Fakta atau Hoax: Apakah benar air alkali dapat mencegah dan menyembuhkan kanker?

Akhir-akhir ini tengah ramai diperbincangkan mengenai salah satu produk air alkali yang diklaim memiliki efek menyembuhkan berbagai penyakit seperti kanker, diabetes, dll. Selain itu, air ini juga diklaim aman dikonsumsi sehari-hari dan dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Klaim ini dibantah oleh Kemenkes RI dan menginstruksikan untuk menarik semua brosur terkait hal tersebut [1]. BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) pun memberikan peringatan mengenai hal tersebut [2]. Sebenarnya, apa sih air alkali itu? Benarkah air tersebut dapat mencegah dan menyembuhkan kanker? Jawaban singkatnya adalah tidak ada dasar ilmiahnya air alkali dapat mencegah dan menyembuhkan kanker. Penjelasan lebih detail silahkan dibaca diparagraf selanjutnya.

 

Apa sih Air Alkali itu ?

 

Air alkali adalah air yang bersifat basa, memiliki pH di atas 7 (pH 7 adalah pH netral) [3]. Untuk diketahui, pH adalah skala logaritma dari keasaman suatu cairan dan memiliki skala 0 sampai 14 [3]. Buat yang ingin tahu pH itu apa bisa baca paragraf selanjutnya. Yang males baca bisa langsung ke paragraf setelahnya.

 

pH itu apa sih definisinya ?

 

pH sama dengan –10log c, dimana c adalah konsentrasi ion hidrogen (H+) dalam mol per liter [3]. Semakin besar kandungan ion hidrogen dalam suatu cairan, maka cairan tersebut lebih bersifat asam, dan semakin sedikit kandungan ion hidrogennya (H+), maka ia bersifat basa. Oleh karena itu, berdasarkan prinsip tersebut, air yang memiliki pH dibawah 7 akan bersifat asam, sedangkan air dengan pH di atas 7 memiliki sifat basa (alkali).

 

“pH atau tingkat keasaman penting untuk kehidupan”

 

Tingkat keasaman sangat berperan penting dalam kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi ini. Contohnya, pH pada lambung berada pada rentang yang sangat asam, berkisar antara pH 1,35 - 3,5. Kandungan asam yang besar ini berfungsi untuk memecahkan protein dan makromolekul lainnya yang kita makan agar dapat diserap tubuh [4]. 

 

“Minum air alkali terus menerus mungkin dapat mengurangi efektifitas proses pencernaan”

 

Ketika kita minum air alkali yang bersifat basa, maka di dalam lambung, air tersebut akan menjadi asam karena tidak dapat menetralkan asam lambung yang sudah ada di sana. Malahan, kalau kadar asamnya berkurang dan mendeakati pH netral, maka kemampuan lambung untuk memecah protein dansenyawa makromolekul lainnya pun akan berkurang sehingga proses pencernaan tidak akan sempurna [4]. 

 

“pH darah 7,35 sampai pH 7,45 dan cairan pankreas memiliki pH 8,8”

 

Contoh lainnya, darah manusia memiliki pH pada rentang pH 7,35 sampai pH 7,45. Di atas atau di bawah pH tersebut akan berbahaya bagi tubuh. Kemudian di dalam sel, cairannya memiliki rentang pH sekitar 6,0 - 7,2; sedikit asam akibat produksi asam oleh proses metabolisme di dalamnya. Sedangkan cairan pankreas memiliki pH 8,8 yang berfungsi untuk menetralisir asam lambung yang masuk ke usus. 

 

Untuk mengetahui lebih lanjut pH pada berbagai organ tubuh dan fungsinya, silahkan lihat tabel 1. Berdasarkan tabel tersebut, kita tahu bahwa tiap bagian tubuh memiliki pH-nya tersendiri, tergantung dari fungsinya. Untuk mempertahankan pH pada kisaran tersebut, tubuh pun ternyata memiliki mekanismenya tersendiri.

 

Tabel 1. pH pada beberapa cairan dan organ tubuh beserta fungsinya [5].
No. Organ, cairan, atau membran pH Fungsi pH
1 Kulit pH natural antara 4 dan 6,5 Pelindung dari mikroba
2 Urin 4,6 - 8 Membatasi pertumbuhan bakteri
3 Lambung 1,35 - 3,5 Memecah protein
4 Empedu 7,6 - 8,8 Menetralisir asam lambung, membantu pencernaan
5 Cairan pankreas 8,8 Menetralisir asam lambung, membantu pencernaan
6 Cairan vagina <4,7 Membatasi pertumbuhan mikroba berbahaya
7 Cairan serebrospinal 7,3 Mengairi bagian luar otak
8 Cairan intra sel 6 - 7,2 Karena produksi asam di dalam sel
9 Serum pembuluh vena 7,35 Diatur sangat ketat
10 Serum pembuluh arteri 7,4 Diatur sangat ketat
 

 

Bisakah air alkali mengobati kanker ?

 

Oke, sekarang kita tahu apa itu air alkali dan tingkat keasaman berbagai organ di tubuh kita, sekarang pertanyaannya, apakah air tersebut memiliki khasiat seperti yang digembar-gemborkan? Bisakah air alkali mengobati kanker?

