Karotenoid, antioksidan cerah dari makanan

karotenoid terdapat dalam berbagai makanan, khususnya sayur-mayur
Photo by Fikri Rasyid on Unsplash

Salah satu jenis fitonutrien adalah kelompok terpenoid, yakni metabolit sekunder tanaman turunan dari zat yang dikenal sebagai terpena. Nah, salah satu golongan penting dari terpenoid yang ada pada makanan adalah karotenoid. Kamu cukup familiar kan dengan namanya? Ya, carrot alias wortel mengandung banyak karotenoid. "Bahan baku" vitamin A pun merupakan senyawa yang berasal dari golongan karotenoid.

 

Masih berdasarkan struktur kimianya, karotenoid bisa dibagi lebih lanjut menjadi karoten dan xantofil[1]. Karoten adalah senyawa karotenoid yang tidak mengandung unsur oksigen, sedangkan xantofil mengandung unsur oksigen pada molekulnya. Selain itu, karotenoid juga bisa dibagi menjadi provitamin A dan karotenoid non-provitamin A. Karotenoid yang tidak dapat dimetabolisme menjadi vitamin A digolongkan ke dalam karotenoid non-provitamin A, sedangkan karotenoid provitamin A dimetabolisme menjadi vitamin A. Hampir semua provitamin A merupakan senyawa karoten. Jangan lupa nonton video ini untuk tahu tentang perubahan provitamin A menjadi vitamin A, ya.

 

Peran karotenoid bagi kesehatan

Karotenoid provitamin A tentunya berperan sebagai sumber vitamin A, yang bisa kamu simak fungsinya di artikel yang ini. Sedangkan karotenoid lainnya walaupun tidak dianggap sebagai zat gizi, memiliki potensi untuk menunjang kesehatan. Selain berwarna cerah, pada dasarnya semua karotenoid punya aktivitas antioksidan. Likopen, lutein, dan zeaxanthin termasuk contoh karotenoid non-provitamin A yang sudah banyak dikaji.

Peran likopen, sifat likopen, suplemen likopen, dan likopen pada tomat, semangka dan buah naga

struktur likopen

Likopen (lycopene) adalah senyawa karoten yang memberikan warna jingga hingga merah pada beberapa buah. Misalnya tomat, semangka, pepaya, buah naga dan anggur merah. Sifat antioksidan likopen tiga kali lipat lebih tinggi daripada tokoferol alias vitamin E[2], tetapi dibanding karotenoid lainnya aktivitas antioksidan likopen terbilang rendah. Likopen diduga bisa berperan mencegah kanker, khususnya kanker prostat. Akan tetapi, dugaan tersebut baru berasal dari studi terkait pola konsumsi makanan yang tinggi likopen, yang biasanya juga mengandung banyak senyawa fitokimia lainnya. Jadi belum bisa dipastikan apakah efek antikanker berasal dari likopen atau senyawa lainnya. Studi-studi terkait pemberian suplemen likopen belum menunjukkan bukti yang meyakinkan tentang peran senyawa itu dalam menghambat kanker. [3]

 

Manfaat dan pengertian lutein dan zeaxanthin

struktur lutein dan zeaxanthin

Lutein dan zeaxanthin adalah xantofil yang banyak terdapat pada berbagai sayuran dan beberapa buah. Keduanya memiliki rumus kimia yang sama, hanya saja susunan strukturnya sedikit berbeda. Lutein dan zeaxanthin juga merupakan pigmen pada makula. Makula adalah bagian kecil di retina mata yang menyerap sinar biru dan ultraviolet yang masuk. Peran lutein dan zeaxanthin bisa diibaratkan seperti tabir surya. Sinar gelombang pendek dapat merusak lapisan sel reseptor penangkap cahaya di mata, jadi penyerapan sinar tersebut oleh pigmen makula diperlukan untuk melindungi mata dari kerusakan. Penelitian juga menunjukkan bahwa kadar pigmen makula ini berbanding terbalik dengan jumlah kasus penyakit degenerasi makula, yang umumnya terjadi pada lansia. [4] Tanaman yang mengandung lutein biasanya juga mengandung zeaxanthin. Begitu pula sebaliknya, tanaman yang mengandung zeaxanthin biasanya juga mengandung lutein. Beberapa contoh sayuran yang mengandung lutein dan zeaxanthin adalah bayam, jagung, kangkung, dan brokoli. Sedangkan contoh buah yang mengandung lutein dan zeaxanthin adalah kiwi dan anggur. [5]

