Ketagihan Kafein?

Selain terkandung di dalam minuman kopi, kafein juga menjadi komposisi di berbagai minuman ringan bersoda, coklat dan juga teh. Senyawa kimia yang termasuk dalam zat psikoaktif ini bekerja menstimulasi sistem saraf pusat kita (1). Namun tidak seperti zat psikoaktif lainnya, kafein terbilang aman untuk dikonsumsi dalam batasan tertentu, yakni 400 mg per hari (2). Nah, pernahkah kita merasa lemas dan pusing di pagi hari akibat lupa meneguk secangkir kopi hari itu? Mungkin saja itu pertanda kita telah terkena ketagihan ringan dari kafein.

 

Bagi mereka yang tidak terbiasa meneguk minuman berkafein, konsumsi 20-200 mg kafein di satu waktu, secara umum memberikan efek positif seperti meningkatkan ketajaman perhatian hingga memperbaiki suasana hati (3). Konsumsi kafein di atas 200 mg dalam satu waktu justru akan memberikan efek yang negatif seperti kegelisahan dan sakit perut. Waktu paruh (waktu yang dibutuhkan senyawa untuk meluruh menjadi setengahnya) kafein ini sekitar 4 sampai 6 jam (2). Hal tersebut juga dirasakan oleh orang yang rutin setiap hari meminum kopi, biasanya di pagi hari setelah semalaman tidak mengonsumsi kafein. Bila pelanggan berat kafein lepas sehari saja tanpanya, akan muncul sindrom penarikan kafein (caffeine withdrawal syndrome). Tanda-tandanya antara lain : pusing (sering digambarkan bertahap dan menyebar, terkadang berdenyut dan terasa berat); kelelahan; rasa kantuk; kesulitan berkonsentrasi; depresi; menjadi mudah marah; gejala flu (mual, nyeri otot); serta kegugupan (3).

 

Banyak penikmat kafein yang tidak menyadari ketergantungannya terhadap senyawa ini karena munculnya gejala sindrom penarikan kafein tertutupi oleh hanya dengan sedikit konsumsi kafein (misalnya sekitar 25 mg) (3). Oleh karena itu, terkadang saat gejala seperti sakit kepala dan nyeri otot muncul, para penikmat kopi mengira mereka terkena serangan penyakit lain seperti terinfeksi virus. Padahal mungkin saja itu adalah cara tubuh mereka untuk lepas dari ketergantungan kafein.

 

Tenang saja, umumnya setelah dua hari sampai seminggu kita akan bisa lepas dari ketergantungan kafein ini (3).

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

Rifqi Ahmad Riyanto S.Si., M.Sc.
ITB - Mikrobiologi, KNRTU - Food Technology
Kazan National Research Technological University, Rusia menjadi tempat menempuh pendidikan magister bagi Rifqi saat ini dalam bidang Teknologi Pangan. Selain aktif dalam bidang sains, saat ini juga aktif sebagai relawan untuk salah satu lembaga non-profit yang bergerak di bidang sosial.
dr. T.R. Basuki M.D., M.P.H., Ph.D. (c)
Reviewer, Medical Doctor, Master - Public Health, PhD - Fetal Medicine, Barcelona University, Lund University
Dr. Basuki sekarang sedang menjalankan pendidikan S3 (PhD) di Barcelona Spanyol dan Lund Swedia. Topik S3 Dr. Basuki adalah Fetal Medicine yang merupakan program bersama Barcelona University dan Lund University. Sebelumnya Dr. Basuki juga menempuh pendidikan S2 di bidang Public Health di 3 universitas di eropa dengan beasiswa Erasmus Mundus.