Junk Food dan Fast Food Apakah Sama ?

Perkembangan jenis pilihan menu makanan kita tanpa disadari bergerak pesat, juga seperti perkembangan teknologi. Mungkin dua puluh tahun yang lalu, kita masih terbiasa memakan makanan buatan rumah yang sederhana. Kini pun makanan yang “sederhana” tersaji banyak di luar rumah, ditambah dengan proses membuatnya yang secepat kilat pula! Nah, istilah makanan cepat saji atau Fast Food itu apakah menandakan bahwa makanan tersebut tidak sehat atau Junk Food?

 

Fast food bila diterjemahkan menjadi makanan cepat saji. Secara bahasa, ini berarti semua makanan yang dimasak dengan proses yang cepat termasuk dalam kategori ini. Terlepas apakah makanan tersebut memiliki kandungan gizi yang baik atau tidak. Sedangkan istilah Fast Food sendiri (1) berarti makanan yang diproses dengan cepat oleh sebuah restoran dengan tingkat kemiripan tinggi dari hasil masakan satu restoran ke restoran yang lain (standarisasi). Contoh makanan tersebut (2) antara lain soft drink, burger, pizza dan hot dog. Salah satu restoran Fast Food yang menjual ayam goreng bahkan telah memiliki >30.000 cabang di seluruh dunia (3). Sehingga mudah sekali untuk kita mendapatkan makanan cepat saji ini. Fast Food diketahui mengandung kalori yang sangat tinggi, kadar lemak jenuh yang besar, serta kandungan mikronutrien yang rendah (4-9). Konsumsi jenis makanan ini secara berlebihan tentunya akan meningkatkan angka IMT (Indeks Massa Tubuh) serta meningkatkan risiko terkena obesitas (10,11).

 

Junk Food secara harfiah berarti makanan sampah. Bukan berarti kita memakan makanan sisa di tempat sampah. Berdasarkan sebuah studi (12), istilah Junk Food ini digunakan oleh warga di Kanada untuk merujuk kepada makanan yang tidak sehat. Para partisipan di studi tersebut menghubungkan konsumsi Junk Food dengan peningkatan berat badan, makan bersama teman, kesenangan, kebebasan dan rasa bersalah. Sedangkan menurut mereka makanan sehat itu berhubungan dengan turunnya berat badan, makan bersama orang tua dan berada di dalam rumah. Ada pula yang mengistilahkan Junk Food dengan makanan siap saji atau instan (13).

 

Alhasil, bisa kita ambil benang merah hubungan antara Fast Food dan Junk Food. Secara umum kedua kategori makanan ini memiliki kemiripan. Dikatakan Fast Food karena disajikan dengan waktu yang instan serta hasil makanan yang sangat mirip satu sama lain. Juga dikatakan Junk Food karena makanan tersebut kurang mengandung gizi sehingga walaupun sudah mengenyangkan namun tidak memenuhi kebutuhan gizi penting lainnya.

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. Fast Food consumption and breakfast skipping: predictor of weight gain from adolescence to adulthood in a nationally representative sample

  2. Hubungan Iklan Makanan dan Minuman di Media Massa dengan Frekuensi Konsumsi Junk Food pada Remaja di SMA Negeri 13 Palembang Tahun 2009

Tentang Penulis dan Penyunting

Dipo Wicaksono S.K.M. M.K.M
Universitas Indonesia, Gizi Kesehatan Masyarakat, Dosen, Peneliti
Dipo sekarang bekerja sebagai dosen ilmu gizi di salah satu Universitas Swasta di Jakarta. Selain menjadi dosen, Dipo juga sebagai peneliti, baik peneliti di pemerintah maupun di tempat almamaternya di Universitas Indonesia (UI).
Rifqi Ahmad Riyanto S.Si., M.Sc.
ITB - Mikrobiologi, KNRTU - Food Technology
Kazan National Research Technological University, Rusia menjadi tempat menempuh pendidikan magister bagi Rifqi saat ini dalam bidang Teknologi Pangan. Selain aktif dalam bidang sains, saat ini juga aktif sebagai relawan untuk salah satu lembaga non-profit yang bergerak di bidang sosial.