Vitamin

Pada tahun 1912, seorang ilmuwan Inggris bernama Frederick Gowland Hopkins melakukan penelitian yang menyimpulkan bahwa ada suatu faktor atau zat disamping protein, karbohidrat, lemak, dan mineral yang dapat menunjang kehidupan meskipun hanya dibutuhkan dalam jumlah yang sangat sedikit. Saat itu Hopkins menyebut zat tersebut sebagai “accessory food factor” [1]. Di tahun yang sama, ilmuwan lain bernama Casimir Funk mengajukan nama baru untuk zat tersebut. Funk menamakannya “Vitamine”, berasal dari kata vita yang berarti kehidupan (bahasa Latin) dan amine karena Funk menemukan bahwa zat tersebut mengandung nitrogen dan mengasumsikannya termasuk ke dalam kelompok amine [2].

 

Akan tetapi, sekitar 8 tahun kemudian pada 1920, Jack Cecil Drummond menolak gagasan Funk dan menyatakan bahwa tidak ada bukti zat tersebut termasuk sebagai kelompok amine. Oleh karena itu, huruf ‘e’ pada kata vitamine pun dihilangkan supaya tidak terjadi salah persepsi [3]. Kini zat tersebut kita kenal sebagai vitamin.

 

Sampai saat ini belum ada definisi pasti dari kata 'vitamin'. Beberapa definisi yang ada [4], antara lain vitamin adalah:

  • senyawa organik yang diperlukan untuk menjalankan fungsi tubuh
  • senyawa yang terkandung dalam makanan dengan jumlah yang sangat sedikit
  • senyawa yang apabila konsumsinya kurang, dapat menyebabkan sindrom defisiensi yang spesifik

 

Secara umum, tidak ada struktur kimiawi khusus yang terdapat dalam struktur vitamin. Namun, terdapat karakteristik dasar yang membedakan beberapa jenis vitamin berdasarkan sifatnya dan bagaimana tubuh memproses vitamin tersebut. Inilah yang membedakan vitamin menjadi dua kelompok, vitamin larut air dan vitamin larut lemak. Seperti namanya, vitamin larut air memiliki sifat larut air, sama seperti tubuh kita sehingga vitamin ini mudah diserap ke dalam tubuh. Namun, vitamin ini tidak dapat dipertahankan dalam tubuh dalam waktu lama karena penyimpanannya membutuhkan transport protein (zat yang juga larut air) dan kelebihannya akan langsung dikeluarkan melalui ginjal. Sebaliknya, vitamin larut lemak memiliki proses penyerapan yang sama dengan lemak, yaitu membutuhkan transport khusus agar dapat masuk ke darah kita yang larut air. Selain itu, vitamin ini bisa disimpan dalam jaringan lemak ─ jaringan yang cukup banyak di tubuh kita, sehingga dapat dipertahankan dalam waktu yang lebih lama [5]. Berikut adalah daftar vitamin larut air dan vitamin larut lemak.

 

Tabel 1. Kelompok Vitamin [5]

Vitamin Larut Air

Vitamin Larut Lemak

Vitamin B

Vitamin C

Vitamin A

Vitamin D

Vitamin E

Vitamin K

Kategori

Referensi

  1. The etiology of the deficiency diseases. Beri-beri, polyneuritis in birds, epidemic dropsy, scurvy, experimental scurvy in animals, infantile scurvy, ship beri-beri, pellagra

Tentang Penulis dan Penyunting

Arienta Rahmania P. S. S.Si., M.Sc. (c)
ITB - Mikrobiologi, Wageningen University - Food Safety
Arien merupakan alumni dari Institut Teknologi Bandung jurusan Mikrobiologi angkatan 2009. Saat ini, ia sedang menjalani tahun keduanya sebagai mahasiswa magister, program studi Food Safety di Wageningen University, Belanda. Food microbiology dan food fermentation adalah bidang yang sudah menarik perhatiannya sejak bangku S1.
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.

Artikel Di Kategori Yang Sama

Kurma dan Zat Gizinya
Come on Lemon!
Vitamin B2
CC BY-SA 3.0 (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0), via Wikimedia Commons
Yuk Kenali pentingnya vitamin B2!