Expert Chat: Seberapa Besar Manfaat Susu Sapi ?

Susu Sapi

Masih ingat dengan slogan 4 sehat 5 sempurna? Ya, slogan yang sering terdengar ini melibatkan komponen susu, minuman yang dianggap memiliki nilai gizi yang beragam. Karena slogan tersebut, susu dianggap sebagai kesempurnaan diet sehari-hari kita. Namun, beberapa praktisi kesehatan mulai menyatakan bahwa susu justru kurang bermanfaat untuk kesehatan tubuh.

 

Para ahli di Zywie Laboratorium pun telah berdiskusi mengenai peranan susu di 4 sehat 5 sempurna, yang dibungkus dalam expert chat di bawah ini.

 

Jadi, apakah susu sapi ada manfaatnya?
 

Rifqi Ahmad Riyanto S.Si., M.Sc. (c)
Food Technology

Susu sapi memang paling cocok diminum oleh anak sapi. Namun, susu tetap memiliki kandungan gizi yang beragam. Dengan teknologi yang ada saat ini, susu bisa diformulasi atau ditambahkan berbagai macam zat gizi, baik vitamin atau mineral. Jadi, saya rasa susu memiliki manfaat tersendiri.

 

Afina Nuur F. M. S.Si., M.Sc. 
Food Technology and Nutrition

Contoh mineral yang paling banyak dalam susu adalah kalsium. Dari berbagai penelitian yang ada, konsumsi susu memiliki efek yang menguntungkan terhadap kesehatan tulang pada anak-anak.

 

A. F. Asna S.Gz., M.P.H. 
Ilmu Kesehatan Masyarakat

Dari segi protein, protein susu memiliki nilai net protein utilization (NPU) yang tinggi, artinya jumlah asam-amino yang dimanfaatkan lebih tinggi. Hal ini dikarenakan proses pencernaan protein susu yang sempurna sehingga asam amino hasil pencernaan protein juga diserap lebih sempurna.

 

Aziz J. S.Gz., M.Gz. 
Community Nutrition

Benar, hal yang terlalu ekstrim untuk mengatakan susu tidak ada manfaatnya. Pada beberapa kasus, seperti malnutrisi atau gizi buruk pada anak-anak, formulasi terapinya berbasis susu.

 

Lalu, mengapa ada praktisi kesehatan yang menyatakan susu sapi kurang bermanfaat?

 

Aziz J. S.Gz., M.Gz.
Community Nutrition

Saya rasa praktisi kesehatan ingin mengubah persepsi sebagian besar masyarakat mengenai susu sapi dengan berbagai macam ‘klaim’ kesehatannya. Salah satu pengaruhnya karena slogan ‘4 sehat 5 sempurna’ dimana susu merupakan komponen nomor 5, seolah-olah diet tanpa susu menjadi tidak sempurna. Masyarakat perlu mengetahui bahwa slogan tersebut sudah tidak digunakan lagi dalam dunia gizi dan kesehatan. Pedoman yang digunakan sekarang adalah Pedoman Gizi Seimbang yang menggunakan konsep perhitungan zat gizi yang diperlukan sesuai kelompok umur masing-masing.

 

Tessa A. S. B.AS., M.Sc. 
Food Science

Sebagai tambahan, data menyebutkan 95-100% orang Asia secara genetik mengalami intoleransi laktosa [1], berbeda dengan orang ras eropa atau kaukasian. Intoleransi laktosa ini menimbulkan berbagai gangguan pencernaan. Selain itu, susu juga memiliki kalori yang tinggi dengan kualitas gizi yang kurang. Hal ini dikarenakan banyak susu saat ini diolah berlebihan sehingga kualitas gizinya menurun. Padahal, zat gizi dalam susu seperti kalsium, kadar yang sama dari susu bisa diperoleh dari sumber lainnya, misalnya dari brokoli dan sayuran hijau lainnya.

 

Rifqi Ahmad Riyanto S.Si., M.Sc. (c)
Food Technology

Benar sekali, proses pengolahan susu berpengaruh terhadap nilai gizinya, bahkan produk yoghurt dari susu yang diolah memiliki nilai gizi berbeda.

