Fakta atau Hoax: 8 Mitos dan Fakta Penyebab Perut Buncit dan Cara Mengatasinya

Mitos dan fakta perut buncit dan obesitas

Perut buncit menjadi penyebab masalah bagi banyak orang. Oleh karenanya, banyak orang mencari beragam informasi mengenai penyebab perut buncit, pola makan dan jenis makanan penyebab perut buncit, hingga cara mengatasi perut buncit. Tapi, sejauh mana kebenaran informasi tersebut?

 

 

1. Orang tua buncit, anak pun buncit

Faktor genetik yang menentukan komposisi lemak tubuh berlebih (obesitas) memang ada, tetapi sebenarnya pengaruh genetik terhadap timbulnya obesitas terhitung cukup rendah, yaitu sekitar 6-11% saja. Oleh karenanya faktor genetik saja tidak cukup menjelaskan timbulnya obesitas[1]. Berbeda halnya dengan kecenderungan tubuh untuk menyimpan lemak. Berbagai studi menyampaikan bahwa faktor genetik memberikan pengaruh yang besar terhadap lokasi akumulasi lemak tubuh [1]. Jadi, bisa jadi genetik mempengaruhi kecenderungan tubuh kamu menyimpan lemak di perut. Namun, sebenarnya jika lemak tubuhmu tidak berlebih, perut kamu tidak membuncit. Semua tergantung pola makan dan aktivitas kamu!

 

2. Makan malam hari menyebabkan perut buncit

Tubuh kita memiliki ritme tersendiri selama 24 jam dan mengkonsumsi makanan di waktu yang tidak biasa, seperti malam hari bisa jadi membuat tubuh ‘tidak siap’ menerima makanan [2,3]. Namun, mengatakan faktor tersebut menjadi satu-satunya faktor penyebab perut buncit terlalu berisiko karena tubuh manusia sangat kompleks [2,3]. Prinsipnya, selama jumlah kalori yang masuk dari makanan tidak berlebihan, berat badan akan stabil. Hal ini tidak berarti bahwa ritme 24 jam dalam tubuh kita tidak penting. Jika kamu tidak mengalami kegemukan akibat makan di malam hari, kamu mungkin memiliki gangguan lain seperti kondisi sleep deprivation (kurang tidur), stress, gangguan konsentrasi, gangguan hormonal, dll. Semua gangguan yang disebutkan tersebut bisa berujung terhadap peningkatan pola makan yang akhirnya menyebabkan perut buncit [4].

 

3. Makanan tinggi lemak adalah penyebab perut buncit

Mengurangi konsumsi makanan berlemak memang dapat mengatasi perut buncit [5]. Namun, hal ini berlaku jika kamu mengkonsumsi makanan tidak melebihi jumlah kalori yang dibutuhkan. Artinya, lemak bukan penyebab utamanya. Bahkan, terdapat diet rendah karbohidrat, tinggi protein dan lemak yang  sudah diketahui berguna untuk menurunkan berat badan dan mengatasi perut buncit [6].

 

4. Kurangi makanan saja bisa mengatasi perut buncit

Prinsip menurunkan berat badan adalah jumlah kalori masuk harus lebih rendah dari yang dikeluarkan. Namun, tubuh kita tidak hanya berisi lemak, tetapi juga otot dan cairan. Kamu tentu akan mengalami penurunan berat badan ketika mengurangi porsi makanan, tetapi kamu tidak bisa menjamin bahwa lemak tubuh kamu yang berkurang, bisa jadi otot atau cairan tubuhmu yang berkurang [1]. Jadi, kurangi makanan saja belum tentu mengurangi lemak penyebab perut buncit!

 

5. Terdapat makanan tertentu yang menjadi penyebab perut buncit

Pernah mendengar es (minuman dingin) atau susu menyebabkan perut buncit? Sejauh ini, tidak ada penelitian yang dapat membuktikan makanan spesifik yang menyebabkan perut buncit [1]. Apa yang terkandung dalam makanan/minuman lebih penting. Analisis penelitian menyatakan terdapat jenis zat, seperti fruktosa (gula) yang sering terdapat pada minuman kemasan, kue, permen, coklat berkaitan terhadap gangguan metabolik dan dapat berdampak pada peningkatan berat badan atau perut buncit [1,7].

 

6. Perut buncit tidak masalah, selama IMT masih normal

Dalam menentukan tingkat obesitas dengan risiko penyakit, ada dua cara pengukuran yang digunakan, yaitu dengan indeks massa tubuh (IMT) dan waist circumference/lingkar pinggang. Beberapa studi menunjukkan bahwa ukuran lingkar pinggang lebih berhubungan dengan faktor penyebab penyakit kardiovaskular dibandingkan dengan IMT. Dengan kata lain, walaupun IMT kamu tergolong normal, jika perut kamu buncit, kamu tetap berisiko mengalami penyakit kardiovaskular [8,9].

 

7. Mengonsumsi makanan atau minuman tertentu bisa mengatasi perut buncit

Ada beberapa makanan atau minuman yang sering dikaitkan dalam mengatasi perut buncit, diantaranya teh hijau dan yogurt. Kedua produk ini memang dapat meningkatkan proses penurunan lemak perut. Akan tetapi, konsumsi produk-produk tersebut tidak efektif tanpa disertai dengan aktivitas latihan fisik dan pola makan yang baik [10,11].

 

8. Terlalu banyak duduk menyebabkan perut buncit

Berdasarkan hasil sebuah penelitian, orang yang duduk terlalu lama cenderung memiliki lingkar pinggang yang lebih besar atau perut buncit. Terlalu lama duduk ketika bekerja atau menonton TV berhubungan erat dengan sedentary lifestyle atau kurang gerak. Jadi, bagi yang aktivitas sehari-hari banyak dihabiskan dengan bekerja duduk di depan komputer, jangan sampai lupa untuk tetap melakukan aktivitas fisik, seperti berolah raga [12].

 

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. Effect of reducing total fat intake on body weight: systematic review and meta-analysis of randomised controlled trials and cohort studies

  2. Systematic review of randomized controlled trials of low-carbohydrate vs. low-fat/low-calorie diets in the management of obesity and its comorbidities

  3. Associations between domains of physical activity, sitting time, and different measures of overweight and obesity

Tentang Penulis dan Penyunting

dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...
Arienta Rahmania P. S. S.Si., M.Sc.
ITB - Mikrobiologi, Wageningen University - Food Safety
Arien merupakan alumni dari Institut Teknologi Bandung jurusan Mikrobiologi angkatan 2009. Saat ini, ia sedang menjalani tahun keduanya sebagai mahasiswa magister, program studi Food Safety di Wageningen University, Belanda. Food microbiology dan food fermentation adalah bidang yang sudah menarik perhatiannya sejak bangku S1.