Laktase, Laktosa dan Intoleransi Laktosa

Milk Spalsh
Pawel Kadysz
Creative Commons CC0 license

Di artikel sebelumnya kita sudah membahas apa sih beda alergi susu dengan intoleransi laktosa (lactose intolerance). Pada artikel ini, kita akan melihat lebih dalam tentang intoleransi laktosa yang erat kaitannya dengan produksi enzim laktase, suatu enzim untuk memecah laktosa pada proses pencernaan makanan, dan laktosa.

 

Apasih laktosa itu?
Laktosa adalah karbohidrat sederhana yang oleh laktase, enzim khusus untuk mencerna laktosa, dipecah menjadi glukosa dan galaktosa (mirip seperti glukosa namun memiliki perbedaan sedikit pada susunannya). Di dalam tubuh, laktosa akan mengalami proses pencernaan di usus halus. Pada umumnya, laktosa dikenal sebagai gula susu karena karbohidrat ini ditemukan di dalam susu. Namun perlu diingat laktosa tidak hanya ditemukan di susu, tetapi juga terdapat di berbagai produk olahan susu, kue, biskuit, dan produk fermentasi, seperti keju, yoghurt hingga bir [1]. 

 

Siapa yang bertugas untuk menghasilkan enzim laktase?
Enzim laktase dihasilkan oleh sel-sel dinding usus halus (enterosit). Di dalam sel ini, terdapat gen LCT dan gen-gen regulator yang membantu proses produksi laktase. Gen LCT adalah cetakan (blue print) dari enzim laktase, sementara salah satu gen regulator MCM6 akan menghasilkan protein MCM6 yang membantu proses produksi enzim laktase dari gen LCT [2,3].

 

Apa hubungan produksi enzim laktase dan intoleransi laktosa?
Penyebab utama dari intoleransi laktosa adalah kekurangan enzim laktase (defisiensi laktase) karena produksi enzim laktase yang semakin berkurang [4]. Berdasarkan penyebabnya, defisiensi enzim laktase dapat dibagi menjadi tiga tipe berbeda, yaitu:

  • Defisiensi Laktase Bawaan

Terjadi pada bayi yang mendapatkan sepasang gen LCT yang mengalami mutasi dan bersifat resesif dari masing-masing orang tua. Bayi dalam keadaan ini tidak dapat menghasilkan enzim laktase sejak lahir. Kelainan ini sangat jarang terjadi, sekitar 1 dari 60.000 kelahiran dan pertama kali ditemukan di Finlandia pada tahun 1959 [5, 6].

 

  • Defisiensi Laktase Primer

Jenis yang paling umum terjadi karena secara alami, produksi enzim laktase mulai berkurang setelah bayi melewati masa menyusui [2]. Pada kondisi ini, gen-gen yang berperan dalam membantu produksi laktase, seperti gen MCM6, terprogram untuk mengurangi produksi laktase setelah masa menyusui [4].

 

  • Defisiensi Laktase Sekunder

Terjadi karena sel-sel usus halus mengalami kerusakan akibat pengobatan dan penyakit, seperti kemoterapi, dan infeksi usus. Berbeda dengan defisiensi bawaan dan primer, defisiensi sekunder dikarenakan sel-sel usus halus rusak akibat faktor eksternal, sehingga mengakibatkan produksi laktase berkurang [4].

 

Akan tetapi apapun jenis defisiensi yang dialami, berkurangnya produksi enzim laktase dapat mengakibatkan laktosa menjadi tidak dapat dicerna. Laktosa yang tidak terserap ini akhirnya mengendap di usus besar yang kemudian meningkatkan tekanan osmotik usus, sehingga air dalam usus sulit diserap oleh tubuh dan air dari dalam tubuh mudah keluar menuju saluran usus. Selain itu, proses fermentasi laktosa di dalam perut yang menghasilkan asam lemak dan berbagai macam gas. Oleh karena itu, bertambahnya timbunan laktosa akan menambah jumlah gas dan air yang berada di dalam usus. Alhasil, orang akan mengalami kembung, keram perut, diare dan sering buang angin yang merupakan tanda dari intoleransi laktosa [4, 7].

 

Jadi, apa sih Intoleransi Laktosa (lactose intolerance) dan Defisiensi Laktase?
Seperti yang sudah dijelaskan diatas, defisiensi laktase adalah kondisi dimana tubuh kita kekurangan enzim laktase. Kekurangan ini menyebabkan tubuh kita tidak dapat mencerna dan menyerap semua laktosa (bisa dari susu, dari keju atau sumber lainnya) yang masuk ke dalam tubuh. Sementara itu, intoleransi laktosa (lactose Intolerance) adalah kondisi dimana seseorang yang mengalami defisiensi laktase (kekurangan enzim laktase) dan mengalami gejala-gejala medis seperti kembung, keram perut, diare dan sering buang angin setelah mengkonsumsi laktosa dengan kadar yang bervariasi.

 

Lalu apakah Lactose Intoleransi Laktosa (lactose intolerance) dengan defisiensi laktase itu sama?

Tidak sama. Hal ini karena orang yang mengalami defisiensi laktase belum tentu mencapai tahap dimana orang tersebut mengalami intoleransi laktosa. Karena walaupun orang tersebut kekurangan enzim laktase, belum tentu mengalami gejala-gejala medis seperti kembung, keram perut, diare, dan sering buang angin.

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. Congenital lactase deficiency: Identification of a new mutation

Tentang Penulis dan Penyunting

I.D.G.S. Deva, S.Si. M.P.H (c)
ITB - Mikrobiologi, Imperial College London - Public Health
Deva saat ini merupakan salah satu mahasiswa magister di Imperial College London dengan jurusan Public Health. Sebelumnya ia lulus dari program studi Mikrobiologi di Institut Teknologi Bandung. Ketertarikan akan penyakit infeksi sejak dari menempuh sarjana, kemudian dibawa dalam jenjang magister dengan mempelajari kesehatan masyarakat yang lebih menekankan pada sisi pencegahan penyakit dalam...
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.
dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...
Tessa A. S. B.AS., M.Sc.
Haagse Hogeschool - Process and Food Technology, University of Helsinki - Food Science, Restauranter
Memiliki passion di bidang pangan yang tertanam sejak dini karena usaha rumah makan milik keluarganya. Tahun 2007, hijrah ke Den Haag, Belanda untuk meraih gelar sarjana di bidang Process and Food Technology (Haagse Hogeschool). Melanjutkan magisternya di bidang Food Science di University of Helsinki, Finlandia. Sejak Februari 2014, Tessa kembali ke tanah air untuk mengembangkan bisnis rumah...