Kurma dan Zat Gizinya

Bulan puasa (segera) tiba, persiapan jiwa raga untuk menjalankan ibadah fisik dan mental ini tentu diperlukan. Salah satunya adalah dengan menambah pengetahuan yang dapat mendukung terlaksananya amal dengan lebih sempurna. Coba kita ingat-ingat kembali, dahulu saat terakhir kali berpuasa. Apa makanan yang pertama kali masuk ke dalam perut kita ketika berbuka puasa? Mungkin ada yang langsung memakan nasi dengan lauk, mungkin ada yang memakan kolak, atau mungkin ada yang juga memakan beberapa butir kurma. Nah, mari simak secuplik pengetahuan tentang kurma berikut!

 

Sebuah terjemah hadits dari Anas bin Malik :

 

“Rasulullah SAW pernah berbuka puasa dengan ruthab (kurma basah) sebelum shalat, kalau tidak ada ruthab, maka beliau memakan tamr (kurma kering) dan kalau tidak ada tamr, maka beliau meminum air, seteguk demi seteguk.” ( Sunan Abi Dawud 2356, Hasan )

 

Kita diberikan contoh terbaik untuk berbuka puasa dengan kurma, kira-kira apa saja rahasia yang sejauh ini bisa diungkap oleh para peneliti handal seluruh dunia tentang buah hitam manis ini?

 

Kurma (Phoenix dactylifera L.) merupakan tanaman yang penting bagi penduduk di jazirah Arab dan bagian utara Afrika yang panas dan kering karena iklim gurunnya. Keadaan ekstrem di sana membuat tanaman sulit untuk tumbuh menghijau. Pohon kurma-lah yang bertahan dan memberikan “oasis” bagi penduduk di sana. (1) Buah kurma mengandung sekitar 70% karbohidrat, sebagian besar dalam bentuk gula glukosa. Karena karakteristiknya ini, buah kurma menjadi sumber energi yang baik dan diperkirakan setiap 100 g daging buah ini mengandung 314 kkal energi (1). Serat, protein dan lemak juga terkandung di buah ini. Beragam vitamin seperti vitamin A, B1, B2, B3, B6, B9 dan C pun ada di buah ini. Kurma juga kaya akan mineral seperti besi, kalsium, fluorin, mangan, magnesium, kalium, fosfor, dan seng (1,2).

 

Warna khas dari daging buah kurma menandakan ada yang spesial terkandung di dalamnya. Beragam zat fitokimia, salah satunya dalam kelompok flavonoid, membuatnya memberikan warna dan rasa yang unik. Rasio dan konsentrasinya berbeda-beda untuk setiap buah kurma berdasarkan faktor jenis buahnya, waktu dan lokasi pemanenannya, serta keadaan tanah di mana tanaman itu tumbuh. Perbedaan rasio inilah yang menjadi salah satu penyebab munculnya variasi rasa dan gizi dari buah kurma (3).

 

Lalu bagaimana dengan efek kurma bagi kesehatan tubuh kita? Mari baca artikel berikut!

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. Mineral ion content of the seeds of six cultivars of Bahraini date palm (Phoenix dactylifera)

  2. A review of the chemistry and pharmacology of the date fruits (Phoenix dactylifera L.)

Tentang Penulis dan Penyunting

Rifqi Ahmad Riyanto S.Si., M.Sc.
ITB - Mikrobiologi, KNRTU - Food Technology
Kazan National Research Technological University, Rusia menjadi tempat menempuh pendidikan magister bagi Rifqi saat ini dalam bidang Teknologi Pangan. Selain aktif dalam bidang sains, saat ini juga aktif sebagai relawan untuk salah satu lembaga non-profit yang bergerak di bidang sosial.
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.