Laktase Persisten dan Non-persisten: Cerita di balik Susu dan Intoleransi Laktosa

-113763.jpg
Agence Producteurs Locaux Damien Kuhn
Creative Commons CC0 license

Tau kah sahabat Zywie? Kemampuan seseorang untuk mencerna laktosa sebenarnya akan berkurang atau bahkan menghilang saat dewasa. Hal ini terjadi karena pada awalnya setiap individu membawa sifat laktase non-persisten, artinya kemampuan untuk memproduksi enzim laktase akan berkurang seiring dengan pertumbuhan. Selama 34 minggu sejak kelahiran, sebagian besar bayi masih memiliki aktivitas dan produksi laktase yang tinggi di usus halus, sehingga dapat mencerna sumber karbohidrat utama yang berasal dari ASI yaitu laktosa [1]. Namun, setelah bayi tumbuh dan mulai menerima makanan lainnya, laktosa tidak lagi menjadi sumber energi utama, sehingga aktivitas dan produksi enzim laktase akan berkurang perlahan secara alami [1].
Kelompok individu yang memiliki sifat laktase non-persisten ini akan semakin rentan mengalami gejala intoleransi laktosa seiring pertumbuhan [2,3]. Namun, terdapat sebagian kecil individu yang mampu menghasilkan laktase dalam jumlah tinggi setelah masa menyusui hingga dewasa. Individu ini memiliki sifat laktase persisten dan akan terhindar dari intoleransi laktosa, kecuali jika mereka mengalami defisiensi laktase sekunder akibat adanya penyakit, infeksi, atau radiasi [1].

 

Apa yang membedakan kelompok laktase persisten dengan laktase non-persisten?
Perbedaan kemampuan dalam memproduksi laktase berasal dari perbedaan pada gen yang terlibat dalam produksi enzim ini. Kita sudah bahas gen LCT dan gen MCM6 yang terlibat dalam proses produksi enzim laktase di artikel sebelumnya. Penelitian menemukan bahwa individu dengan laktase persisten mengalami mutasi pada gen regulator MCM6 [4]. Sementara, pada individu dengan laktase non-persisten, tidak terdapat mutasi pada daerah gen tersebut. Mutasi ini mengakibatkan gen LCT dapat terus memproduksi enzim laktase, sehingga enzim ini akan selalu ada untuk mencerna laktosa yang dikonsumsi.

 

Bagaimana penyebaran laktase persisten dan non-persisten?
Data menunjukkan sebanyak dua per tiga jumlah manusia di dunia bersifat laktase non-persisten. Sifat ini ada pada sebagian besar populasi yang berasal Asia, Amerika Selatan, dan Afrika. Asia memiliki jumlah populasi dengan laktase non-persisten terbanyak, lebih dari 90% populasi, disusul Afrika dengan jumlah sekitar 80%, dan 50-75% dari populasi negara sekitar laut Mediterania [5–7].
Sebaliknya, benua Eropa memiliki jumlah populasi dengan laktase non-persisten yang paling sedikit dibandingkan dengan benua lainnya, terutama di daerah Eropa Utara. Namun, variasi laktase non-persisten pun terjadi di benua ini, antara 46 - 85% di timur dan selatan Eropa hingga 62-86% di pusat dan barat Eropa. Begitu pula dengan kepulauan Britania dan Skandinavia dengan variasi 4-11% dari populasi [6,8].
 
Kenapa beberapa daerah, seperti Eropa, memiliki jumlah populasi dengan laktase non-persisten yang relatif lebih sedikit?
Seperti yang telah dijelaskan, hal ini kemungkinan terjadi akibat adanya perbedaan sifat gen yang dimiliki akibat proses mutasi. Penelitian menduga mutasi gen ini mulai terjadi sekitar 7000 tahun sebelum masehi, saat populasi manusia di Eropa melakukan domestikasi hewan termasuk sapi, dan berternak. Sejak masa itu, mereka mulai mengonsumsi susu dan diperkirakan berakibat pada terjadinya mutasi gen yang terlibat dalam proses ekspresi laktase yang kemudian diturunkan ke generasi-generasi dan menyebar [6,9, 10].
Selain ras Eropa, beberapa ras di Asia seperti Mongol, dan Afrika seperti Herero, Nuer, dan Dinka juga menjadikan susu sebagai konsumsi sehari-hari sejak dahulu. Di wilayah tersebut, populasi laktase non-persisten lebih sedikit dibandingkan dengan  ras lain di benua tersebut. India juga dikenal dengan daerah yang memiliki tingkat populasi dengan laktase non-persisten yang rendah dengan variasi berkisaran 37-77% dari populasinya [6].

 

Jadi, keberadaan populasi dengan sifat laktase persisten berawal dari sifat laktase non-persisten yang kemudian berubah (mutasi) menjadi laktase persisten. Hal ini diakibatkan oleh proses panjang adaptasi manusia terhadap linkungannya, yang dalam hal ini adalah transisi dari nomaden menjadi berternak dan menetap, sehingga beberapa populasi menjadi terbiasa mengkonsumsi susu. Terkait dengan intoleransi laktosa, ingat bahwa intoleransi laktosa tidak sama dengan laktase non-persisten. Individu dengan sifat laktase non-persisten belum tentu mengalami gejala intoleransi laktosa. Masih penasaran? Lebih jelasnya bisa langsung meluncur ke artikel sebelumnya (link 1 dan link 2).

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. Convergent adaptation of human lactase persistence in Africa and Europe

Tentang Penulis dan Penyunting

I.D.G.S. Deva, S.Si. M.P.H (c)
ITB - Mikrobiologi, Imperial College London - Public Health
Deva saat ini merupakan salah satu mahasiswa magister di Imperial College London dengan jurusan Public Health. Sebelumnya ia lulus dari program studi Mikrobiologi di Institut Teknologi Bandung. Ketertarikan akan penyakit infeksi sejak dari menempuh sarjana, kemudian dibawa dalam jenjang magister dengan mempelajari kesehatan masyarakat yang lebih menekankan pada sisi pencegahan penyakit dalam...
dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.
Tessa A. S. B.AS., M.Sc.
Haagse Hogeschool - Process and Food Technology, University of Helsinki - Food Science, Restauranter
Memiliki passion di bidang pangan yang tertanam sejak dini karena usaha rumah makan milik keluarganya. Tahun 2007, hijrah ke Den Haag, Belanda untuk meraih gelar sarjana di bidang Process and Food Technology (Haagse Hogeschool). Melanjutkan magisternya di bidang Food Science di University of Helsinki, Finlandia. Sejak Februari 2014, Tessa kembali ke tanah air untuk mengembangkan bisnis rumah...