Fakta atau Hoaks: Sereal dapat ditarik magnet?

Adakah di antara kamu yang suka sarapan pagi dengan sereal? Sereal merupakan produk makanan terbuat dari biji-bijian yang biasanya dimakan ketika sarapan. Di Indonesia, produk-produk sereal mungkin belum banyak diminati. Tapi di barat, produk ini merupakan salah satu makanan wajib di pagi hari. 

 

Sereal dikembangkan oleh John Harvey Kellogg pada tahun 1895 seiring dengan adanya gerakan hidup sehat pada abad ke-19. Gerakan ini menekankan agar penduduk Amerika Serikat mengurangi konsumsi daging saat sarapan dan lebih memilih produk vegetarian. Ciri khas dari makanan ini adalah teksturnya yang renyah dengan kadar air yang rendah dan biasanya disajikan dengan susu. Di pasaran, sereal banyak dijumpai dalam bentuk serpihan (flake), parutan (shredded), kembung (puffed), dan esktrusi (extruded).

 

Karena terbuat dari biji-bijian, sereal kaya akan serat sehingga bagus untuk pencernaan. Selain itu, produk ini juga mengandung gula, lemak, garam, beberapa vitamin, dan juga mineral [1]. Dan uniknya, ternyata cereal dapat ditarik magnet.

 

Kok bisa? Ingin buktikan sendiri? Cobalah lakukan percobaan sederhana berikut ini.

 

Pertama, siapkan sereal favoritmu, satu piring yang diisi air, dan sebatang magnet. Kemudian, letakan satu keping sereal di atas air pada piring. Dekatkan batang magnet ke kepingan sereal sampai ujungnya saling berdekatan. Usahakan agar batang magnet tidak sampai tercelup air. Kemudian, tunggu beberapa saat sampai kepingan sereal mulai bergerak mendekati batang magnet. Jika berhasil, kamu akan melihat fenomena seperti pada Video berikut.

 

Video. Percobaan menarik sekeping sereal dengan batang magnet (gif file). Gambar ini berasal dari video yang dipercepat 20 kali.

 

Menarik bukan? Nah, pertanyaannya, kenapa sereal bisa ditarik magnet?

 

Jawabannya karena sereal tersebut mengandung besi. Kamu pasti tahu kalau besi adalah logam yang dapat ditarik magnet, kan? Dan jika dilihat komposisi sereal tersebut pada boks kemasannya, kamu akan temukan berapa banyak kadar zat besi di dalamnya. Sebagai catatan, kalau percobaanmu tidak berhasil, ada kemungkinan karena kadar besi pada serealnya rendah atau magnetnya kurang kuat.

 

Hubungannya dengan Zywielab apa?

 

Tentu saja, artikel ini dibuat bukan sekedar untuk lucu-lucuan. Percobaan tadi dilakukan untuk menjukkan bahwa sereal mengandung besi. 

 

Pada artikel sebelumnya, telah dibahas mengenai pentingnya zat besi bagi tubuh dan dibahas juga beberapa sumber zat besi, baik dari sumber hewani maupun nabati. Ternyata, zat besi dari sumber hewani terdiri dari dua jenis, yaitu besi heme (senyawa siklik porphyrin dengan ion besi di tengahnya, biasanya berfungsi sebagai komponen penangkap/pembawa oksigen pada hemoglobin, myoglobin, dan sitokrom; lihat artikel sebelumnya) dan non-heme (zat besi-nya bukan bagian dari heme, tapi berada dalam bentuk lain seperti pada kompleks Besi-Belerang (Fe-S), tersimpan dalam ferritin, dan lainnya). Sedangkan dari sumber nabati, biasanya hanya berbentuk besi non-heme. 

 

Berdasarkan hasil penelitian, besi dalam bentuk heme lebih mudah diserap tubuh (sebesar 15-35%) dibandingkan besi non-heme (3-20%) [2]. Beberapa penyebab rendahnya penyerapan zat besi dari sumber nabati adalah karena adanya zat penghambat absorbsi besi seperti phytate (senyawa siklik tempat penyimpanan fosfor pada tanaman; banyak terkandung pada biji dan kulitnya), polyphenol, dan juga kalsium [3]. Pengolahan makanan dengan cara pemanasan, perendaman, fermentasi, pengecambahan, dan penggilingan dapat menghilangkan phytate sehingga meningkatkan penyerapan zat besi oleh tubuh [3].

