Vitamin B1 (Thiamin)

Gandum
Dako99
"Weizen2" by Dako99 - Own work. Licensed under CC BY-SA 3.0 via Wikimedia Commons - https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Weizen2.jpg#/media/File:Weizen2.jpg

Vitamin B1, atau yang biasa disebut dengan thiamin, merupakan vitamin yang larut di dalam air (sama halnya dengan vitamin C dan anggota kelompok vitamin B lainnya). Sifatnya yang larut air ini menyebabkan vitamin ini mudah terlarut pada air yang digunakan dalam proses memasak [1].

 

Fungsi utama Vitamin B1 (thiamin) bagi tubuh adalah untuk membantu dalam menghasilkan energi terutama pada proses metabolisme karbohidrat [1]. Sayangnya hanya sedikit jumlah thiamin yang dapat disimpan di dalam tubuh dan selebihnya akan dikeluarkan bersamaan dengan urin. [1]. Oleh karena itu penting bagi kita untuk memenuhi kebutuhan thiamin setiap harinya. Namun perlu diketahui bahwa setiap orang memiliki kebutuhan thiamin yang berbeda-beda, bergantung pada umur, jenis kelamin dan beberapa kondisi khusus seperti kehamilan maupun kondisi sedang menyusui. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1 [2].

 

Tabel 1. Rekomendasi kebutuhan vitamin B1

Umur

Laki-laki

Perempuan

Masa kehamilan

Masa menyusui

1-3 tahun

0.5 mg

0.5 mg

   

4-8 tahun

0.6 mg

0.6 mg

   

9-13 tahun

0.9 mg

0.9 mg

   

14-18 tahun

1.2 mg

1.0 mg

1.4 mg

1.4 mg

19-50 tahun

1.2 mg

1.1 mg

1.4 mg

1.4 mg

51 tahun ke atas

1.2 mg

1.1 mg

   
 

Kita bisa mendapatkan thiamin dari berbagai sumber makanan, terutama pada kentang, sereal gandum, daging dan ikan. Namun, terdapat beberapa hal yang dapat merusak thiamin, contohnya cahaya, proses memasak menggunakan suhu tinggi, dan senyawa tannic acid yang terkandung di dalam teh. [1]. Sebagai contoh, meskipun roti (yang berasal dari gandum) mengandung thiamin dengan jumlah yang signifikan, kandungan thiamin akan berkurang ketika roti tersebut terpapar cahaya matahari pada etalase toko.  Selain itu mikroorganisme, seperti bakteri untuk proses fermentasi, juga dapat menghasilkan enzim tertentu yang mampu mengubah struktur thiamin. Contohnya, kandungan thiamin pada ikan fermentasi ternyata lebih rendah dibandingkan dengan masakan yang berbahan dasar ikan segar atau tanpa proses fermentasi sebelumnya [1], meskipun tentunya produk makanan fermentasi memiliki zat gizi lain yang baik bagi tubuh. Salah satu contoh masakan ikan fermentasi di Indonesia adalah bekasam dan peda.

 

Apa dampaknya jika kamu kekurangan vitamin B1? Pernah mendengar mengenai penyakit beri-beri? Umumnya kita tahu bahwa penyakit beri-beri merupakan akibat dari tidak terpenuhinya kebutuhan vitamin B1. Tetapi tahukah kamu bahwa penyakit beri-beri ini merupakan salah satu penyebab permasalahan kesehatan jantung di Asia Tenggara? Yup, dan ternyata penyakit ini juga dapat menyebabkan gangguan fungsi sensorik, motorik dan gerak refleks. [1] Oleh sebab itu pemenuhan kebutuhan vitamin B1 menjadi hal yang teramat penting ya!

 

 

Tentang Penulis dan Penyunting

Afina Nuur F. M. S.Si., M.Sc.
ITB - Mikrobiologi, Lund University - Food Technology and Nutrition
Afina saat ini sedang menjalani masa studi magister di Lund University, Swedia sejak tahun 2014 dengan jurusan Food Technology and Nutrition. Sebelumnya di tahun 2013 ia mendapatkan gelar sarjana pada bidang Mikrobiologi, Institut Teknologi Bandung. Kedua background keilmuan tersebut membuatnya tertarik untuk mempelajari lebih lanjut mengenai proses fermentasi makanan dan food safety.
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.