Fakta atau Hoax: Bayam sangat kaya akan zat besi, benarkah?

Sudah baca artikel sebelumnya? Jika sudah, maka kamu tahu jika zat besi sangat penting bagi tubuhmu. Kamu dapat memperoleh mikronutrien ini dari berbagai sumber, baik nabati maupun hewani. Katanya, salah satu sumber zat besi dari jenis nabati adalah bayam. 

 

Bayam merupakan tumbuhan hijau berasal dari Asia tengah dan Asia barat yang kaya akan vitamin A, vitamin C, asam folat, dan sejumlah mineral [1]. Sayuran ini mulai dibudidayakan di China pada abad ke-7 dan kemudian tersebar ke seluruh dunia [2]. Pada tahun 2014, produksi total bayam dunia adalah sebesar 24 juta ton dan sekitar 92,6 %-nya dihasilkan di China [3]. Indonesia pun merupakan produsen bayam terbesar ke-5 dunia dengan skala produksi sebesar 120 ribu ton pada tahun 2014 [3]. 

 

Di dunia barat, popularitas bayam terangkat berkat film kartun Popeye si Pelaut yang bisa menjadi kuat berkat memakan sekaleng bayam. Kehebatannya ini dipercaya karena bayam mengandung banyak zat besi sehingga dia bisa berotot besar dan sekuat baja setelah memakannya. Benarkah demikian? Memangnya, berapa banyak zat besi yang terdapat pada bayam? 

 

Berapa banyak sih kandungan zat besi dari makanan?

 

Tabel 1. Kandungan zat besi dari sumber nabati dan hewani [4].
Sumber Jenis makanan Kandungan zat besi (mg/100g)
Nabati Bayam 2,71
Wortel 0,3
Kangkung 1,47
Tempe 2,7
Tahu 1,98
Brokoli 0,36
Asparagus 2,14
Jamur 0,5
Daun singkong 4,09
Kecipir 13,44
Kacang buncis 1,8
Hewani Daging ayam 1,03
Daging sapi 2,06
Daging domba 1,57
Hati ayam 8,99
Hati sapi 4,9
Hati domba 7,37
Ikan salmon 0,38
Ikan cod 0,38

 

Tabel 1 menunjukkan data kandungan zat besi dari beberapa sumber nabati dan hewani menurut USDA (United States Department of Agriculture) [4]. Jika dibandingkan, ternyata bayam mengandung zat besi dengan kadar yang normal, bahkan bukan yang tertinggi diantara sayuran lainnya. Malahan, daun singkong dan kecipir mengandung zat besi dalam jumlah yang jauh di atas bayam. Kemudian, jika dibandingkan dengan sumber hewani seperti ikan, daging ayam, sapi, dan domba, bayam memiliki kandungan yang lebih tinggi. Akan tetapi, kandungan besi pada hati masing-masing hewan tersebut jauh di atas bayam. Hal ini menunjukkan bahwa kadar besi pada bayam tidaklah sebanyak yang dikira orang sebelumnya.

 

Pertanyaannya sekarang, dari mana asal rumor jika bayam mengandung zat besi sangat tinggi?

 

Asal mula rumor bayam mengandung zat besi tinggi

 

Ternyata, hal ini terjadi karena adanya kesalahan dalam pelaporan hasil penelitian kadar zat besi pada bayam. Setidaknya, ada dua versi dari mana kesalahan itu terjadi [5]. Versi pertama menyebutkan bahwa pada tahun 1890, seorang ilmuwan Jerman, Gustav von Bunge, menemukan bahwa kadar zat besi pada bayam adalah sebesar 35 mg per 100 gram sajian [6]. Akan tetapi dia melakukan kesalahan penulisan dalam publikasinya. Seharusnya, angka 35 mg itu untuk bayam kering, bukan bayam basah. Kalau sudah dikeringkan, tentu saja untuk berat yang sama, kandungan zat besi-nya akan lebih besar. Versi kedua, kesalahan kemungkinan terjadi sekitar 20 tahun sebelumnya ketika ilmuwan yang lain (Dr. E. von Wolf ) melakukan analisis yang sama, tapi dia salah menempatkan tanda desimal pada hasil pengukurannya, yang seharusnya bernilai satuan menjadi bernilai puluhan [7]. Intinya, versi manapun yang benar, kesalahan tersebut menyebabkan adanya mitos bahwa bayam mengandung zat besi yang sangat tinggi.

 

Popeye harusnya makan daun singkong atau kecipir

 

Kesimpulannya, bayam memang mengandung zat besi, tapi tidak sebanyak yang orang kira. Ada sumber makanan lain, baik nabati ataupun hewani yang mengandung zat besi lebih tinggi dari bayam. Jadi, Popeye menjadi kuat bukan karena kandungan zat besi pada bayam, tapi karena kandungan lainnya. Karena kalau iya, dia salah makan sayuran. Harusnya dia makan kecipir atau daun singkong saja! :p

 

Nah, sekarang pertanyaannya, mana yang lebih bagus, sumber zat besi dari sayuran atau dari hewan? Kemudian, jika Popeye menjadi kuat bukan karena zat besi, komponen apa pada bayam yang berperan? Tunggu ulasannya di artikel berikutnya.

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

Keni Vidilaseris, PhD
ITB-Kimia, Biokimia; PhD- Biologi struktural, Vienna University
Keni adalah seorang peneliti di Departemen Biokimia, Universitas Helsinki, Finlandia sejak tahun 2014. Fokus penelitiannya adalah penentuan struktur protein membran dari parasit penyebab malaria, toksoplasmosis, dan juga sleeping sickness sebagai target pengobatan. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana dan masternya dari program studi Kimia di Institut Teknologi Bandung. Pendidikan Doktoralnya ia...
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.