Intoleransi Laktosa dan Alergi Susu: Serupa tapi Tak Sama?

“Intoleransi laktosa” pernyataan ini terdengar sangat asing bukan. Kita lebih akrab dengan “alergi susu”.  Sekilas alergi susu dan intoleransi laktosa sepertinya sama. Padahal dua kondisi tersebut adalah dua kondisi yang serupa tapi tak sama lho. Lalu apa bedanya?

 

Pengertian Intoleransi Laktosa / Lactose Intolerance

 

Pengertian intoleransi Laktosa atau lactose intolerance  adalah penyakit yang Umumnya terjadi pada orang dewasa. Penyebab intoleransi laktosa pada orang dewasa terjadi karena seiring dengan bertambahnya umur, produksi enzim laktase menjadi semakin berkurang. Enzim laktase adalah protein khusus yang bisa memecah laktosa (gula jenis disakarida pada susu) menjadi galaktosa dan glukosa (gula jenis monosakarida) yang siap masuk ke dalam sel-sel tubuh untuk di metabolisme. 

 

Pada penderita intoleransi laktosa, sel-sel di usus halus tidak menghasilkan atau menghasilkan laktase dalam jumlah yang sangat sedikit. Sehingga, laktosa yang harusnya dapat dicerna dan diserap selama melewati usus halus, malah lolos menuju ke usus besar dan   menjadi makanan bagi mikroorganisme yang ada di usus besar, seperti E. coli, Lactobacillus, Bifidobacteria dan sekitar 20an jenis (genus) lainnya (1). Akibat dari intoleransi laktosa, kadar laktosa pada usus besar menjadi lebih banyak dari biasanya sehingga produksi asam lemak dan gas, seperti hidrogen (H2), metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan oleh bakteri penghuni usus besar pun bertambah (1). Hal inilah yang menyebabkan masalah pencernaan. 

 

Terkena Intoleransi Laktosa pada saat Dewasa

 

Nah ini menjadi jawaban bagi teman-teman yang dulunya bisa minum susu saat masih anak-anak hingga remaja, namun terkena intoleransi laktosa pada saat dewasa. Kadar intoleransinya pun berbeda-beda dipengaruhi oleh kadar laktosa yang dikonsumsi (2) (1), waktu transit makanan di usus, jumlah dan ragam jenis bakteri di usus (3,4) (2,3), ada atau tidak konsumsi makanan selain dairy product. Beragam faktor tersebut menghasilkan kadar intoleransi yang berbeda-beda, contohnya sebagian orang ada yang masih merasa nyaman saat mengkonsumsi keju dan yoghurt tapi tidak saat mengkonsumsi susu murni. 

 

Pengertian Alergi Susu

 

Alergi susu merupakan salah satu alergi makanan yang sering terjadi pada anak-anak (5). Alergi ini dapat hilang dari kebanyakan anak, namun pada umur yang bervariasi. Ada yang sembuh saat berumur 2, 4, 12, dan 16 tahun (6). 
Pada penderita alergi susu, protein yang ada dalam susu (kasein dan whey) dianggap molekul asing oleh tubuh, sehingga saat susu masuk ke dalam pencernaan, sistem imun akan memberikan respons dengan menghasilkan antibodi (IgE). Nah, IgE inilah yang kemudian beredar di tubuh dan memicu terjadinya proses inflamasi dan respon lainnya terhadap keberadaan alergen, penyebab alergi (5). Gejala yang ditimbulkan dari alergi susu, tidak bergantung pada jumlah susu yang dikonsumsi. Sangat kompleks bukan ? Oleh karena itu, untuk mengatasi alergi susu, penderita alergi susu sebaiknya tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung susu dan protein-protein susu. 

 

Persamaan Intoleransi Laktosa dan Alergi Susu - Apanya yang serupa?

 

Keduanya berkaitan dengan susu dan produk berbahan dasar susu (dairy product) dan memiliki gejala yang serupa, yaitu gangguan pencernaan. Akan tetapi, alergi susu juga dapat menimbulkan gejala lainnya seperti gatal dan ruam pada kulit atau daerah mulut, keram perut, dan gejala alergi lainnya (7,8). Pada reaksi yang berat, reaksi alergi dapat memicu penyempitan saluran pernafasan yang mengancam jiwa. Sementara, gejala utama intoleransi laktosa hanya akan menyebabkan gangguan pencernaan, sangat khas dengan ketidaknyamanan daerah perut, terutama perut kembung.

 

Perbedaan Alergi Susu dan Intoleransi Laktosa

 

Jadi, dari ulasan di atas, jelas bahwa alergi susu dan intoleransi laktosa itu berbeda. Intoleransi laktosa terjadi karena berkurang atau terhentinya produksi enzim laktase (paragraph 2 dan 3) dan metabolisme mikroorganisme di usus dalam memanfaatkan laktosa yang ada. Hal ini kemudian mengakibatkan gangguan pencernaan, sedangkan alergi susu melibatkan sistem imun yang menganggap protein susu adalah “benda asing” sehingga terjadi respons alergi.
Setelah tau bedanya dengan alergi, pasti penasaran kan kenapa produksi laktase umumnya berkurang saat kita semakin dewasa, siapa ras dengan persentase into, dan hal unik lainnya terkait intoleran laktosa? Tunggu di artikel selanjutnya ya! (disini)!

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. A study of the methodological and clinical validity of the combined lactulose hydrogen breath test with scintigraphic oro-cecal transit test for diagnosing small intestinal bacterial overgrowth in IBS patients

  2. Lactose intolerance in patients with chronic functional diarrhea: the role of small intestinal bacterial overgrowth

  3. World Allergy Organization (WAO) Diagnosis and Rationale for Action against Cow's Milk Allergy (DRACMA) Guidelines

  4. What should I do if I think my baby is allergic or intolerant to cows' milk? - Health questions - NHS Choices

Tentang Penulis dan Penyunting

I.D.G.S. Deva, S.Si. M.P.H (c)
ITB - Mikrobiologi, Imperial College London - Public Health
Deva saat ini merupakan salah satu mahasiswa magister di Imperial College London dengan jurusan Public Health. Sebelumnya ia lulus dari program studi Mikrobiologi di Institut Teknologi Bandung. Ketertarikan akan penyakit infeksi sejak dari menempuh sarjana, kemudian dibawa dalam jenjang magister dengan mempelajari kesehatan masyarakat yang lebih menekankan pada sisi pencegahan penyakit dalam...
dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...