Indeks Glikemik: Apa itu?

Indeks Glikemik adalah angka yang menunjukkan efek karbohidrat dalam setiap makanan dalam menaikkan kadar glukosa darah, atau yang lebih sering disebut gula darah [1]. Berdasarkan indeks glikemiknya, makanan dapat dibagi menjadi indeks glikemik rendah (<55), indeks glikemik sedang (56-70), dan indeks glikemik tinggi (>70). Namun, hasil tersebut mungkin dapat mengejutkan Anda (lihat tabel 1).

 

Tabel 1. Indeks Glikemik Makanan [1]

Indeks Glikemik rendah

(IG <55)

Indeks Glikemik sedang

(IG 56-70)

Indeks Glikemik tinggi

(IG >70)

Anggur

Yoghurt (low-fat, tanpa gula)

Apel

Pear

Jeruk

Kacang-kacangan

Hampir seluruh non-starchy vegetable (wortel, brokoli, kembang kol, bean, asparagus, tomat, kol, timun, terong)

Beras merah

Cola

Gula Dapur

Es krim

Pisang

Kiwi

Oatmeal

Roti gandum (whole wheat)

Muffin

Nasi

Kentang

Minuman berenergi (sports drink)

Donat

Semangka

Cornflakes

Roti putih

 

Berdasarkan tabel tersebut, terlihat hal-hal yang mungkin menarik perhatian. Salah satu contohnya, es krim dan gula dapur ternyata memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan nasi atau kentang. Jadi, apakah es krim dan gula dapur lebih baik? Hal yang perlu kamu ingat adalah hasil pada tabel tersebut merupakan hasil secara umum saja. Pada kenyataannya, hasil dari berbagai laboratorium memiliki variasi yang jauh berbeda, bahkan untuk satu jenis makanan yang sama [1]. Jadi, belum tentu setiap es krim yang kamu makan selalu memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan nasi. Perbedaan tersebut bisa dipengaruhi oleh faktor makanan maupun faktor individu setiap orang [1].

 

Dari faktor makanan, hasil laboratorium sendiri dipengaruhi oleh tingkat kematangan bahan makanan, bagaimana makanan tersebut diproduksi, diproses, dan dimasak. Selain itu, respon insulin terhadap glukosa memiliki variasi yang sangat berbeda pada setiap orang. Oleh karena itu, seseorang bisa jadi memiliki kemampuan menurunkan gula darah lebih cepat atau lebih lambat dari orang lainnya pada satu waktu.[1]

 

Apakah makanan dengan indeks glikemik rendah lebih sehat?

Dalam menentukan makanan sehat atau tidak sehat, kamu tidak bisa menentukannya hanya dengan melihat indeks glikemik. Masih banyak kandungan gizi makanan lainnya yang memberikan pengaruh terhadap kesehatan dan perlu dipertimbangkan, misalnya protein, lemak, serat, vitamin, dan mineralnya [1].

 

Bagaimana untuk orang diabetes yang butuh mengontrol kadar gula darahnya? Berdasarkan hasil penelitian, diet makanan indeks glikemik rendah hanya memiliki perbedaan penurunan gula darah yang sedikit berbeda dengan diet indeks glikemik tinggi. Hal ini mungkin berguna untuk membantu kebutuhan obat dalam jangka waktu pendek hingga sedang. Namun, pengaruh diet tersebut terhadap komplikasi penyakit diabetes sendiri kemungkinan tidak memiliki efek yang besar [2].

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.