Fakta atau Hoax: Kontroversi MSG

Micin atau MSG baik atau tidak ?

Bagi pecinta jajanan bakso dan mie instan, pasti familiar dengan istilah MSG atau yang biasa dikenal dengan ‘vetsin/micin’. Sebagian orang ada yang merasa kuah bakso kurang mantap tanpa MSG namun ada pula yang menghindarinya karena khawatir berdampak pada kesehatan dan kecerdasan. Tetapi apakah benar MSG berdampak negatif bagi manusia? Sebelum mengetahui jawabannya, mari kita berkenalan dengan MSG terlebih dahulu.

 

Monosodium Glutamat  

MSG digunakan oleh masyarakat sebagai penyedap rasa untuk meningkatkan cita rasa makanan dan memberikan rasa gurih (umami) [1]. MSG dapat diproduksi dari pati seperti tapioka [2], corn sugar, molase, tebu atau sugar beets melalui proses fermentasi [3]. Sederhananya, MSG merupakan garam sodium dari asam glutamat. Nah apa itu glutamat? Glutamat merupakan salah satu jenis asam amino non-esensial yang juga dapat disintesis oleh tubuh kita dan termasuk ke dalam komponen protein yang sangat penting. Glutamat terkandung pula secara alami pada sumber makanan berprotein seperti contohnya pada keju, daging, ikan, dan beberapa sayuran seperti tomat. Namun glutamat hanya mampu berfungsi untuk meningkatkan cita rasa makanan (flavor-enhancer) ketika terbentuk dalam keadaan ‘bebas’, tanpa terikat dengan asam amino lainnya.  [3]  

 

Kontroversi MSG

Kontroversi MSG dimulai sekitar tahun 1960an, ketika munculnya keluhan sindrom MSG atau yang awam disebut dengan CRS “Chinese Restaurant Syndrome” (sindrom restoran cina).  Saat itu banyak keluhan dari konsumen yang merasakan gejala seperti pusing, mual, keringat dingin, kulit kemerahan serta panas setelah mengonsumsi Chinese food. Beberapa orang pun merasakan sensitif terhadap MSG. Namun belum ada riset yang membuktikan korelasi antara MSG dengan gejala-gejala CRS tersebut [4], termasuk penelitian di Indonesia oleh Prawirohardjono, dkk [5].

 

Salah satu kontroversi lainnya adalah mengenai kemungkinan MSG yang mengganggu sistem syaraf (neurological disorder). Hal ini berkaitan dengan fungsi utama glutamat sebagai perangsang sistem syaraf, sehingga timbul dugaan konsumsi MSG dapat meningkatkan level glutamat darah yang kemudian menyebabkan kerusakan syaraf [6]. Salah satu peneliti yang sangat vokal mengkritisi MSG, Dr. Olney (Washington University) melakukan beberapa penelitian untuk menguji apakah injeksi MSG dan pemberian pakan secara paksa kepada hewan pengerat (seperti tikus dan mencit) dapat menyebabkan neurotoksisitas (keracunan yang berpengaruh terhadap sistem syaraf) dan kerusakan pada otak. Namun, riset beliau mendapat banyak kritik dari kalangan peneliti lainnya yang mendapatkan hasil riset bertentangan dengan hasil penelitiannya. [7]. The International Food Information Council Foundation juga mengkritik metode injeksi yang dipakai oleh Dr. Onley karena tidak merepresentasikan dengan cara manusia mengonsumsi MSG [7] serta dosis MSG yang diuji terlalu tinggi (0,5 - 4 g/kg berat badan hewan uji) [7,8]. Jumlah tersebut sangat jauh dengan rata-rata konsumsi MSG orang Indonesia yang berkisar 600 mg/hari atau setara dengan 0,01 - 0,015 g/kg berat badan [5]. Perbedaan yang sangat jauh bukan?

 

Keamanan MSG

JECFA (Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) menyatakan bahwa MSG merupakan food additive (bahan makanan tambahan) yang tidak berbahaya dan tidak ditetapkannya ADI (Acceptable Daily Intake) yang spesifik terhadap MSG [9,10]. Jumlah ADI yang tidak ditetapkan secara spesifik memiliki arti bahwa bahan makanan tersebut memiliki efek toksisitas yang rendah jika digunakan dalam takaran yang diperlukan [10]. Meskipun JECFA menyebutkan baik ibu hamil maupun bayi tidak memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap MSG, namun perlu diperhatikan bahwa penggunaan food additive jenis apapun tidak boleh terkandung di dalam makanan bayi yang dikonsumsi sebelum berumur 12 minggu. [9]

 

Kesimpulannya, MSG merupakan food additive yang masih aman dikonsumsi dengan cara dan jumlah yang sewajarnya. Karena apapun yang kita konsumsi, jika kita mengonsumsi dalam jumlah berlebihan maka berisiko tidak baik bagi keseimbangan tubuh kita.

 

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. The Administration to Indonesians of Monosodium l-Glutamate in Indonesian Foods: An Assessment of Adverse Reactions in a Randomized Double-Blind, Crossover, Placebo-Controlled Study

  2. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2013 tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Penguat Rasa

Tentang Penulis dan Penyunting

Afina Nuur F. M. S.Si., M.Sc.
ITB - Mikrobiologi, Lund University - Food Technology and Nutrition
Afina menyelesaikan studi magister di Lund University, Swedia tahun 2016 dengan jurusan Food Technology and Nutrition. Sebelumnya di tahun 2013 ia mendapatkan gelar sarjana pada bidang Mikrobiologi, Institut Teknologi Bandung. Kedua background keilmuan tersebut membuatnya tertarik untuk mempelajari lebih lanjut mengenai proses fermentasi makanan dan food safety.
dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...