Vitamin C

Guava
Sakurai Midori
[CC BY-SA 2.1 jp (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.1/jp/deed.en), GFDL (http://www.gnu.org/copyleft/fdl.html) or CC-BY-SA-3.0 (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/)], via Wikimedia Commons

Vitamin C tentunya sudah bukan vitamin yang asing kita dengar. Kita mudah menemukan Vitamin C dalam berbagai bentuk seperti, tablet hisap, tablet effervescent, tablet minum dan selain itu banyak minuman yang diperkaya dengan Vitamin C.

 

Vitamin C pertama ditemukan manfaatnya oleh James Lind. Pada masa hidup James Lind, yaitu pada tahun 1700an adalah jaman keemasan dunia perlayaran. Pada jaman itu banyak sering mengalami penyakit skorbut. James Lind berusaha menyembuhkan skorbut yang di derita 12 orang pelaut dengan mencoba 6 jenis perawatan. Perawatan yang berhasil adalah jeruk dan lemon [1]. Setelah diteliti, ditemukan jeruk dan lemon memiliki kandungan Vitamin C yang tinggi.

 

Mungkin karena alasan itu, hari ini pun banyak yang mengira hanya jeruk dan lemon yang sarat dengan Vitamin C.  Namun banyak juga loh sayur dan buah lainnya yang  tinggi vitamin C. Contohnya jambu biji (228mg/100g) paprika (170mg/100g), cabe merah (143,7mg/100g) brokoli (93.2mg/100g), kiwi (92.7mg/100g), bunga kol masak (72.6mg/100g), papaya (60.9mg/100g), sementara jeruk (53.2mg/100g) [2].

 

Kebutuhan vitamin C adalah 90mg untuk pria, dan 75 mg untuk wanita [3]. Vitamin sering dikonsumsi untuk membantu meringankan gejala flu, namun berbagai penelitian tidak membuahkan hasil yang cukup konsisten untuk benar-benar menyatakan manfaat vitamin C melawan flu. Setidaknya, Vitamin C tidak ditemukan memiliki  dampak yang buruk jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak. dengan kata lain, Vitamin C memiliki tolerable upper intake level yang tinggi 2000mg/hari [3].

 

Tentang Penulis dan Penyunting

Dipl-Ing A. Chrisant R. S.T., M.Sc.
SGU - Food Technology, AgroParisTech, Dublin Institute of Technology, Lund University - Food Innovation and Product Design
Chrisant sekarang sedang memperkaya ilmunya dalam Erasmus Mundus Master Course of Food Innovation and Product Design (FIPDes). Seorang dengan ketertarikan terhadap dunia internasional, Chrisant memanfaatkan setiap kesempatan untuk traveling untuk melihat bagaimana beragam cara orang menjalani hidup. Seringkali juga, traveling membantu Chrisant menemukan kesukaannya yang lain, yaitu makanan.
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.

Artikel Di Kategori Yang Sama