Fakta atau Hoax: Minyak Zaitun, Lemak Sehat atau Penipuan Masal? Part 1

Salam sehat pembaca Zywie! Kali ini kami akan mengupas salah satu minyak yang cukup populer dan sering kita gunakan di dapur, yaitu minyak zaitun atau yang lebih populer disebut olive oil. Selain untuk makanan, minyak zaitun bisa kita temui di produk kosmetik, skin-care, obat-obatan maupun sabun bahkan sebagai bahan bakar untuk lampu tradisional. 

 

Minyak zaitun merupakan lemak yang didapat dari pemrosesan buah zaitun (Olea europaea); tanaman kuno yang sudah ditanam sejak abad ke-8 sebelum masehi di daerah Mediterania [1,2]. Bukti tertua menunjukkan bahwa produksi minyak zaitun sudah ada sejak tahun 6000 SM [1,2]. Minyak zaitun semakin populer setelah beberapa penelitian menunjukkan bahwa pola makan orang-orang Mediterania yang mengkonsumsi minyak zaitun dalam jumlah banyak dapat menurunkan resiko terhadap kanker, penyakit jantung, stroke dan darah tinggi [3, 4, 5, 6, 7]. Selain itu, banyak yang mengklaim bahwa pola makan Mediterania adalah alasan mengapa orang-orang Mediterania memiliki usia harapan hidup yang lebih panjang dibandingkan dengan penduduk Amerika Utara dan Eropa Utara. Menurut North American Olive Oil Association [8], penduduk Yunani merupakan konsumen tertinggi minyak zaitun dengan konsumsi rata-rata sebesar 24 liter/orang/tahun, disusul dengan Spanyol (15 liter/orang/tahun) dan Italia (13 liter/orang/tahun). 

 

Lalu kandungan apa sih yang dimiliki minyak zaitun? Jawabannya tergantung dari jenis buah zaitun, waktu panen dan proses pengolahannya. Sebagian besar kandungan lemak minyak zaitun adalah asam oleat (oleic acid) (55-83%) yang merupakan asam lemak tunggal tak jenuh (monounsaturated omega-9 fatty acids disingkat MUFAs). MUFAs ini merupakan lemak sehat yang menguntungkan bagi kesehatan. Selain itu, minyak zaitun mengandung setidaknya 30 jenis komponen fenolik yang merupakan antioksidan dan antibakteri yang kuat [5,6]. 

 

Lalu ketika kalian pergi ke pasar swalayan, mungkin beberapa dari kalian dibuat sedikit bingung dengan banyaknya jenis minyak zaitun. Minyak zaitun dibedakan melalui proses penyaringannya yang akan mempengaruhi tingkat ‘keasaman’-nya. Tingkat keasaman ini merupakan kadar asam oleat bebas yang terkandung di dalam minyak zaitun (%). Umumnya dibedakan sebagai berikut:

 

Extra Virgin Olive Oil

Extra Virgin Olive Oil merupakan minyak zaitun level tertinggi. Untuk mencapai level ini, Extra Virgin Olive Oil harus memenuhi empat kriteria: diproduksi tanpa menggunakan bahan kimia ataupun air panas,  diproses menggunakan teknologi cold-pressing, mengandung asam oleat tidak lebih dari 0.8% dan bebas dari kerusakan rasa dan bau. Karena prosesnya yang tidak menggunakan panas, kadar vitamin dan gizinya masih terjaga. Oleh karena itu, Extra Virgin Olive Oil dijual dengan harga mahal. Biasanya jenis minyak ini digunakan untuk salad dressings, masakan tumis, perawatan kecantikan di rumah seperti masker wajah, perawatan rambut alami, dan perawatan kulit. 

 

Virgin Olive Oil

Virgin Olive Oil juga berasal dari perasan pertama. Minyak ini mengandung asam oleat antara 1.5-3.3%. Rasanya tidak setajam Extra Virgin Olive Oil

 

Olive Oil

Setelah melewati perasan pertama, minyak zaitun akan melalui proses pemurnian (refining) yang biasanya melalui proses pemanasan, menggunakan zat kimia dan penyaringan. Setelah melalui proses ini, minyak zaitun tidak boleh menggunakan label “virgin”. Biasanya Olive Oil merupakan campuran antara Virgin Olive Oil (15%) dan Refined Olive Oil (85%). 

 

Olive Pomace Oil

Terbuat dari ampas buah zaitun yang tertinggal dari proses sentrifugasi. Campuran minyak dan air yang tersisa di ampas dipisahkan dan diproses menggunakan panas dan zat kimia untuk mengambil minyak yang tersisa. Virgin Oil bisa ditambahkan ke Pomace Oil untuk menambah rasa dan warna. Kadar asam oleat minyak jenis ini tidak boleh melebihi 1.5%. 

 

Light/Lite Olive Oil

Minyak jenis ini sudah melalui pemurnian untuk menghilangkan warna, bau dan rasa minyak zaitun yang khas. Oleh karena itu, minyak jenis ini cocok digunakan untuk resep masakan dan pemanggangan (baking) yang tidak memerlukan rasa minyak zaitun. Kata Light/Lite tidak ada kaitannya dengan kadar lemak yang lebih rendah. Penggunaan kata Light/Lite hanya menunjukkan warna yang lebih jernih dan rasa yang lebih netral. 

 

Tapi tahukah kalian bahwa hampir 80% minyak zaitun [9] yang sering kita temui di pasaran palsu? Apaa?! 

 

To be continued…

 

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. Mediterranean diet, traditional risk factors, and the rate of cardiovascular complications after myocardial infarction: final report of the Lyon Diet Heart Study.

Tentang Penulis dan Penyunting

Tessa A. S. B.AS., M.Sc.
Haagse Hogeschool - Process and Food Technology, University of Helsinki - Food Science, Restauranter
Memiliki passion di bidang pangan yang tertanam sejak dini karena usaha rumah makan milik keluarganya. Tahun 2007, hijrah ke Den Haag, Belanda untuk meraih gelar sarjana di bidang Process and Food Technology (Haagse Hogeschool). Melanjutkan magisternya di bidang Food Science di University of Helsinki, Finlandia. Sejak Februari 2014, Tessa kembali ke tanah air untuk mengembangkan bisnis rumah...
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.
Keni Vidilaseris, PhD
ITB-Kimia, Biokimia; PhD- Biologi struktural, Vienna University
Keni adalah seorang peneliti di Departemen Biokimia, Universitas Helsinki, Finlandia sejak tahun 2014. Fokus penelitiannya adalah penentuan struktur protein membran dari parasit penyebab malaria, toksoplasmosis, dan juga sleeping sickness sebagai target pengobatan. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana dan masternya dari program studi Kimia di Institut Teknologi Bandung. Pendidikan Doktoralnya ia...
dr. T.R. Basuki M.D., M.P.H., Ph.D. (c)
Reviewer, Medical Doctor, Master - Public Health, PhD - Fetal Medicine, Barcelona University, Lund University
Dr. Basuki sekarang sedang menjalankan pendidikan S3 (PhD) di Barcelona Spanyol dan Lund Swedia. Topik S3 Dr. Basuki adalah Fetal Medicine yang merupakan program bersama Barcelona University dan Lund University. Sebelumnya Dr. Basuki juga menempuh pendidikan S2 di bidang Public Health di 3 universitas di eropa dengan beasiswa Erasmus Mundus.