Konsumsi Produk Kadaluarsa, Apakah Aman?

Di artikel sebelumnya, Zywie menulis ulasan mengapa kadaluarsa tidak sama dengan rusak. Lalu yang menjadi pertanyaan penting, aman tidak sih untuk mengkonsumsi makanan yang sudah melewati tanggal kadaluarsa? Jawabannya Ya, tetapi dengan beberapa pertimbangan.

1.    Perhatikan Jenis Produk Pangan

Produk pangan seperti daging, ikan segar, keju, susu segar, secara umum akan memiliki shelf-life yang lebih pendek. Produk seperti tepung, mie instan, memiliki kadar air dan kelembaban rendah, lingkungan dimana mikroorganisme susah bertumbuh, sehingga memiliki shelf-life yang lebih lama. Begitu pula produk yang mengandung alkohol seperti bir dan wine memilki shelf-life yang lama.

 

Bahkan menurut regulasi pelabelan produk pangan yang dikeluarkan Codex Alimentarius Commission (CAC) tahun 1999 [1], jenis-jenis produk pangan di bawah ini tidak memerlukan pencantuman tanggal, bulan dan tahun kadaluarsa:

  • Buah dan sayuran segar, termasuk kentang yang belum dikupas atau dipotong.
  • Minuman fermentasi (wines, liquor wines, sparkling wines, aromatized wines, fruit wines dan sparkling fruit wines)
  • Minuman yang mengandung alkohol ⪴10%
  • Makanan yang diproduksi untuk dikonsumsi kurang dari 24 jam.
  • Cuka
  • Garam meja
  • Gula pasir
  • Produk manisan/permen yang bahan bakunya mengandung gula dengan perisa atau pewarna
  • Permen karet

Produk pangan yang bahkan sering disebut tidak memiliki tanggal kadaluarsa seperti madu murni, beras, kacang-kacangan kering, tepung maizena, vanilla extract, coklat murni, garam dan gula, tentunya tetap akan layak dan aman dikonsumsi walaupun sudah jauh melampau tanggal kadaluarsa.

 

2.    Tempat Penyimpanan

Apabila disimpan dengan baik dan benar, produk pangan akan tetap layak dikonsumsi setelah melewati masa kadaluarsa. Simpanlah di lingkungan yang bersih, sejuk, jauh dari sinar matahari dan di kontainer yang tertutup rapat. Tempat penyimpanan dengan suhu rendah seperti lemari es dan freezer dapat memperpanjang shelf-life produk pangan.

 

3.    Cara Pengolahan

Proses pengolahan makanan juga berperan penting. Produk-produk yang diolah dengan pemanasan yang terkontrol, seperti susu UHT, makanan kaleng akan memiliki shelf-life yang panjang, 6 bulan - 5 tahun, bahkan lebih. Begitu pula dengan produk yang melalui proses pembekuan.

 

Mengapa kita harus lebih selektif dan tidak langsung membuang makanan yang melewati batas waktu kadaluarsa? Melalui artikel yang dipublikasikan oleh Harvard University bekerja sama dengan Natural Resources Defense Council [2], tanggal kadaluarsa yang rancu dan istilah berbeda-beda yang membingungkan di label makanan ternyata mengakibatkan 90% penduduk Amerika Serikat membuang makanan yang masih layak dikonsumsi karena ketakutan yang berlebihan akibat tanggal kadaluarsa. Sedangkan di sisi lain terdapat 795 juta manusia yang mengalami malnutrisi dan kekurangan pangan [3]. Sisa makanan yang berlebihan ini juga menimbulkan masalah sampah dan polusi lingkungan.

 

Lalu bagaimana cara yang paling tepat dan mudah mengetahui makanan yang sudah rusak? Kerusakan makanan amat mudah dideteksi dengan indera manusia. Lakukan smell test (tes bau), kalau dari bau saja sudah tidak enak, kemungkinan besar rasa juga sudah rusak. Perhatikan penampilan, warna, tekstur, bau dan rasa dari makanan. So, lain kali jangan terlalu cepat membuang makanan hanya karena sudah melewati masa kadaluarsa.  

 

Disclaimer: Zywielab tidak memiliki afiliasi apapun dengan pihak Pizza Hut, Marugame Udon ataupun SriBoga group. Artikel ini ditulis untuk sekedar memberikan fakta yang ada dengan harapan akan memberikan klarifikasi dan opini yang lebih objektif.

 

 

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

Tessa A. S. B.AS., M.Sc.
Haagse Hogeschool - Process and Food Technology, University of Helsinki - Food Science, Restauranter
Memiliki passion di bidang pangan yang tertanam sejak dini karena usaha rumah makan milik keluarganya. Tahun 2007, hijrah ke Den Haag, Belanda untuk meraih gelar sarjana di bidang Process and Food Technology (Haagse Hogeschool). Melanjutkan magisternya di bidang Food Science di University of Helsinki, Finlandia. Sejak Februari 2014, Tessa kembali ke tanah air untuk mengembangkan bisnis rumah...
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.