Kolin

Telur Mentah, Kuning Telur
Jefras
[Public domain], via Wikimedia Commons

Kolin sering disebut sebagai zat gizi yang terlupakan karena tubuh kita sendiri dianggap bisa membentuk kolin dalam jumlah yang cukup. Kendati demikian, ditemukan bukti bahwa jumlah kolin yang dihasilkan tubuh pada orang yang mengkonsumsi rendah atau bebas kolin tidak mencukupi [1]. Oleh karena itu, sejak tahun 1998, kolin mulai dianggap sebagai zat gizi yang perlu dikonsumsi [2].  Kolin memiliki banyak fungsi di tubuh kita sehingga kekurangan kolin menyebabkan berbagai macam gangguan, seperti gangguan metabolisme atau kerusakan organ. Terkait fungsinya pada sistem saraf, kekurangan kolin dapat menyebabkan gangguan perkembangan saraf dan otak, gangguan koordinasi tubuh, kelemahan otot, hingga gangguan memori [1,2].

 

Mengapa demikian? Kolin ditemukan dalam berbagai bentuk di tubuh kita, berupa phospatidylcholine, sphingomyelin, dan acethylcholin [2]. Bentuk phospatidylcholine berperan untuk menjaga struktur sel tubuh kita [1,2]. Bentuk lainnya, yaitu sphingomyelin dan acethylcholin memiliki peran dalam sistem saraf yang penting untuk menyampaikan dan mengkoordinasikan informasi dari tubuh. Tujuannya agar timbul respons tubuh yang tepat terhadap informasi yang dikirimkan [2].

 

Tidak hanya itu, kolin juga berperan sebagai donor metil, artinya kolin akan menyumbangkan satu unit karbon dalam reaksi kimia tubuh. Apa yang dihasilkan dari reaksi tersebut? Reaksi ini disebut sebagai reaksi dasar yang dibutuhkan untuk menjaga fungsi normal tubuh, bisa dikatakan semua sel tubuh membutuhkan reaksi ini. Faktor terbesar ganggguan yang timbul akibat kekurangan kolin disebabkan adanya gangguan pada reaksi ini. Beberapa proses penting yang bergantung pada reaksi ini adalah regulasi protein, DNA, interaksi sinyal di otak, dan detoksifikasi [2].

 

Tabel 1. Kandungan Kolin pada Makanan

Jenis makanan

Jumlah (100 gr)

Kuning telur

Hati sapi

Telur

Ayam

Ikan salmon

Susu

Kedelai

Kacang-kacangan

820,2 mg

418,2 mg

293,8 mg

290 mg

223,8 mg

169,2 mg

124,3 mg

64,6 mg

 

Berapakah kebutuhan kolin? Kebutuhan kolin yang dianggap cukup untuk dewasa adalah 550 mg/hari (laki-laki) dan 425 mg/hari (wanita). Karena perkembangan saraf dan otak dimulai sejak dalam kandungan, ibu hamil dan menyusui direkomendasikan untuk meningkatkan konsumsi kolin hingga 550 mg/hari [1]. Apakah ada batas maksimal? Kelebihan kolin akan menyebabkan bau badan (fish-odor syndrome) dan keringat berlebih [1]. Walaupun hal tersebut tidak fatal, kelebihan kolin menimbulkan efek samping penurunan tekanan darah dan gula darah. Oleh karena itu, ditentukan jumlah maksimal sebesar 3500mg/hari berdasarkan timbulnya efek samping minimal yang diamati [2]. Kandungan kolin pada makanan dapat dilihat pada tabel [3].

Kategori

Tentang Penulis dan Penyunting

dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.