Gizi dan Penuaan

“Lanjut Usia (lansia) rentan masalah gizi, terutama kekurangan gizi”

Setiap orang tidak dapat terhindar dari proses penuaan. Seseorang sudah bisa dikatakan lanjut usia (lansia) ketika menginjak usia diatas 65 tahun. Rambut memutih, banyak gigi yang tanggal, kemampuan motorik menurun merupakan beberapa ciri  lansia. The U.S. Census Bureau menggunakan sistem stratifikasi untuk mengkategorikan lansia. Mereka yang berusia 65-74 tahun adalah young elderly atau lansia awal, 75-84 adalah older elderly atau lansia, dan 85 keatas adalah oldest elderly (lansia akhir) [1].

 

Apa yang menyebabkan lansia perlu perhatian khusus mengenai gizi?

Beberapa perubahan fungsi organ terjadi pada lansia. Salah satunya fungsi saluran pencernaan juga mengalami penurunan, pada lansia, masalah ini sering tidak terdiagnosis [2]. Hal ini yang dapat menyebabkan masalah gizi pada lansia yaitu tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup [2]. Lansia selalu datang bersama dengan kekhawatiran terhadap kemampuan fisik, psikis, sosial, dan ekonomi. Perlunya perhatian khusus mengenai gizi pada lansia disebabkan karena beberapa faktor, diantaranya nafsu makan yang menurun, permasalahan dalam mengunyah dikarenakan gigi yang mulai tanggal, penurunan atau perubahan pengecapan, penurunan rasa haus, dan konstipasi (sembelit) [3][4].

 

Masalah gizi apa saja yang sering terjadi pada lansia?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan masalah utama yang terjadi pada lansia adalah kekurangan gizi. Sebagian besar penyakit yang diderita oleh lansia disebabkan karena faktor makanan. Indikator umum terjadinya masalah gizi pada lansia adalah penurunan berat badan, Indeks Massa Tubuh (IMT) yang tidak normal, kekurangan vitamin tertentu, dan penurunan asupan makanan atau nafsu makan [2]. Ketidakseimbangan asupan makanan adalah penyebab masalah gizi, lansia dapat menderita kekurangan atau kelebihan gizi. Faktor ini kemudian diperparah oleh perubahan yang secara alamiah terjadi dengan proses penuaan [5]. Untuk itu sangat perlu untuk memperhatikan kecukupan gizi lansia. Jika terjadi kekurangan gizi atau kelebihan gizi beberapa penyakit akan menyertai seperti penyakit infeksi, Jantung, serta Diabetes Melitus [5][6].

 

Berikut dapat dilihat angka kecukupan zat gizi makro lansia [6]:

Jenis Kelamin

Umur (tahun)

Berat Badan (cm)

TingBadan (kg)

Energi (kkal)

Protein (gram)

Lemak (gram)

Karbohidrat (gram)

Laki-laki

65-80

60

168

1900

62

53

309

 

>80

58

168

1525

60

42

248

Perempuan

65-80

54

159

1550

56

43

252

 

>80

53

159

1425

55

40

232

 

Selain zat gizi makro, zat gizi lainnya seperti vitamin dan mineral juga perlu diperhatikan. Vitamin B12, Vitamin D, Kalsium dan Besi merupakan zat yang memiliki peranan pada lansia. Kekurangan Vitamin B12 dapat menyebabkan atrophic gastritis yaitu keadaan dimana kelenjar-kelenjar penghasil asam lambung secara perlahan rusak [6]. Kekurangan Vitamin D dan Kalsium dapat menyebabkan osteoporosis, selain itu penelitian menyebutkan kekurangan Vitamin D dapat menyebabkan kelemahan otot [6][8]. Sementara kekurangan zat Besi lebih berisiko pada lansia perempuan dan diprediksi terjadi peningkatan setelah menopause, jika terjadi kekurangan akan terjadi kehilangan darah secara kronis atau menahun dan output asam lambung yang rendah [6].  

 

Angka Kecukupan Gizi untuk vitamin dan mineral tersebut dapat dilihat pada tabel berikut [7]:

Jenis Kelamin

Umur (tahun)

 Berat Badan (kg)

Tinggi Badan (cm)

Vitamin B12 (mikrogram)

Vitamin D (mikrogram)

Kalsium (miligram)

Besi (miligram)

Laki-laki

65-80

60

168

2,4

20

1000

13

 

>80

58

168

2,4

20

1000

13

Perempuan

65-80

54

159

2,4

20

1000

12

 

>80

53

159

2,4

20

1000

12

 

Untuk menghidari terjadinya kekurangan zat gizi di masa akan datang maka persiapkan masa tua kamu mulai dari sekarang dengan mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang. Dengan gizi yang cukup tetap produktif dan aktif di masa tua bukan menjadi masalah.

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

Muh. Nur Hasan Syah S.Gz., M.Kes.
UNHAS, Gizi Masyarakat dan Kebijakan Gizi, Dosen, Peneliti
Muh. Nur Hasan Syah yang memiliki nama panggilan Anca merupakan dosen dan peneliti di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Indonesia. Sebelumnya di Tahun 2010 dia telah menamatkan program sarjana dan masternya dengan latar belakang keilmuan pada bidang gizi di Universitas Hasanuddin, Makassar. Anca mengkhususkan fokus studinya pada gizi masyarakat dan kebijakan gizi.
A. F. Asna S.Gz., M.P.H.
UGM, Gizi, Ilmu Kesehatan Masyarakat
Asna merupakan lulusan S1 Gizi dari Universitas Gadjah Mada dan melanjutkan pendidikan S2 Gizi Masyarakat ditempat yang sama. Asna saat ini bekerja menjadi seorang tenaga pendidik di salah satu Perguruan Tinggi swasta di Bekasi, Jawa Barat.