Selenium

Sushi
Akira Kamikura
[CC BY 2.0 (http://creativecommons.org/licenses/by/2.0)], via Wikimedia Commons

Mikronutrien yang berlambang Se ini ditemukan oleh Jacob Berzelius di Swedia pada tahun 1817 [1]. Unsur ini di dalam tubuh manusia sebagian besar dalam bentuk selonosistein yang berperan langsung dalam fungsi berbagai protein mamalia, salah satunya GSPHx yang berfungsi sebagai katalis pada proses pemecahan senyawa toksik hidroperoksida [2]. Hal ini menunjukkan bahwa unsur selenium punya peran penting dalam sistem pertahanan tubuh berupa pembentukan antioksidan.

 

Kekurangan unsur selenium bisa menyebabkan penyakit. Penyakit Keshan dengan ciri tubuh mudah lelah, kehilangan nafsu makan, hingga kerusakan pada jantung adalah salah satu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan unsur ini [2]. Akibat kekurangan senyawa antioksidan yang terbuat dari unsur selenium, senyawa hidroperoksida yang tidak terkontrol jumlahnya mulai menyerang berbagai jaringan tubuh.

 

Beragam makanan mengandung unsur selenium. Sebagai contoh ikan tuna, biji-bijian hingga produk olahan susu sapi. Paling banyak terdapat di ikan dan produk hasil laut lainnya [2].

 

Kebutuhan setiap hari untuk unsur ini berbeda-beda di setiap negara karena ketersediaan unsur selenium di dalam bahan makanan alami seperti biji-bijian berbeda-beda sesuai dengan keadaan lingkungan dan agrikultur. Oleh karena itu, saran yang diberikan ini berdasarkan dari daerah yang terdampak penyakit akibat kekurangan selenium yakni penyakit Keshan di China. Sebuah penelitian memaparkan bahwa orang dewasa pada daerah yang setiap hari mengonsumsi makanan dengan kadar selenium 19.1 dan 13.3 μg/hari untuk pria dan wanita, tidak ditemukan orang yang terkena penyakit Keshan [3]. Sedangkan batas atas unsur ini dikonsumsi setiap harinya berdasarkan saran WHO adalah 400 μg/hari [2].

 

Tentang Penulis dan Penyunting

Rifqi Ahmad Riyanto S.Si., M.Sc.
ITB - Mikrobiologi, KNRTU - Food Technology
Kazan National Research Technological University, Rusia menjadi tempat menempuh pendidikan magister bagi Rifqi saat ini dalam bidang Teknologi Pangan. Selain aktif dalam bidang sains, saat ini juga aktif sebagai relawan untuk salah satu lembaga non-profit yang bergerak di bidang sosial.
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.