Fenomena Health Halo

Sering dengar produk makanan dari restoran cepat saji yang berlabel low-calorie? Ternyata di negara Amerika dengan jumlah restoran cepat saji yang cabangnya sampai ke negara kita ini, justru jumlah kalori yang dikonsumsi pelanggannya jauh lebih banyak ketimbang yang tidak belabel rendah kalori tersebut [1]. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

 

Efek Halo menurut definisi dari peneliti terdahulu dimisalkan saat seseorang berjumpa dengan orang yang secara fisik menarik, dia pun berasumsi bahwa orang tersebut pun pandai, berkompetensi, mudah bergaul dan menyenangkan [2]. Dengan kata lain, satu buah informasi yang menarik menggiring orang untuk menganggap secara keseluruhan di berbagai atribut lain juga baik.

 

Beberapa tahun yang lalu, riset tentang efek halo berkembang hingga ke ranah kesehatan [3]. Sebut saja beberapa label dalam kemasan makanan yang terdengar menarik seperti makanan organik, alami, rendah kalori, rendah lemak, dan fair trade. Dalam penelitian itu [3], ditemukan bahwa label fair trade pada kemasan cokelat membuat konsumen berpikir bahwa cokelat tersebut lebih rendah kalori. Padahal label tersebut memiliki maksud bahwa petani cokelat diperlakukan lebih baik dan adil, tidak begitu berpengaruh terhadap kandungan gizi di cokelat tersebut.

 

Begitu pula yang terjadi bila kita jumpai label tersebut di restoran. Berdasarkan sebuah riset [1], orang yang memesan makanan dengan klaim lebih sehat membuat konsumen tergoda untuk memesan menu sampingan seperti minuman bersoda atau kue. Hal inilah yang membuat secara tidak sadar dia justru mengonsumsi makanan dengan kalori berlebih. Sesekali menikmati menu dengan kalori yang tinggi tidaklah buruk selama kita sadar bahwa selanjutnya harus mengatur asupan sehingga tidak terus-menerus berlebihan mengonsumsi makanan dengan kalori yang tinggi. Ternyata beberapa negara yang konsumennya tidak terlalu ketat terhadap menu makanannnya seperti Perancis dan Belgia justru lebih rendah mengalami permasalahan obesitas dibandingkan dengan Amerika Serikat [4].

 

Yuk terus tambah pengetahuan kita agar selalu jadi konsumen yang cerdas dan sehat!

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. The Biasing Health Halos of Fast-Food Restaurant Health Claims: Lower Calorie Estimates and Higher Side-Dish Consumption Intentions

  2. Attitudes to Food and the Role of Food in Life in the U.S.A., Japan, Flemish Belgium and France: Possible Implications for the Diet-Health Debate

Tentang Penulis dan Penyunting

Rifqi Ahmad Riyanto S.Si., M.Sc.
ITB - Mikrobiologi, KNRTU - Food Technology
Kazan National Research Technological University, Rusia menjadi tempat menempuh pendidikan magister bagi Rifqi saat ini dalam bidang Teknologi Pangan. Selain aktif dalam bidang sains, saat ini juga aktif sebagai relawan untuk salah satu lembaga non-profit yang bergerak di bidang sosial.
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.