Mengapa Perutmu bisa Buncit?

Perut Buncit
CC0 Public Domain

Berat badanmu normal, ukuran lingkar lengan tangan atau lingkar paha juga masih tergolong normal. Namun, bagian perutmu membuncit? Kamu mempunyai masalah ini?

 

Bagaimana perut membuncit?

Jaringan lemak memiliki fungsi sebagai simpanan energi yang biasanya diukur dalam satuan kalori. Oleh karena itu, jika jumlah kalori yang kita peroleh dari makanan melebihi jumlah kalori yang diperlukan untuk aktivitas, kelebihannya akan disimpan di jaringan lemak [1]. Namun, bukankah jaringan lemak tidak hanya di perut kita? Memang benar, tetapi massa lemak di perut kita disimpan di dua lokasi, yaitu area bawah kulit (lemak subkutan) dan di sekitar organ perut (lemak visceral). Lemak visceral ini tidak ada di anggota gerak tubuh kamu [2,3]. Jadi, ketika kalori berlebih, perut seakan-akan tampak lebih buncit karena jumlahnya memang lebih banyak.

 

Jumlah kalori makananku sama dengan dia, tapi kenapa hanya perutku yang membuncit? Perlu diingat bahwa prinsip keseimbangan kalori ini bukan hanya masalah kuantitasnya, tetapi juga kualitas kalorinya. Jumlah kalori yang sama pada makanan belum tentu memberikan efek yang sama pada tubuh kita [1]. Sama halnya juga dengan kalori yang dikeluarkan. Aktivitas berbeda yang membakar jumlah kalori yang sama juga memberikan efek berbeda [4]. Selengkapnya tentang efek aktivitas fisik bisa dibaca disini.

 

Makanan yang berbeda memiliki perbedaan jalur metabolisme, peningkatan jenis hormon yang berbeda, bahkan efek pada nafsu makan pun berbeda [1,4,5]. Misalnya, jika kita mengkonsumsi protein, tubuh kita memakai/mengeluarkan energi lebih banyak untuk mencerna protein tersebut. Contoh yang lain adalah ketika kita mengkonsumsi karbohidrat atau gula, tubuh kita meningkatkan hormon insulin yang juga mempengaruhi peningkatan simpanan lemak pada tubuh. [4,5]. Dalam hal beraktivitas, aktivitas yang dilakukan setelah konsumsi makanan menyebabkan otot anggota gerak akan lebih aktif mengambil sumber energi dari makanan. Oleh karena itu, area lain (seperti perut) tidak terlalu banyak menyimpan energi [1]. Penelitian juga telah membuktikan bahwa melakukan aktivitas fisik rutin, terutama aktivitas aerobik dapat mereduksi lemak visceral secara signifikan[6].

 

Selain itu, ternyata massa lemak yang tersimpan di perut sangat bergantung pada sistem hormon, seperti kortisol, testosteron, estrogen, dan hormon pertumbuhan. Oleh karena itu, beberapa kondisi yang mengganggu keseimbangan hormon seperti stress juga berperan dalam menyebabkan perut buncit. Dalam kondisi stress, salah satu reaksi tubuh kita adalah meningkatkan produksi kortisol dan menurunkan produksi testosteron, estrogen, dan hormon pertumbuhan [7]. Kadar kortisol yang tinggi di dalam tubuh dapat meningkatkan akumulasi lemak, sedangkan testosteron, estrogen, dan hormon pertumbuhan berfungsi sebaliknya. Secara singkat, kombinasi dari kondisi tersebut dapat meningkatkan akumulasi lemak visceral  dan menyebabkan perut membuncit [7].  

 

Beberapa faktor lain yang diidentifikasi memiliki hubungan terhadap kecenderungan akumulasi lemak visceral ini selain hormon adalah genetik, usia, ras, dan jenis kelamin [2,3,7,8]. Namun, hubungan tersebut diperoleh melalui studi epidemiologi sehingga tidak bisa diartikan sebagai hubungan sebab akibat [2,3,8]. Walaupun begitu, sebaiknya kamu waspada jika anggota keluarga memiliki kecenderungan perut buncit.

 

Masalahkah perut buncit?

Penelitian telah membuktikan bahwa lemak visceral memiliki dampak kesehatan yang lebih besar dibandingkan lemak subkutan. Lemak visceral berkaitan dengan peningkatan risiko kelainan metabolik dan penyakit jantung pembuluh darah. Kondisi ini disebut dengan sindroma metabolik [2,3], selengkapnya tentang sindroma metabolik dapat dibaca di link ini.

 

Kamu punya masalah perut buncit? Pikirkan kembali berapa banyak dan bagaimana kualitas konsumsi makanan, aktivitas fisik, dan juga tingkat stress kamu. Jika kamu bisa menjaga pola makan gizi seimbang dan mengikuti rekomendasi aktivitas fisik yang tepat, perut buncit bisa dihindari!

 

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. A systematic review and meta-analysis of the effect of aerobic vs. resistance exercise training on visceral fat

Tentang Penulis dan Penyunting

dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...
Arienta Rahmania P. S. S.Si., M.Sc. (c)
ITB - Mikrobiologi, Wageningen University - Food Safety
Arien merupakan alumni dari Institut Teknologi Bandung jurusan Mikrobiologi angkatan 2009. Saat ini, ia sedang menjalani tahun keduanya sebagai mahasiswa magister, program studi Food Safety di Wageningen University, Belanda. Food microbiology dan food fermentation adalah bidang yang sudah menarik perhatiannya sejak bangku S1.
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.