Gizi Bagi Konstipasi

Sebagian dari apa yang kita makan akan kita kembalikan lagi ke alam. Proses pengeluaran sisa makanan dari tubuh kita tersebut salah satunya adalah buang air besar. Mungkin ada dari kita yang merasa terbebani dalam proses pengeluaran ini akibat sebuah kondisi yang dinamakan konstipasi.

 

Umumnya konstipasi didefinisikan sebagai keadaan di mana seseorang mengalami kesulitan defekasi (buang air besar) yang ditunjukkan dengan tidak teraturnya waktu keluar serta timbulnya rasa perih, kotoran yang keras dan ketidaktuntasan pengeluaran (1). Karena berhubungan langsung dengan saluran pencernaan, tentulah makanan yang kita konsumsi akan berpengaruh terhadap pencegahan maupun penyembuhan kondisi ini. Sejak 120 tahun yang lalu, ditengarai bahwa kurangnya konsumsi serat menjadi penyebab keadaan ini (2). Serat di dalam pencernaan kita hanya bisa dicerna oleh bantuan mikroorganisme lokal di perut kita. Sebagian serat, baik yang telah dicerna maupun tidak, akan membantu penyusunan tinja kita sehingga mempengaruhi berat serta konsistensi tinja tersebut (3). Meningkatnya berat tinja ini dikarenakan keberadaan serat di dalamnya yang mampu mengikat air dan bakteri yang turut mencernanya (7). Tinja pun menjadi lebih besar dan lembut. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan serat menjadi penyebab dan penyembuh konstipasi.

 

Penelitian tentang konstipasi tidak berhenti sampai di situ.Sebuah studi di Yunani (4) menunjukkan bahwa anak yang mengalami konstipasi ternyata mengonsumsi makanan dengan total kalori yang lebih rendah ketimbang anak normal. Selain itu, intoleransi dan alergi makanan juga memiliki hubungan terhadap konstipasi, seperti yang terlihat dari hasil studi berikut (5). Suplemen yang mengandung zat besi dan kalsium juga diperkirakan menjadi penyebab konstipasi bila dikonsumsi secara rutin (6).

 

Kesehatan pencernaan tak berhenti sampai makanan masuk ke mulut. Saat mengeluarkannya pun perlu kita perhatikan. Mari perhatikan asupan serat dan kalori bagi tubuh kita!

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

Rifqi Ahmad Riyanto S.Si., M.Sc.
ITB - Mikrobiologi, KNRTU - Food Technology
Kazan National Research Technological University, Rusia menjadi tempat menempuh pendidikan magister bagi Rifqi saat ini dalam bidang Teknologi Pangan. Selain aktif dalam bidang sains, saat ini juga aktif sebagai relawan untuk salah satu lembaga non-profit yang bergerak di bidang sosial.
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.