Vitamin E

Arachis hypogaea (peanuts)
Texnik
[CC BY-SA 3.0 (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0) or GFDL (http://www.gnu.org/copyleft/fdl.html)], via Wikimedia Commons

Vitamin E, seperti banyak vitamin lainnya bukan merupakan satu molekul yang spesifik, melainkan meliputi beberapa kelas molekul antara lain tocopherol dan tocotrienol. Vitamin E yang sering ditemukan di dalam makanan adalah alpha-tocopherol [1].

 

Tocopherol bersifat tidak polar, artinya senyawa ini larut ke dalam lemak yang juga memiliki sifat kimia tidak polar [1] ─ senyawa yang memiliki sifat polar akan larut dalam air. Struktur kimia tocopherol yang mudah bereaksi dengan radikal bebas berarti tocopherol adalah senyawa yang memiliki sifat antioksidan. Singkatnya, radikal bebas adalah senyawa yang sangat reaktif dan dapat merusak susunan tubuh melalui proses oksidasi.

 

Jumlah vitamin E yang perlu kita konsumsi setiap hari alalah 15 mg/hari untuk orang dewasa sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG) atau Recommended Daily Allowances (RDA). Untuk diserap dan di transportasi dalam tubuh kita, Vitamin E butuh bantuan lemak, karena seperti tadi disebut, vitamin E itu larutnya dalam lemak [2].

 

Makanan yang banyak mengandung Vit E adalah biji-bijian seperti kwaci, kacang tanah (6.91mg/100g), kacang-kacangan seperti almond dan kedelai, ataupun minyak hasil olahannya seperti minyak sunflower, minyak almond, minyak kedelai (5mg/100g) [3] Namun jarang ya minyak kedelai seperti ini di konsumsi dalam diet Indonesia. Lebih sering di gunakan dalam salad dan dalam jumlah yang sedikit. Sumber vitamin E yang cukup mudah didapatkan oleh orang Indonesia adalah kacang tanah dan bayam dengan kandungan vitamin E 6.91mg/100g kacang tanah masak dan 2.08mg/100g bayam masak. Selain itu juga ada buah alpukat (2.07mg/100g) dan udang (2.2mg/100g) yang kandungan vitamin E nya cukup tinggi [3].

Tentang Penulis dan Penyunting

Dipl-Ing A. Chrisant R. S.T., M.Sc.
SGU - Food Technology, AgroParisTech, Dublin Institute of Technology, Lund University - Food Innovation and Product Design
Chrisant sekarang sedang memperkaya ilmunya dalam Erasmus Mundus Master Course of Food Innovation and Product Design (FIPDes). Seorang dengan ketertarikan terhadap dunia internasional, Chrisant memanfaatkan setiap kesempatan untuk traveling untuk melihat bagaimana beragam cara orang menjalani hidup. Seringkali juga, traveling membantu Chrisant menemukan kesukaannya yang lain, yaitu makanan.
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.

Artikel Di Kategori Yang Sama