 

Karotenoid tidak hanya terdapat pada tanaman

Karotenoid merupakan pigmen alami yang paling banyak persebarannya. Karotenoid memberikan warna kuning kemerahan bagi sebagian tanaman [1]. Misalnya karotenoid memberikan warna jingga pada wortel dan warna merah pada tomat. Akan tetapi, sayuran hijau juga banyak yang mengandung karotenoid. Pada beberapa sayuran, misalnya bayam dan kangkung, warna dari klorofil lebih mendominasi sehingga yang terlihat adalah warna hijau.

 

Sebagaimana vitamin A, karotenoid bersifat larut lemak sehingga lebih terserap oleh tubuh bila dikonsumsi bersama sejumlah lemak. Beberapa proses pemasakan mulai dari memotong hingga memanaskan juga membuat karotenoid yang ada pada makanan lebih mudah diserap tubuh.[3]

 

Selain tanaman, beberapa organisme lain juga mengandung karotenoid. Misalnya karotenoid terdapat pada kuning telur. Kuning telur mengandung sedikit lutein namun sangat mudah diserap tubuh. Ada juga astaxanthin, suatu xantofil dengan aktivitas antioksidan sangat tinggi [2]. Astaxanthin dimiliki oleh beberapa jenis organisme laut, khususnya beberapa ikan yang berwarna merah.

 

Senyawa karotenoid juga banyak yang sudah diformulasikan menjadi suplemen. Namun seperti yang sudah disebutkan, manfaat yang bisa didapat dari suplemen belum tentu sama ataupun lebih besar daripada mengonsumsi karotenoid dari makanan secara alami. Karena bisa jadi kehadiran zat gizi ataupun fitonutrien yang lain di makanan bersinergi dalam memberikan manfaat kesehatan. 

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. Natural Pigments: Carotenoids, Anthocyanins, and Betalains — Characteristics, Biosynthesis, Processing, and Stability

  2. Fruits and vegetables that are sources for lutein and zeaxanthin: the macular pigment in human eyes.

Tentang Penulis dan Penyunting

ayunina's picture
Ayunina R. F., Apt., M.Sc.
ITB, Farmasi, Ghent University, Nutrition and Rural Development
Semenjak menempuh pendidikan di Sekolah Farmasi ITB, Ayunina tertarik dengan peran makanan dan gaya hidup dalam penyembuhan dan kesehatan. Hal ini pun mengantarkannya untuk menempuh pendidikan magister di jurusan Nutrition and Rural Development di Ghent University dengan beasiswa dari pemerintah wilayah Flanders, Belgia. Setelah memperoleh gelar masternya di tahun 2016, Ayunina kini mengelola...
keni's picture
Keni Vidilaseris, PhD
ITB-Kimia, Biokimia; PhD- Biologi struktural, Vienna University
Keni adalah seorang peneliti di Departemen Biokimia, Universitas Helsinki, Finlandia sejak tahun 2014. Fokus penelitiannya adalah penentuan struktur protein membran dari parasit penyebab malaria, toksoplasmosis, dan juga sleeping sickness sebagai target pengobatan. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana dan masternya dari program studi Kimia di Institut Teknologi Bandung. Pendidikan Doktoralnya ia...
afina's picture
Afina Nuur F. M. S.Si., M.Sc.
ITB - Mikrobiologi, Lund University - Food Technology and Nutrition
Afina menyelesaikan studi magister di Lund University, Swedia tahun 2016 dengan jurusan Food Technology and Nutrition. Sebelumnya di tahun 2013 ia mendapatkan gelar sarjana pada bidang Mikrobiologi, Institut Teknologi Bandung. Kedua background keilmuan tersebut membuatnya tertarik untuk mempelajari lebih lanjut mengenai proses fermentasi makanan dan food safety.
rizal's picture
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.