Fakta atau Mitos: Bahaya makan tempe dan bayam bersamaan

Tempe adalah makanan favorit orang Indonesia, termasuk kamu juga kan? Apalagi jika dimakan dengan sayur bayam. Pastinya lebih top! Tapi, beberapa waktu yang lalu, beredar artikel di internet yang menyatakan beberapa makanan tidak bisa dikonsumsi bersamaan. Salah satunya tempe (makanan yang berasal dari kedelai, termasuk tahu) tidak boleh dikonsumsi bersamaan dengan bayam. Menurut artikel tersebut, hal ini dikarenakan tempe kaya kalsium dan bayam banyak mengandung senyawa oksalat. Ketika keduanya dimakan bersamaan, kalsium dan oksalat yang ada di dalamnya dapat membentuk endapan kalsium oksalat di usus. Katanya, hal ini berbahaya untuk kesehatan. Benarkah demikian?

 

Sebelum membuat kesimpulan, mari kita analisis terlebih dahulu.

 

Jika dilihat dari kandungan gizinya, baik tempe ataupun bayam memiliki nilai gizi yang mirip dan menyehatkan. Tempe merupakan sumber makanan yang kaya akan protein, mineral (seperti Kalsium, Magnesium, Besi, Kalium, Fosfor) dan vitamin B kompleks [1]. Di sisi lain, bayam pun kaya akan mineral (seperti Kalsium, Kalium, Magnesium, Besi, Mangan, Fosfor, Seng) dan merupakan sumber dari beberapa vitamin, seperti vitamin A, vitamin K, vitamin B kompleks, vitamin E, dan vitamin C [2]. 

 

Dari paparan di atas, baik bayam ataupun tempe, keduanya mengandung kalsium. Tentu kamu tidak asing lagi dengan kalsium kan? Jadi, kita tidak perlu membahas lebih lanjut lagi salah satu komponen pembentuk tulang yang satu ini. Namun, apa itu oksalat? Oksalat merupakan senyawa organik yang dapat dibentuk oleh tubuh kita sendiri atau diperoleh dari makanan. Di dalam tubuh, oksalat merupakan produk sampingan dari proses metabolisme karbohidrat, protein, lemak dan vitamin C [3,4]. Di makanan, oksalat biasanya terdapat pada sayuran dan buah-buahan dan seringkali disebut sebagai zat anti-nutrisi [5]. Disebut zat anti-nutrisi karena oksalat dapat mengganggu penyerapan kalsium ke dalam tubuh. Hal ini dikarenakan, jika kalsium dan oksalat bertemu, keduanya akan membentuk kristal kalsium oksalat yang susah larut dalam air sehingga akan sulit diserap tubuh. Tubuh hanya bisa menyerap oksalat dalam bentuk yang tidak berikatan dengan kalsium. 

 

Ketika kalsium dan oksalat bertemu di lambung atau usus, endapan kalsium oksalat memang bisa terbentuk, namun tidak berbahaya bagi kesehatan karena akan dikeluarkan bersamaan dengan tinja. Malahan, pembentukan endapan ini bagus untuk mencegah penyerapan berlebih oksalat oleh tubuh karena oksalat yang ada akan berikatan dengan kasium sehingga tubuh tidak bisa menyerapnya. Di dalam tubuh, oksalat merupakan zat yang tidak bermanfaat sehingga harus dikeluarkan [3]. Baik oksalat yang diserap lambung/usus ataupun yang dihasilkan melalui proses metabolisme akan dikeluarkan bersama urine [3]. 

 

Jadi, bolehkah makan tempe dan bayam bersamaan?

 

Jawabannya sangat boleh. Klaim yang diberitakan tersebut tidak masuk akal. Mengapa? Pertama, baik tempe maupun bayam keduanya mengandung kalsium dan oksalat [1–2, 5]. Jumlah kalsium pada tempe dan bayam hampir sama. Tempe mengandung kalsium sebesar 111 mg, sedangkan pada bayam sebesar 99 mg per 100 gram sajian [1,2]. Sedangkan, jumlah oksalat pada tempe sekitar 47-65 mg, lebih sedikit dari bayam yang mengandung sekitar 400-900 mg per 100 gram sajian [4]. Artinya, pada jumlah sajian yang sama, kalsium dari tempe tidak cukup untuk mengendapkan semua oksalat yang terdapat pada bayam.

 

Kedua, pembentukan kalsium oksalat di lambung/usus justru bagus, terutama bagi orang yang menderita penyakit kencing batu. Kok bisa? Kalsium oksalat adalah komponen utama pembentuk batu ginjal. Pada penderita penyakit ini, semakin banyak jumlah oksalat yang diserap tubuh, semakin besar kemungkinan terbentuknya batu ginjal sehingga bisa memperparah penyakitnya [6]. Dengan mengkonsumsi makanan kaya oksalat disertai dengan makanan kaya kalsium, keduanya akan terendapkan membentuk kalsium oksalat sehingga tidak akan diserap tubuh, tetapi dikeluarkan bersama tinja [6, 7]. Oleh karena itu, dengan berkurangnya kadar oksalat yang diserap tubuh, maka kemungkinan terbentuknya batu ginjal akan berkurang [8]. 

 

Jadi, sebagai penutup, berhati-hatilah ketika kamu menemukan informasi mengenai efek makanan tertentu dan informasi kesehatan yang bombastis, baik di internet atau media sosial lainnya. Sebisa mungkin, cek dulu kebenarannya sebelum menyebarkan dan mengaplikasikannya.

 

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. Oxalate absorption and endogenous oxalate synthesis from ascorbate in calcium oxalate stone formers and non-stone formers

Tentang Penulis dan Penyunting

Keni Vidilaseris, PhD
ITB-Kimia, Biokimia; PhD- Biologi struktural, Vienna University
Keni adalah seorang peneliti di Departemen Biokimia, Universitas Helsinki, Finlandia sejak tahun 2014. Fokus penelitiannya adalah penentuan struktur protein membran dari parasit penyebab malaria, toksoplasmosis, dan juga sleeping sickness sebagai target pengobatan. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana dan masternya dari program studi Kimia di Institut Teknologi Bandung. Pendidikan Doktoralnya ia...
dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...
dr. T.R. Basuki M.D., M.P.H., Ph.D. (c)
Reviewer, Medical Doctor, Master - Public Health, PhD - Fetal Medicine, Barcelona University, Lund University
Dr. Basuki sekarang sedang menjalankan pendidikan S3 (PhD) di Barcelona Spanyol dan Lund Swedia. Topik S3 Dr. Basuki adalah Fetal Medicine yang merupakan program bersama Barcelona University dan Lund University. Sebelumnya Dr. Basuki juga menempuh pendidikan S2 di bidang Public Health di 3 universitas di eropa dengan beasiswa Erasmus Mundus.
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.