Fakta atau Hoax: Kadaluarsa Belum Tentu Basi Lho

Halo sobat Zywie,

 

Di awal bulan September, masyarakat sempat dihebohkan dengan isu penggunaan bahan makanan kadaluarsa oleh dua restoran waralaba ternama yang sering kita temui atau bahkan kunjungi untuk bersantap. Berbagai macam opini, kebingungan, kekuatiran dan ketakutan apakah aman dikonsumsi, akankah menimbulkan masalah kesehatan, merebak luas. Masyarakat tambah dibingungkan dengan pernyataan-pernyataan yang saling bertolak belakang oleh pihak berwenang dari kedua restoran tersebut. Tentunya kami menyayangkan etika dagang yang kurang transparan dari kedua restoran waralaba tersebut. Tetapi, karena kurangnya ulasan dari sisi keamanan pangan, Zywielab tergelitik untuk menulis beberapa fakta mengenai kadaluarsa dan mengapa kita tidak seharusnya langsung membuang makanan yang sudah melewati tanggal kadaluarsa.

 

Sejarah pencantuman tanggal kadaluarsa dimulai di Amerika Serikat di tahun 1970-an berdasarkan beberapa permintaan konsumen yang ingin mengetahui kapan produk pangan diproduksi [1]. Sebelumnya, hanya produsen, supplier dan distributor yang mengetahui tanggal kadaluarsa yang ditunjukkan dengan kode dan nomor tertentu.

 

Di Indonesia, regulasi pelabelan produk pangan diatur pemerintah melalui Undang-undang no 7 tahun 1996 yang memberikan mandat kepada produsen pangan untuk mencantumkan informasi waktu kadaluarsa yang tertuang pada pasal 30, ayat 2 tentang pelabelan sub f [2]. Waktu kadaluarsa harus mencantumkan tanggal, bulan dan tahun. Hal ini kembali dipertegas di UU no 23 tahun 1999 tentang Kesehatan, bab Pengamanan Makanan dan Minuman pasal 21 ayat 2 menyatakan bahwa setiap makanan dan minuman yang dikemas wajib diberi tanda atau label yang berisi (salah satunya) dinyatakan dalam poin c; harus mencantumkan tanggal, bulan dan tahun kadaluarsa. Sebagai tindak lanjut kedua undang-undang ini, pemerintah mengeluarkan peraturan pemerintah PP 28 tahun 2004 tentang KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN. [2]

 

Dalam produksi pangan tanggal kadaluarsa dapat dibagi menjadi beberapa istilah yang tertulis di label. Istilah-istilah ini ditentukan oleh produsen dan bisa berbeda tergantung jenis produk. Tanggal-tanggal ini dijadikan acuan untuk memperkirakan berapa lama produk bisa bertahan dengan kualitas dan rasa terbaik. Beberapa di antaranya [1]:

  • Production/pack date. Tanggal yang menunjukkan kapan produk pangan diproduksi atau dibungkus.
  • Sell by date. Tanggal yang memberitahu pihak penjual atau toko perkiraan berapa lama sebaiknya produk bisa diletakkan di display untuk dijual. Tanggal ini lebih menunjukkan kesegaran, rasa dan konsistensi suatu produk dan tidak bisa dijadikan acuan apakah produknya rusak dan basi apabila melewati tanggal ini sehingga produk yang melewati tanggal sell by masih aman untuk dikonsumsi.
  • Best if used by/before. Tanggal ini merekomendasikan masa konsumsi untuk kualitas dan rasa terbaik. Tidak bisa dijadikan acuan apakah produknya rusak dan basi setelah melewati tanggal ini.
  • Freeze by date. Tanggal yang menunjukkan bahwa apabila dibekukan, kualitas produk dapat bertahan lebih lama.
  • Guaranteed fresh. Biasa digunakan untuk produk kue dan roti. Melewati tanggal ini, produk masih bisa dikonsumsi, hanya tidak di puncak kesegarannya.
  • Use by date. Tanggal yang ditentukan oleh pabrik dan produsen yang menunjukkan tanggal terakhir yang direkomendasikan untuk penggunaan produk pada kualitas terbaiknya.  

 

Tanggal-tanggal di atas digunakan sebagai estimasi indikator [2] bahwa:

  1. Nilai gizi yang terkandung sudah mendekati batas minimal, sehingga apabila dikonsumsi kurang memberikan manfaat bagi tubuh, bukan berarti tidak aman dikonsumsi.
  2. Sifat fisik (kekenyalan, kerenyahan, tekstur, warna, dsb) sudah menurun dan mendekati nilai penolakan konsumen, walaupun kandungan gizi kemungkinan masih baik.
  3. Sifat sensoris telah mendekati batas toleransi yang dapat diterima konsumen.

 

Karena merupakan estimasi, tidak mungkin untuk benar-benar mengetahui dengan pasti, secara menit, detik, sepermili detik kapan makanan menjadi basi/rusak. Makanan yang sudah melewati masa kadaluarsa, belum tentu basi/rusak. Makanan yang masih dalam tenggat waktu kadaluarsa, juga bisa saja sudah basi/rusak.

 

Kerusakan makanan (food spoilage) tidak ditentukan oleh tanggal kadaluarsa, tetapi oleh faktor-faktor seperti udara, sinar, oksigen, kelembaban, kadar air, temperatur dan pertumbuhan mikroorganisme [3]. Faktor yang terakhir bisa menimbulkan keracunan dan penyakit (foodborne-illnesses) yang diakibatkan mikroorganisme patogen seperti Salmonella, E. Coli, Campylobacter, Listeria, Bacillus cereus dan Clostridium botulinum [3]. Mikroorganisme ini pun bisa jadi sudah ada sebelum produk pangan diproses.

 

Lalu, Sebenarnya aman tidak sih untuk mengkonsumsi makanan yang sudah melewati tanggal kadaluarsa? Ulasan lengkapnya akan dilanjutkan di Part 2.

 

Disclaimer: Zywielab tidak memiliki afiliasi apapun dengan pihak Pizza Hut, Marugame Udon ataupun SriBoga group. Artikel ini ditulis untuk sekedar memberikan fakta yang ada dengan harapan akan memberikan klarifikasi dan opini yang lebih objektif.

 

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

Tessa A. S. B.AS., M.Sc.
Haagse Hogeschool - Process and Food Technology, University of Helsinki - Food Science, Restauranter
Memiliki passion di bidang pangan yang tertanam sejak dini karena usaha rumah makan milik keluarganya. Tahun 2007, hijrah ke Den Haag, Belanda untuk meraih gelar sarjana di bidang Process and Food Technology (Haagse Hogeschool). Melanjutkan magisternya di bidang Food Science di University of Helsinki, Finlandia. Sejak Februari 2014, Tessa kembali ke tanah air untuk mengembangkan bisnis rumah...
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.