Kenapa makan grapefruit bersamaan dengan obat tertentu berbahaya?

Apakah kamu suka makan buah grapefruit? Grapefruit adalah jenis jeruk dengan daging buah berwarna merah dan memiliki rasa kecut agak manis. Buah ini merupakan hasil persilangan antara jeruk manis dan jeruk bali (Pomelo) [1]. Grapefruit memiliki kandungan vitamin A dan C tinggi serta kaya akan Kalium dan Kalsium yang sangat bermanfaat untuk tubuh. Walaupun demikian, ternyata mengkonsumsi jeruk ini bersamaan dengan obat-obatan tertentu bisa membahayakan. Kenapa demikian? Berikut ulasannya.

 

Seperti kita ketahui, nutrisi dari makanan yang kita santap diserap di usus halus. Begitu juga dengan obat-obatan. Di usus tersebut terdapat enzim bernama sitokrom P450 (CYP3A4) yang berfungsi untuk mensortir zat/senyawa yang akan diserap tubuh [2]. Enzim ini dapat menghancurkan zat asing yang kemungkinan berbahaya bagi tubuh, termasuk obat-obatan. Oleh karena proses pensortiran tesebut, maka kadar obat yang kita minum, berdasarkan resep dokter tentunya, lebih besar dari kadar yang diperlukan untuk mengobati penyakit. Tujuannya untuk mengkompensasi seyawa obat yang dihancurkan oleh sitokrom P450 (CYP3A4). 

 

Ketika kita minum obat disertai makan grapefruit, komponen dari buah ini (senyawa dari golongan furanocuomarin) dapat menghambat kerja enzim sitokrom P450 (CYP3A4) sehingga kerjanya menjadi tidak maksimal [3]. Hal ini menyebabkan meningkatnya kadar obat yang terserap tubuh. Efek ini masih terjadi walaupun grapefruit dimakan empat jam sebelum ataupun sesudah minum obat. Sepintas lalu kemampuan grapefruit ini sangatlah bagus, karena dengan semakin banyaknya kadar obat yang diserap maka semakin cepat penyakit yang diderita sembuh. Tapi pada kenyataannya, dengan semakin tingginya konsentrasi obat yang terserap tubuh, maka semakin besar efek samping yang bisa terjadi. Contohnya ketika kita minum obat penurun kadar kolesterol jenis statin bersamaan dengan minum jus grapefruit, obat yang terserap akan melebihi kadar yang ditoleransi tubuh sehingga meningkatkan resiko kerusakan hati, lemah otot yang kemudian  bisa menyebabkan kegagalan fungsi ginjal [4]. 

 

Sampai saat ini, telah diketahui lebih dari 85 jenis obat-obatan berpotensi berbahaya bagi kesehatan jika dikonsumsi bersamaan dengan grapefruit [5]. Karena potensi bahaya tersebut, sebaiknya hindari konsumsi buah ini selama proses pengobatan. Selain grapefruit, jeruk bali juga mengandung senyawa ini, tetapi jeruk manis tidak [3, 6]. Oleh karena itu, jika kamu berobat ke dokter, konsultasikan dulu apakah obat yang diberikan boleh diminum bersamaan dengan mengkonsumsi buah tersebut atau tidak.

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. A furanocoumarin-free grapefruit juice establishes furanocoumarins as the mediators of the grapefruit juice–felodipine interaction

Tentang Penulis dan Penyunting

keni's picture
Keni Vidilaseris, PhD
ITB-Kimia, Biokimia; PhD- Biologi struktural, Vienna University
Keni adalah seorang peneliti di Departemen Biokimia, Universitas Helsinki, Finlandia sejak tahun 2014. Fokus penelitiannya adalah penentuan struktur protein membran dari parasit penyebab malaria, toksoplasmosis, dan juga sleeping sickness sebagai target pengobatan. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana dan masternya dari program studi Kimia di Institut Teknologi Bandung. Pendidikan Doktoralnya ia...
rizal's picture
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.