 

Seperti yang kita ketahui, kekurangan zat besi sangat umum terjadi dan saat ini, lebih dari 2 milyar penduduk dunia menderita anemia karenanya [4]. Untuk menjaga kecukupan zat besi pada tubuh, salah satu carannya adalah dengan menambahkan sejumlah kecil zat besi ke alam produk makanan. Sekitar 25% total asupan zat besi di Swedia dan Amerika Serikat berasal dari zat besi tambahan tersebut [5]. Menurut WHO, beberapa senyawa besi yang dapat digunakan sebagai tambahan adalah Besi (II) sulfat, Besi (II) fumarat, Besi (III) pyrofosfat, dan serbuk besi hasil elektrolisis [6]. 

 

Sereal merupakan salah satu produk makanan yang biasanya diberikan tambahan zat besi. Akan tetapi, hasil penelitian menunjukkan bahwa tambahan besi tersebut tidaklah dapat diserap secara efektif oleh tubuh, di bawah besi heme dan non-heme [7]. Selain itu, beberapa produk sereal menggunakan besi tambahan yang tidak direkomendasikan oleh WHO dan memiliki tingkat penyerapan oleh tubuh yang lebih rendah lagi [3]. Walaupun demikian, konsumsi sereal dengan jus jeruk dapat meningkatkan penyerapannya oleh tubuh [8]. Hal ini terjadi karena asam askorbat (vitamin C) yang terkandung pada jus jeruk dapat meningkatkan kelarutan zat besi sehingga memudahkan penyerapannya. Selain itu, vitamin A juga memiliki efek yang sama dengan vitamin C dalam meningkatkan absorbsi zat besi [9]. 

 

Berdasarkan hasil-hasil penelitian tersebut, berikut ini rekomendasi diet yang perlu dilakukan agar dapat mengoptimalkan penyerapan zat besi oleh tubuh [10]:

  1. Perbanyak asupan makanan dari sumber hewani yang mengandung besi heme. Daging dan ikan juga ternyata dapat meningkatkan penyerapan zat besi non-heme baik dari sumber hewani maupun nabati.
  2. Perbanyak asupan vitamin C ketika makan, contohnya dengan minum jus jeruk ketika makan atau setelahnya.
  3. Hindari sumber makanan yang mengandung zat penghambat absorbsi (anti nutrient) besi seperti teh dan kopi ketika makan. Hal ini karena teh dan kopi kaya akan polifenol dan phytate; zat penghambat absorpsi besi. Sebaiknya, teh atau kopi dikonsumsi diantara waktu makan (misalnya antara waktu makan siang dan makan malam), tidak ketika makan. Kalau memaksa ingin minum teh atau kopi setelah makan, sebaiknya diimbangi dengan minum jus yang mengandung vitamin C sehingga efek inhibisinya bisa dikurangi.
  4. Makan sereal yang telah ditambahkan zat besi tambahan. Walaupun penyerapan zat besinya rendah, kombinasi dengan jus jeruk atau sumber vitamin C lainnya dapat meningkatkan penyerapannya.

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. Estimation of available dietary iron.

  2. Iron bioavailability and dietary reference values

  3. Iron requirements in menstruating women.

  4. Approaches to Improve Iron Bioavailability from Complementary Foods

  5. The role of vitamin A on the inhibitors of nonheme iron absorption: Preliminary results

    Layrisse M, García-Casal MNieves, Solano L, Baron MAdela, Arguello F, Llovera D, et al.. The role of vitamin A on the inhibitors of nonheme iron absorption: Preliminary results. Journal of Nutritional BiochemistryJournal of Nutritional Biochemistry [Internet]. Elsevier; Submitted;8(2):61 - 67. http://dx.doi.org/10.1016/S0955-2863(96)00174-X

Tentang Penulis dan Penyunting

Keni Vidilaseris, PhD
ITB-Kimia, Biokimia; PhD- Biologi struktural, Vienna University
Keni adalah seorang peneliti di Departemen Biokimia, Universitas Helsinki, Finlandia sejak tahun 2014. Fokus penelitiannya adalah penentuan struktur protein membran dari parasit penyebab malaria, toksoplasmosis, dan juga sleeping sickness sebagai target pengobatan. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana dan masternya dari program studi Kimia di Institut Teknologi Bandung. Pendidikan Doktoralnya ia...
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.