 

Bagaimana sebaiknya rekomendasi konsumsi susu? Apakah perlu dibatasi?
 

Tessa A. S. B.AS., M.Sc. 
Food Science

Seperti yang telah dijelaskan, susu sapi ada manfaatnya, namun manfaatnya terbatas. Contoh manfaatnya terlihat jelas pada kasus malnutrisi. Namun, konsumsi susu atau dairy product sebagai makanan sehari-hari tidak disarankan. Pedoman dari Harvard Medical School bahkan hanya menganjurkan porsi susu dan dairy product sekitar 1-2 porsi/hari. [2]

 

Afina Nuur F. M. S.Si., M.Sc. 
Food Technology and Nutrition

Setuju, konsumsi susu bukanlah sebuah keharusan. Namun, patut diperhatikan asupan kalsium dari sumber lainnya jika ingin membatasi konsumsi susu.

 

Rifqi Ahmad Riyanto S.Si., M.Sc. (c)
Food Technology

Pada intinya, susu bukanlah pengganti makanan. Jadi, utamakan mengonsumsi nasi, sayuran, dan produk makanan alami.

 

Disunting oleh : dr. Besthari Anindita Pramitasari

Expert chat adalah diskusi para kontributor Zywie Laboratorium terhadap topik dan isu di masyarakat. 

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

Rifqi Ahmad Riyanto S.Si., M.Sc.
ITB - Mikrobiologi, KNRTU - Food Technology
Kazan National Research Technological University, Rusia menjadi tempat menempuh pendidikan magister bagi Rifqi saat ini dalam bidang Teknologi Pangan. Selain aktif dalam bidang sains, saat ini juga aktif sebagai relawan untuk salah satu lembaga non-profit yang bergerak di bidang sosial.
Afina Nuur F. M. S.Si., M.Sc.
ITB - Mikrobiologi, Lund University - Food Technology and Nutrition
Afina saat ini sedang menjalani masa studi magister di Lund University, Swedia sejak tahun 2014 dengan jurusan Food Technology and Nutrition. Sebelumnya di tahun 2013 ia mendapatkan gelar sarjana pada bidang Mikrobiologi, Institut Teknologi Bandung. Kedua background keilmuan tersebut membuatnya tertarik untuk mempelajari lebih lanjut mengenai proses fermentasi makanan dan food safety.
A. F. Asna S.Gz., M.P.H.
UGM, Gizi, Ilmu Kesehatan Masyarakat
Asna merupakan lulusan S1 Gizi dari Universitas Gadjah Mada dan melanjutkan pendidikan S2 Gizi Masyarakat ditempat yang sama. Asna saat ini bekerja menjadi seorang tenaga pendidik di salah satu Perguruan Tinggi swasta di Bekasi, Jawa Barat.
Tessa A. S. B.AS., M.Sc.
Haagse Hogeschool - Process and Food Technology, University of Helsinki - Food Science, Restauranter
Memiliki passion di bidang pangan yang tertanam sejak dini karena usaha rumah makan milik keluarganya. Tahun 2007, hijrah ke Den Haag, Belanda untuk meraih gelar sarjana di bidang Process and Food Technology (Haagse Hogeschool). Melanjutkan magisternya di bidang Food Science di University of Helsinki, Finlandia. Sejak Februari 2014, Tessa kembali ke tanah air untuk mengembangkan bisnis rumah...
dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...
Aziz J. S.Gz., M.Gz.
UGM - Nutrition Science, UI - Community Nutrition
Kegiatan sehari-harinya sekarang adalah mahasiswa magister gizi masyarakat dan pendidik gizi yang sangat suka mengutak-atik teknologi komputer. Kecintaannya dengan aktivitas berbagai informasi dan pengetahuan untuk orang lain, khususnya terkait gizi dan kesehatan membuatnya suka dengan kegiatan pendidikan gizi. Saat ini, dia juga aktif dibeberapa organisasi terkait gizi dan kesehatan. Sangat...