Habbatus Sauda: What the Science Says

Sesungguhnya habbah sauda (jintan hitam) mengandung obat bagi semua jenis penyakit kecuali as-saam. Aisyah bertanya, “Apa itu as-saam?” Dijawab oleh Beliau, “as-Saam adalah kematian”. (Hadist Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

 

Sebagian masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim mungkin mengenal habbatus sauda melalui hadist tersebut atau mungkin dari kerabat, teman, maupun rekan kerja. Beberapa orang kemudian mengkonsumsinya atas dasar rekomendasi atau anjuran hadist tersebut. Namun, bagaimana sebenarnya ilmu pengetahuan menilainya?

 

Mengenal Habbatus sauda

Habbatus sauda atau jintan hitam merupakan biji yang berasal dari tanaman Nigella sativa yang dibudidayakan di wilayah Asia Barat [1]. Habbatus sauda mengandung berbagai macam zat gizi, seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Namun, terdapat zat yang memiliki efek paling menonjol dan menjadi fokus dalam dunia penelitian, yaitu thymoquinone [1,2]. Sejak tahun 1960, thymoquinone sudah banyak diteliti secara intensif mencapai lebih dari 400 penelitian [2]. Berdasarkan penelitian tersebut, ternyata zat ini memiliki efek positif yang sangat beragam dan telah didukung berdasarkan bukti ilmiah dari segi mekanisme molekuler [2]. Beberapa manfaat thymoquinone yang telah diteliti  secara mendalam yaitu [1-4]:

  • Perlindungan organ hati (hepatoprotektif)
  • Anti-inflamasi
  • Anti-bakteri
  • Immunomodulator (pengatur sistem imun)
  • Antioksidan yang juga berpotensi sebagai anti-diabetes dan anti-hiperlipidemia (mencegah peningkatan kadar lemak dalam darah)  [5-6].
  • Anti-kanker

 

Studi pada Manusia  ̶  Benarkah Obat?

Sudah lebih dari 400 penelitian  dalam kurun waktu  50 tahun yang menjelaskan  manfaat  dari thymoquinone. Namun apakah cukup untuk mengatakannya sebagai obat? Walaupun penelitian sudah berlangsung lama, penelitian mengenai efektifitas dan keamanan sebagai obat baru muncul pada tahun 2000-an ketika kecenderungan masyarakat terhadap penggunaan obat herbal meningkat [7]. Hal inilah yang menyebabkan belum banyak penelitian yang dilakukan pada manusia untuk menguji secara klinis [8].

 

Uji klinis suatu zat penting dilakukan untuk menentukan dosis terapi dan dosis toksik [8]. Hal ini dikarenakan manusia adalah makhluk yang unik sehingga tidak bisa disamakan dengan penelitian pada hewan, in vitro, atau in vivo. Penelitian sebelumnya hanya menjadi dasar bagi para peneliti dalam menguji secara klinis agar tetap sesuai etika penelitian. Selain itu, kandungan zat pada obat yang masuk ke dalam tubuh manusia bisa jadi memiliki reaksi yang berbeda meskipun dosis yang diujikan sama. Hal ini dipengaruhi oleh bioavailability-nya (jumlah zat yang dapat masuk ke dalam sistem sirkulasi darah), komposisi tubuh, kemampuan obat  berikatan dengan protein untuk  mendistribusikan obat ke seluruh  tubuh, dan sebagainya [8].

 

Hingga saat ini, penelitian menunjukkan bahwa habbatus sauda telah terbukti secara ilmiah memberikan banyak manfaat, namun penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk menentukan dosis yang efektif dan aman sebagai obat [2,4,5,6]. Toksisitas habbatus sauda  tergolong rendah, penggunaan  2 - 3 gram/hari dalam dosis terbagi atau sekitar 50 mg/kgBB/hari tidak akan menimbulkan  efek samping yang membahayakan. Laporan efek samping yang sampai saat ini hanya ditemukan pada penggunaan secara topikal (pemakaian luar)  berupa reaksi alergi [2].

