Vitamin K

Sayuran Hijau, Vitamin
Dana Payne
CC BY-SA 3.0 (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0)

Vitamin K merupakan vitamin yang larut dalam lemak, dinamakan sesuai dengan perannya dalam proses ‘Koagulasi’ atau pembekuan darah. Proses pembekuan darah merupakan reaksi kimia yang beruntun, artinya reaksi selanjutnya tidak akan terjadi jika reaksi sebelumnya tidak terjadi. Dalam proses tersebut, vitamin K berperan untuk mengaktifkan faktor koagulasi yang dibutuhkan untuk reaksi selanjutnya [1].

 

Mengapa proses tersebut penting? Bisa dibayangkan jika darah tidak membeku saat terjadi luka, darah akan terus keluar dari tubuh dan menyebabkan kekurangan darah. Lain halnya jika luka terjadi di dalam tubuh yang tidak bisa dilihat mata, darah yang tidak membeku bisa menyebabkan penekanan organ di dalam tubuh kita [1,2].

 

Vitamin K terdiri atas tiga macam: [1]

  1. Vitamin K1 (phylloquinone), ditemukan pada makanan yang berasal dari tumbuhan
  2. Vitamin K2 (menaquinone), ditemukan pada produk hewan dan diproduksi oleh bakteri yang terdapat pada usus.
  3. Vitamin K3 (menadione), diproduksi secara komersil (tidak ada pada hewan atau tumbuhan)

 

Tabel 1. Kandungan Vitamin K Makanan

Jenis makanan

Jumlah (100 gr)

Kale

Sawi

Bayam

Brokoli

Asparagus

Kacang-kacangan

Kol

Tuna

Kembang kol

817  µg

772,5 µg

493,6  µg

141  µg

80  µg

50,4  µg

47,6  µg

44 µg

13,8  µg

 

Berapakah kebutuhan Vitamin K dalam sehari? Kebutuhan vitamin K untuk dewasa adalah 90 µg/hari (perempuan) dan 120 µg/hari (laki-laki). Sejauh ini, tidak ditetapkan batas maksimal dalam konsumsi vitamin K karena tidak ditemukan dampak berarti pada jumlah yang sangat tinggi [1,2].

 

Sumber vitamin K banyak terdapat pada sayuran hijau, ikan, atau kacang-kacangan (lihat tabel)[3]. Berdasarkan tabel tersebut, kita mengetahui bahwa jumlah tersebut sangat mudah diperoleh, terutama jika mengkonsumsi sayuran hijau yang kaya vitamin K. Walaupun kamu mengkonsumsi makanan rendah vitamin K dalam periode tertentu, kamu masih memiliki jenis vitamin K2 dari bakteri usus yang dapat menjaga proses pembekuan darah kita. Oleh karena itu, kekurangan vitamin K jarang terjadi [1,2].

 

Jadi, siapakah yang mungkin mengalami kekurangan vitamin K? Bayi lahir dengan jumlah bakteri usus minimal dan membutuhkan waktu beberapa minggu untuk pertumbuhan bakteri tersebut [2]. Kandungan vitamin K di air susu ibu pun tergolong  rendah sehingga bayi biasanya perlu diberikan suntikan vitamin K saat lahir [2]. Penggunaan antibiotik berkepanjangan juga dapat membunuh bakteri usus sehingga bisa menyebabkan kekurangan vitamin K [1]. Ketiga, orang-orang yang memiliki gangguan terhadap pencernaan atau penyerapan lemak. Hal ini berkaitan dengan sifat vitamin K sendiri yang larut dalam lemak, artinya vitamin K tidak diserap tubuh apabila terdapat gangguan pencernaan lemak [2].

Kategori

Tentang Penulis dan Penyunting

dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.

Artikel Di Kategori Yang Sama