Vitamin B2 (Riboflavin)

Vitamin B2
CC BY-SA 3.0 (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0), via Wikimedia Commons

Saatnya untuk mengenal Vitamin B2, atau sering disebut juga dengan Riboflavin, adalah salah satu zat yang tergolong dalam Vitamin B. Nama lain vitamin B2, riboflavin menandakan karakteristik vitamin B2 sendiri, yaitu memiliki struktur ribosa dan berwarna kuning (diperoleh dari kata flavus yang berarti kuning) [1].Seperti Vitamin B yang lainnya yang larut dalam air, vitamin ini tidak disimpan dalam tubuh kita. Oleh karena itu, kebutuhan riboflavin wajib dipenuhi dari sumber makanan [2].

 

Apakah fungsi riboflavin dalam tubuh kita? Riboflavin digunakan untuk membentuk dua macam koenzim, yaitu flavin mononucleotide (FMN) dan flavin adenine dinucleotide (FAD). Kedua koenzim ini memiliki peran yang sangat banyak dalam reaksi reduksi dan oksidasi di dalam tubuh kita. Beberapa contoh fungsi reaksi ini adalah pembentukan energi, proses pemecahan asam lemak yang juga digunakan untuk energi, serta pembentukan dan mengaktifkan berbagai senyawa lainnya, termasuk vitamin. Vitamin yang diubah menjadi bentuk aktif dengan menggunakan koenzim ini adalah vitamin A, vitamin B9 (folat), dan vitamin B6. Proses pembentukan vitamin B3 (niacin) dari asam amino tryptophan juga membutuhkan koenzim ini. Selain itu, FAD juga berperan untuk memberikan perlindungan dari kerusakan yang diakibatkan reaksi oksidasi [1].

 

Berapakah rekomendasi konsumsi riboflavin setiap harinya? Rekomendasi konsumsi riboflavin untuk wanita (1.1 mg/hari) dan pria (1.3 mg/hari) [3]. Sumber makanan yang kaya  riboflavin banyak ditemukan pada sumber hewani dan produk susu, antara lain daging kambing (4.59mg/100mg), daging sapi (3.42mg/100mg), telur (0.5mg/100g) dan produk olahan susu seperti keju [4].

 

Karena angka kebutuhan relatif kecil, biasanya kebutuhan riboflavin dapat dipenuhi dengan pola makan beragam. Kekurangan riboflavin dapat menyebabkan sakit tenggorokan, merah-merah dan bengkak disekitar mulut, kulit pecah-pecah di sekitar mulut. Riboflavin telah ditemukan dalam beberapa penelitian membantu mencegah pembentukan katarak [5–7] dan migraine [8–11].

Referensi

  1. Riboflavin - Dietary Reference Intakes for Thiamin, Riboflavin, Niacin, Vitamin B6, Folate, Vitamin B12, Pantothenic Acid, Biotin, and Choline - NCBI Bookshelf

  2. High-dose riboflavin treatment is efficacious in migraine prophylaxis: an open study in a tertiary care centre

    Boehnke C, Reuter U, Flach U, Schuh-Hofer S, Einhäupl KM, Arnold G. High-dose riboflavin treatment is efficacious in migraine prophylaxis: an open study in a tertiary care centre. European Journal of Neurology: The Official Journal of the European Federation of Neurological Societies. 2004;11(7):475 - 477.
  3. Prophylactic treatment of migraine with beta-blockers and riboflavin: differential effects on the intensity dependence of auditory evoked cortical potentials

Tentang Penulis dan Penyunting

Dipl-Ing A. Chrisant R. S.T., M.Sc.
SGU - Food Technology, AgroParisTech, Dublin Institute of Technology, Lund University - Food Innovation and Product Design
Chrisant sekarang sedang memperkaya ilmunya dalam Erasmus Mundus Master Course of Food Innovation and Product Design (FIPDes). Seorang dengan ketertarikan terhadap dunia internasional, Chrisant memanfaatkan setiap kesempatan untuk traveling untuk melihat bagaimana beragam cara orang menjalani hidup. Seringkali juga, traveling membantu Chrisant menemukan kesukaannya yang lain, yaitu makanan.
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.

Artikel Di Kategori Yang Sama

Vitamin B2
CC BY-SA 3.0 (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0), via Wikimedia Commons
Yuk Kenali pentingnya vitamin B2!