 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti dari Kanada melakukan review sistematis terhadap publikasi dan literatur yang meneliti peran asupan diet asam-basa dan/atau air alkali terhadap pertumbuhan dan pengobatan kanker [6]. Dari 8.278 kutipan dan 252 abstrak yang teridentifikasi, hanya satu penelitian yang memenuhi kriteria analisis. Penelitian yang masuk kriteria adalah mengenai pengaruh asupan diet asam terhadap risiko terjadinya kanker kandung kemih [3]. Dari 27.096 lelaki perokok yang di analisis, ternyata tidak ada kaitan yang signifikan antara asupan diet asam terhadap terjadinya kanker kandung kemih. Hasil analisis lebih lanjut juga tidak ditemukan adanya kaitan antara asupan diet asam-basa ataupun air alkali terhadap risiko ataupun untuk pengobatan kanker jenis lainnya. Artinya, klaim bahwa diet alkali atau air alkali dapat mencegah dan mengobati kanker tidak ada dasar ilmiahnya. 

 

“Kanker memicu lingkungan di sekitarnya menjadi asam bukan karena lingkungan di sekitarnya asam lalu menyebabkan kanker”

 

Lebih lanjut lagi, disebutkan bahwa air alkali dapat mencegah pertumbuhan sel kanker karena sel-sel kanker tumbuh di lingkungan yang bersifat asam. Padahal, lingkungan asam di sekitar sel-sel kanker terjadi karena sel-sel kanker memiliki proses metabolisme yang berlangsung sangat cepat sehingga menghasilkan produk metabolisme bersifat asam yang lebih banyak dibandingkan sel-sel normal [7]. Jadi, kanker bukan terjadi karena tubuh yang bersifat asam atau karena asupan makanan yang bersifat asam. Tapi, kanker lah yang memicu lingkungan di sekitarnya menjadi lebih bersifat asam [7].

 

Kok ada yang mengkonsumsi air alkali menjadi sembuh ?

 

Oke, kalau tidak ada dasar ilmiahnya, kenapa aku (atau temanku atau saudaraku) yang mengkonsumsi air alkali tersebut menjadi merasa lebih bugar dan penyakitnya pun sembuh?

 

Ini kemungkinan besar terjadi karena efek placebo. Placebo adalah zat yang tidak memiliki efek pengobatan tetapi dapat meningkatkan status kesehatan karena pasien percaya bahwa zat tersebut dapat menyembuhkan penyakit yang dideritanya [8]. Sebuah penelitian terhadap efek placebo pada penderita asma menunjukkan bahwa baik responden yang menerima obat sesungguhnya maupun responden yang hanya mendapatkan placebo mengaku mengalami 50% peningkatan kondisi tubuh setelah mendapatkan ’pengobatan’ tersebut [9]. Hal ini juga bisa terjadi pada penderita penyakit yang mengkonsumsi air alkali tersebut, apalagi dengan adanya promosi yang besar dan terus-menerus mengenai khasiatnya yang besar. Atau, mungkin ada komponen lain dari air tersebut yang berperan? Ini masih perlu dibuktikan lebih lanjut secara ilmiah.

 

Intinya, pH asam tidak selalu buruk dan pH basa (alkali) juga tidak selalu baik, tergantung pada dimana letaknya dan fungsinya apa. Seperti dapat dilihat di tabel 1, ada bagian tubuh kita yang memiliki pH asam, ada juga yang ber-pH basa. Jika organ yang seharusnya memiliki pH asam berubah menjadi sedikit basa, maka akan berakibat buruk dan terjadi penyakit, dan begitu juga sebaliknya. 

 

Kesimpulan dari hubungan air alkali dan kanker

 

Kesimpulannya adalah tidak ada dasar ilmiah bahwa air alkali dapat menyembuhkan kanker atau mencegah kanker. Kemudian usaha untuk meminum air alkali untuk mencegah kanker berdasarkan pada pemahaman yang salah. Kanker tidak terjadi karena bagian tubuh bersifat asam, tetapi, sel kanker yang menyebabkan lingkungan disekitarnya menjadi asam. 

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. Active Albuterol or Placebo, Sham Acupuncture, or No Intervention in Asthma

    Wechsler ME, Kelley JM, Boyd IOE, Dutile S, Marigowda G, Kirsch I, et al.. Active Albuterol or Placebo, Sham Acupuncture, or No Intervention in Asthma. New England Journal of MedicineNew England Journal of Medicine [Internet]. Massachusetts Medical Society; 2011;365(2):119 - 126. http://dx.doi.org/10.1056/NEJMoa1103319

Tentang Penulis dan Penyunting

Keni Vidilaseris, PhD
ITB-Kimia, Biokimia; PhD- Biologi struktural, Vienna University
Keni adalah seorang peneliti di Departemen Biokimia, Universitas Helsinki, Finlandia sejak tahun 2014. Fokus penelitiannya adalah penentuan struktur protein membran dari parasit penyebab malaria, toksoplasmosis, dan juga sleeping sickness sebagai target pengobatan. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana dan masternya dari program studi Kimia di Institut Teknologi Bandung. Pendidikan Doktoralnya ia...
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.
Tessa A. S. B.AS., M.Sc.
Haagse Hogeschool - Process and Food Technology, University of Helsinki - Food Science, Restauranter
Memiliki passion di bidang pangan yang tertanam sejak dini karena usaha rumah makan milik keluarganya. Tahun 2007, hijrah ke Den Haag, Belanda untuk meraih gelar sarjana di bidang Process and Food Technology (Haagse Hogeschool). Melanjutkan magisternya di bidang Food Science di University of Helsinki, Finlandia. Sejak Februari 2014, Tessa kembali ke tanah air untuk mengembangkan bisnis rumah...
dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...