Fakta atau Hoax: Chia Seed itu Superfood atau Scam

Salam sehat pembaca Zywielab. Artikel kali ini merupakan request dari salah satu pembaca mengenai pengaruh chia seed untuk orang-orang yang sedang melakukan diet. 

 

Di Indonesia, dua tiga tahun terakhir mengkonsumsi chia seed sedang menjadi trend yang marak. Snack sehat dan salad buah dengan chia seed sebagai bahan tambahan dijual dengan harga yang tidak murah. Trend mengkonsumsi chia seed banyak dipelopori oleh food-bloggers dan health communities. Sebenarnya apa sih chia seed, bentuknya seperti apa, apa benar menyehatkan atau sekedar trend semata? 

 

Chia seed (Salvia hispanica) merupakan tanaman berbunga yang masih satu keluarga dengan daun mint. Bijinya kecil berukuran kira-kira 1 mm bewarna hitam kecoklatan. Tanaman ini berasal dari Mexico dan Guatemala dan sudah ditanam sejak abad ke-16 oleh bangsa Aztec [1].Walaupun sudah ratusan tahun digunakan sebagai sumber makanan, baru akhir-akhir ini chia seed dielu-elukan sebagai superfood. Mengapa begitu?

 

Kelebihan utama dari chia seed adalah kandungan asam lemak esensial (Omega-3), protein dan serat yang tinggi tetapi memilki nilai kalori yang rendah [2]. Di dalam 100 g chia seed yang kering mengandung 16.54 g protein, 31 g lemak yang 77%-nya merupakan lemak tak jenuh, dan 44 g karbohidrat yang 86%-nya merupakan serat [3]. Chia seed juga kaya akan vitamin B; thiamine, niacin dan riboflavin sekaligus mineral seperti kalsium, zat besi, magnesium, fosfor, zinc dan mangan [3]. Bahkan dengan massa yang sama, kandungan kalsium di dalam chia seed mencapai 5 - 5.5 kali lebih tinggi dibandingkan susu sapi [3]. Jadi chia seed bisa dimanfaatkan sebagai alternatif sumber kalsium untuk orang-orang yang tidak bisa mengkonsumsi produk-produk yang terbuat dari susu sapi. 

Screen Shot 2016-05-18 at 04.20.40.png

Lebih lagi, chia seed mengandung kadar antioksidan yang tinggi dalam bentuk flavonoids (quercetin, myricetin, kaempferol, flavonol glycosides) dan phenolic acid (chlorogenic acid, caffeic acid) [4]. Kadar antioksidan yang ada di dalam chia seed melebihi kadar yang terdapat di blackberries, anggur, nanas, mangga, buah noni dan belimbing [5]. Kadar antioksidannya diukur menggunakan skala Vitamin C Equivalent Antioxidant Capacity (VCEAC) dengan rating 1900 mg of Vit C/100 g [5,6]. Karena chia seed gluten-free, aman dikonsumsi bagi orang yang alergi terhadap gluten dan penderita celiac [7]. 

 

Dengan kandungan serat yang tinggi, chia seed dapat membantu kalian yang sedang melakukan diet menurunkan berat badan. Karena serat membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna, sehingga memberikan rasa kenyang lebih lama. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa chia seed menaikkan HDL kolesterol dan mengurangi LDL dan trigliserida sehingga dapat mengurangi resiko penyakit jantung [8,9]. 

 

Bagaimana mengolahnya? Chia seed bisa langsung dimakan mentah seperti ditabur di atas salad. Atau yang lebih sering dilakukan adalah direndam dahulu selama 20 menit sampai semalaman. Chia seed memiliki kemampuan untuk menyerap cairan 12 kali dari beratnya [10], sehingga ketika direndam, chia seed akan membesar dengan lapisan gel di sekeliling bijinya, mirip seperti biji selasih. Chia seed bisa ditambahkan di dalam juice, smoothie, pudding, dessert atau dalam pembuatan roti. Karena chia seed bisa berfungsi sebagai gelling agent [10], satu sendok makan tepung chia seed yang dicampur cairan (air atau susu) bisa dijadikan sebagai pengganti telur dalam vegan baking

 

Lalu dimana kita bisa membeli chia seed? Di perkotaan besar, chia seed sudah bisa ditemui di toko-toko makanan sehat atau kita bisa memesan melalui beberapa website e-commerce dengan harga berkisar 200-300 ribu/kg. 

 

So, dari kandungan gizi, chia seed memang memiliki banyak keuntungan untuk kesehatan tetapi mengkonsumsi chia seed saja tentu tidak cukup. Hidup sehat tetap harus diimbangi dengan pola makan seimbang dan olahraga yang cukup.

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. Lipid redistribution by ??-linolenic acid-rich chia seed inhibits stearoyl-CoA desaturase-1 and induces cardiac and hepatic protection in diet-induced obese rats

  2. Effect of dietary alpha-linolenic fatty acid derived from chia when fed as ground seed, whole seed and oil on lipid content and fatty acid composition of rat plasma.

Tentang Penulis dan Penyunting

tessa's picture
Tessa A. S. B.AS., M.Sc.
Haagse Hogeschool - Process and Food Technology, University of Helsinki - Food Science, Restauranter
Memiliki passion di bidang pangan yang tertanam sejak dini karena usaha rumah makan milik keluarganya. Tahun 2007, hijrah ke Den Haag, Belanda untuk meraih gelar sarjana di bidang Process and Food Technology (Haagse Hogeschool). Melanjutkan magisternya di bidang Food Science di University of Helsinki, Finlandia. Sejak Februari 2014, Tessa kembali ke tanah air untuk mengembangkan bisnis rumah...
rizal's picture
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.