Vitamin B7 (Biotin)

Biotin, Vitamin B7

Vitamin B7 ditemukan pada tahun 1930 setelah melakukan investigasi terhadap kejadian 'egg white injury'. Dari seluruh kelompok vitamin B lainnya, vitamin B7 berbeda karena kita juga dapat memperolehnya dari bakteri usus, mikrobiota. Inilah mengapa vitamin ini juga dikenal dengan sebutan biotin. Walaupun vitamin ini dihasilkan oleh bakteri usus, jumlah yang dihasilkan tidak mencukupi kebutuhan kita sehari-hari. Oleh karena itu, kita perlu mendapatkannya dari makanan [1].

 

Apa peran biotin dalam tubuh kita? Biotin memiliki peran penting sebagai koenzim, artinya vitamin ini membantu enzim untuk bekerja di dalam tubuh kita. Sebagai koenzim, biotin membantu empat buah enzim yang semuanya bekerja untuk reaksi karboksilasi. Reaksi karboksilasi ini memiliki peran penting dalam proses metabolisme energi, misalnya pembentukan glukosa dan asam lemak, serta pemecahan asam amino [1]. Selain perannya sebagai koenzim, biotin masih memiliki fungsi lainnya. Vitamin ini mempengaruhi berbagai fungsi sel, ekspresi gen, dan menjaga agar proses pembelahan sel berjalan normal [2].

 

Susu, hati, dan kuning telur merupakan sumber biotin yang paling utama [3]. Kuning telur merupakan sumber biotin yang baik, tetapi putih telur mengandung protein bernama avidin yang dapat dapat mengikat biotin dengan kuat sehingga biotin tidak dapat diserap oleh tubuh. Namun, avidin dapat dirusak melalui proses pemanasan, sehingga orang yang mengalami defisiensi biotin adalah orang yang gemar mengonsumsi telur mentah dalam jumlah banyak (6 butir per hari) dan dalam jangka waktu yang lama [4]. Hal inilah yang disebut kejadian 'egg white injury'; dasar penemuan biotin yang disebutkan di atas.

 

Bagi kebanyakan orang, terutama perempuan, kesehatan dan kecantikan rambut serta kuku merupakan hal yang sangat penting. Nah ternyata, hal tersebut dapat dipengaruhi oleh biotin atau vitamin B7 . Kekurangan asupan biotin dapat menyebabkan rambut rontok dan kuku mengelupas [5]. Selain itu, biotin juga dapat membantu menjaga kadar glukosa dalam tubuh dengan merangsang sekresi insulin. Oleh karena itu, biotin sering diberikan sebagai terapi bagi penderita diabetes, baik tipe I maupun tipe II [6]. Untungnya, kekurangan biotin sangat jarang terjadi, kecuali pada orang-orang yang mengalami kelainan genetik atau penyakit dalam saluran pencernaan. Kekurangan biotin juga dapat terjadi pada populasi yang mengonsumsi telur mentah, tapi itu pun hanya terjadi apabila konsumsi jumlah banyak selama waktu yang lama [1].

 

Berapakah rekomendasi konsumsi biotin? Setiap harinya, kita disarankan untuk mengonsumsi biotin sebanyak 50 μg. Untuk menjaga kesehatan kulit, rambut, dan kuku, konsumsi sebanyak 1 mg per hari dapat dilakukan dalam jangka waktu pendek [6]. Sampai saat ini, belum ditemukan efek negatif bagi kesehatan apabila mengonsumsi biotin dalam dosis yang tinggi (200 mg secara oral atau 20 mg melalui intravena) [3].

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

Arienta Rahmania P. S. S.Si., M.Sc. (c)
ITB - Mikrobiologi, Wageningen University - Food Safety
Arien merupakan alumni dari Institut Teknologi Bandung jurusan Mikrobiologi angkatan 2009. Saat ini, ia sedang menjalani tahun keduanya sebagai mahasiswa magister, program studi Food Safety di Wageningen University, Belanda. Food microbiology dan food fermentation adalah bidang yang sudah menarik perhatiannya sejak bangku S1.
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.

Artikel Di Kategori Yang Sama

Diabetes Kit
Vitamin B7 Sebagai Terapi Pengendali Diabetes