 

Jadi bagaimana menggunakan Habbatus sauda yang baik?

Tidak masalah jika kamu ingin mengkonsumsi habbatus sauda karena manfaatnya yang beragam. Namun, karena belum ada dosis efektif yang ditetapkan, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan penggunaan saat ini hanya sebagai komplemen / tambahan bukan sebagai terapi pengobatan. Pada orang yang sehat, konsumsi habbatus sauda bisa dilakukan untuk meningkatkan imunitas. World Health Organization (WHO) sendiri telah menerima penggunaan obat herbal sebagai terapi komplemen, hanya saja WHO menganjurkan agar masyarakat berhati-hati dalam memilih produk. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa produk yang telah dicampurkan dengan zat-zat lain dan tidak terjamin keamanannya, serta belum cukup uji klinis yang dilakukan pada manusia [7]. Selain itu, karena kandungan dari setiap produk dapat berbeda tergantung dari proses pembuatannya, maka perhatikan baik-baik anjuran pemakaian dari masing-masing produk sebelum konsumsi.

 

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. Therapeutic Implications of Black Seed and Its Constituent Thymoquinone in the Prevention of Cancer through Inactivation and Activation of Molecular Pathways

  2. Nigella sativa (black seed) effects on plasma lipid concentrations in humans: A systematic review and meta-analysis of randomized placebo-controlled trials

Tentang Penulis dan Penyunting

cindy's picture
dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...
afina's picture
Afina Nuur F. M. S.Si., M.Sc.
ITB - Mikrobiologi, Lund University - Food Technology and Nutrition
Afina menyelesaikan studi magister di Lund University, Swedia tahun 2016 dengan jurusan Food Technology and Nutrition. Sebelumnya di tahun 2013 ia mendapatkan gelar sarjana pada bidang Mikrobiologi, Institut Teknologi Bandung. Kedua background keilmuan tersebut membuatnya tertarik untuk mempelajari lebih lanjut mengenai proses fermentasi makanan dan food safety.
tessa's picture
Tessa A. S. B.AS., M.Sc.
Haagse Hogeschool - Process and Food Technology, University of Helsinki - Food Science, Restauranter
Memiliki passion di bidang pangan yang tertanam sejak dini karena usaha rumah makan milik keluarganya. Tahun 2007, hijrah ke Den Haag, Belanda untuk meraih gelar sarjana di bidang Process and Food Technology (Haagse Hogeschool). Melanjutkan magisternya di bidang Food Science di University of Helsinki, Finlandia. Sejak Februari 2014, Tessa kembali ke tanah air untuk mengembangkan bisnis rumah...
basuki's picture
dr. T.R. Basuki M.D., M.P.H., Ph.D
Reviewer, Medical Doctor, Master - Public Health, PhD - Fetal Medicine, Barcelona University, Lund University
Dr. Basuki menyelesaikan pendidikan S3 (PhD) di Barcelona Spanyol dan Lund Swedia. Topik S3 Dr. Basuki adalah Fetal Medicine yang merupakan program bersama Barcelona University dan Lund University. Sebelumnya Dr. Basuki juga menempuh pendidikan S2 di bidang Public Health di 3 universitas di eropa dengan beasiswa Erasmus Mundus.
crisant's picture
Dipl-Ing A. Chrisant R. S.T., M.Sc.
SGU - Food Technology, AgroParisTech, Dublin Institute of Technology, Lund University - Food Innovation and Product Design
Chrisant sekarang sedang memperkaya ilmunya dalam Erasmus Mundus Master Course of Food Innovation and Product Design (FIPDes). Seorang dengan ketertarikan terhadap dunia internasional, Chrisant memanfaatkan setiap kesempatan untuk traveling untuk melihat bagaimana beragam cara orang menjalani hidup. Seringkali juga, traveling membantu Chrisant menemukan kesukaannya yang lain, yaitu makanan.
rizal's picture
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.