Kurangi makan gorengan dapat turunkan berat badan, benarkah?

“Kalau tidak ingin gemuk kurang – kurangilah makan gorengan!”, kata beberapa praktisi diet.

 

Makanan yang digoreng secara deep-frying (menggunakan banyak minyak) memang digemari karena rasanya. Meskipun demikian, makanan yang digoreng pada suhu sekitar 150 hingga 180 derajat Celcius memiliki kandungan minyak hingga 25% (1). Selain tinggi kandungan minyaknya (lemak), gorengan juga memiliki jumlah kalori yang lebih besar. Sebagai contoh, dada ayam jika digoreng tepung memiliki 222 kcal; jika dipanggang memiliki 197 kcal; dan jika direbus menjadi 184 kcal masing – masing per 100 gram (2). Makanan tinggi kalori pun seringkali dikaitkan dengan resiko kegemukan.

 

Yang kamu makan mencerminkan dirimu

 

Pola makan secara jangka panjang akan mempengaruhi susunan mikrobiota di usus (3). Mikrobiota didefinisikan sebagai kumpulan mikroorganisme yang secara alami hidup dan tinggal di dalam tubuh, bukan merupakan kuman penyebab infeksi, dan membantu memelihara kesehatan tubuh (4). Mikrobiota usus akan membantu juga dalam proses metabolisme maupun penyerapan makanan sesuai dengan jenisnya. Dua filum mikrobiota yang dominan ditemukan di saluran pencernaan manusia adalah Firmicutes dan Bacteroidetes. Meskipun demikian, makanan sangat berpengaruh terhadap variasi proporsi antar-mikrobiota di setiap individu. Contohnya, mikrobiota Bacteroidetes genus Prevotella banyak ditemukan pada orang yang memiliki diet tinggi serat dan karbohidrat sementara Bacteroidetes dengan genus Bacteroides mendominasi usus populasi studi dengan diet ala Barat Western yang tipikalnya tinggi protein dan tinggi lemak (3, 5, 6). Di sisi lain, Firmicutes banyak ditemukan pada individu yang gemuk dan jumlahnya menurun sejalan dengan penurunan berat badan dengan diet rendah kalori (5). Hal tersebut mendasari asumsi bahwa dengan pemberian diet rendah kalori dan menurunnya Firmicutes akan menurunkan berat badan (5). Lalu apakah berat badan akan turun jika kita mengurangi makan gorengan?

 

Pada tikus percobaan sehat yang diberi diet dengan deep-fried minyak kanola, jumlah bakteri Firmicutes terutama genus Allobaculum ditemukan melimpah di saluran usus yang dibarengi dengan penurunan jumlah Bacteroidetes terutama Prevotella (1). Namun ternyata, tikus yang diberi deep-fried minyak kanola malah memiliki berat terendah dibandingkan dengan tikus yang tidak diberi minyak dan tikus yang diberi minyak kanola tanpa pemanasan. Hal ini dikarenakan terdapat senyawa toksik dari minyak kanola panas yang menghambat metabolisme dan pertumbuhan sehingga berat badan turun. Oleh karena itu,penggunaan minyak yang berulang, dalam jangka panjang, dapat meningkatkan resiko terkena penyakit kronis. Potensi senyawa toksik juga ditemukan pada studi menggunakan tikus yang diberi diet minyak goreng bunga matahari yang dipakai berulang (7).

 

Potensi penurunan berat badan pada individu yang telah gemuk atau individu sehat dengan mengurangi penggunaan minyak goreng memang masih diperdebatkan dan belum menggambarkan hasil yang seragam pada beberapa penelitian dari sudut pandang mikrobiota. Namun yang telah teruji, mengonsumsi makanan yang digoreng dalam jangka panjang dapat menyebabkan resiko terkena penyakit kronis akibat dari senyawa toksik yang terdapat di dalam minyak tersebut. Walalupun begitu, bukan berarti kita tidak boleh menggoreng makanan sama sekali loh! Terdapat beberapa pilihan minyak yang cocok untuk menggoreng dan tanda-tanda minyak perlu diganti untuk mengurangi terbentuknya senyawa toksik tersebut.

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. Impact of diet in shaping gut microbiota revealed by a comparative study in children from Europe and rural Africa

  2. Decreased food efficiency ratio, growth retardation and changes in liver fatty acid composition in rats consuming thermally oxidized and polymerized sunflower oil used for frying

Tentang Penulis dan Penyunting

Sofisa Hurif Apt., M.Sc.
UGM, Farmasi, Health Science, Epidemiology, NIHES, Erasmus Medical Center
Norma Sofisa Hurif, yang biasa dipanggil Sofie, adalah peneliti di Department of Public Health, Erasmus MC, Rotterdam. Sebelumnya di tahun 2017, Sofi telah menamatkan gelar masternya dengan latar belakang Health Science dan spesialisasi Epidemiologi di Research Master of Health Science, NIHES, Erasmus MC, Rotterdam. Fokus studi dan minatnya adalah menggeluti penelitian di bidang kesehatan...
dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...
Tessa A. S. B.AS., M.Sc.
Haagse Hogeschool - Process and Food Technology, University of Helsinki - Food Science, Restauranter
Memiliki passion di bidang pangan yang tertanam sejak dini karena usaha rumah makan milik keluarganya. Tahun 2007, hijrah ke Den Haag, Belanda untuk meraih gelar sarjana di bidang Process and Food Technology (Haagse Hogeschool). Melanjutkan magisternya di bidang Food Science di University of Helsinki, Finlandia. Sejak Februari 2014, Tessa kembali ke tanah air untuk mengembangkan bisnis rumah...
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.