjana di bidang Process and Food Technology (Haagse Hogeschool). Melanjutkan magisternya di bidang Food Science di University of Helsinki, Finlandia. Sejak Februari 2014, Tessa kembali ke tanah air untuk mengembangkan bisnis rumah...