Enzim

Model Enzim
A2-33
[CC BY-SA 3.0 (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0)], via Wikimedia Commons

Tahukah kamu apa itu enzim?

Enzim adalah alat bantu tubuh dalam aktivitas pencernaan dan penguraian zat gizi sehingga dapat menjadi energi bagi tubuh kita. Enzim juga diperlukan untuk metabolisme tubuh kita. Makanan yang kita konsumsi setiap harinya tidak dapat digunakan oleh tubuh kalau bukan karena peran enzim.

 

Apa peran enzim ini?

Enzim berperan untuk membantu terjadinya suatu reaksi biokimia yang terjadi di dalam tubuh. Dalam ilmu kimia dasar, kita mengetahui bahwa terdapat ambang batasan energi tertentu yang harus dilewati untuk terjadinya sebuah reaksi kimia. Ambang batas energi itu disebut energi aktivasi. Dalam proses ini, enzim sering disebut sebagai katalis, atau sesuatu yang akan memicu terjadinya reaksi (kimia) [1].

 

Sebelum kita telusuri bagaimana kerja enzim, apakah kamu sudah tahu dari mana tubuh mendapatkan enzim?

Sel tubuh kita sudah mempunyai kemampuan untuk memproduksi enzim, jadi enzim-enzim tersebut tidak perlu kita dapatkan dari makanan. Ada berbagai jenis enzim yang masing-masing memiliki fungsi yang spesifik. Enzim akan diproduksi di sel-sel tertentu sesuai dengan fungsi masing-masing.

 

Bagaimana kerja enzim dalam tubuh?

Enzim bekerja secara spesifik di dalam tubuh kita. Setiap jenis enzim ini berpasangan dengan molekul awal yang spesifik (substrat) dalam reaksi kimia. Substrat ini hanya dapat menempel di tempat khusus pada enzim, yang dinamakan situs aktif atau active site [1]. Gabungan antara substrat yang menempel dengan enzim dinamakan kompleks enzim-substrat. Setelah terjadi kompleks enzim-substrat tersebut, enzim baru bisa berfungsi dan reaksi kimia terjadi. Pada akhir proses ini, terdapat produk yang dihasilkan. Enzim tersebut kemudian masih dapat digunakan untuk melakukan proses katalis kembali (lihat gambar) [1].

 

Model Kerja Enzim

Gambar 1. Kerja Enzim

 

Salah satu contoh reaksi biokimia yang akan dibantu oleh enzim adalah memecah molekul besar menjadi molekul yang kecil contohnya amilase. Amilase memiliki substrat zat pati (starch) yang akan dipecah menjadi molekul yang lebih kecil seperti maltosa [2]. Contoh fungsi enzim lainnya adalah untuk menggabungkan beberapa molekul contohnya DNA ligase. DNA ligase akan menyambung nukleotida DNA agar dapat terbentuk rangkaian DNA yang panjang [4].

 

Mengapa enzim memiliki fungsi yang sangat spesifik?

Enzim terbuat dari protein yang besar, kompleks, dan memiliki bentuk yang saling melipat dengan dirinya sendiri. Namun, dalam struktur yang kompleks tersebut, terdapat suatu bagian yang bentuknya sangat pas dan spesifik dengan molekul substrat. Bagian tersebut dinamakan situs aktif (active site) ─ tempat substrat menempel. Jika substrat memiliki bentuk berbeda dengan situs aktifnya, maka enzim pun tidak berfungsi. Oleh karena itu, enzim sering di deskripsikan dengan key and lock model (seperti layaknya kunci dan gembok). Enzim bagaikan gembok, dan molekul substrat bagaikan kunci yang pas dengan gembok tersebut [2,3].

Tentang Penulis dan Penyunting

Dipl-Ing A. Chrisant R. S.T., M.Sc.
SGU - Food Technology, AgroParisTech, Dublin Institute of Technology, Lund University - Food Innovation and Product Design
Chrisant sekarang sedang memperkaya ilmunya dalam Erasmus Mundus Master Course of Food Innovation and Product Design (FIPDes). Seorang dengan ketertarikan terhadap dunia internasional, Chrisant memanfaatkan setiap kesempatan untuk traveling untuk melihat bagaimana beragam cara orang menjalani hidup. Seringkali juga, traveling membantu Chrisant menemukan kesukaannya yang lain, yaitu makanan.
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.

Artikel Di Kategori Yang Sama

Intoleransi Laktosa dan Alergi Susu: Serupa tapi Tak Sama?