Mengenal Tanda Kecukupan ASI

Sudahkah kamu membaca artikel tentang ASI eksklusif disini? Setelah membaca artikel tersebut kamu mengetahui bahwa setiap ibu menyusui pasti memiliki kemampuan untuk bisa ASI eksklusif. Walaupun kamu memiliki pengetahuan tersebut, kamu juga mungkin tetap menemui permasalahan selama memberikan ASI, terutama untuk para ibu yang baru pertama kali menyusui.

 

Permasalahan yang akan ditemui ibu menyusui sangat beragam. Salah satu masalah yang sering ditemui pada lebih dari 50% ibu menyusui adalah kekhawatiran ibu bahwa bayinya masih lapar pasca menyusui atau ASI yang dihasilkan dirasa kurang [1]. Namun, kekhawatiran ini seringkali tidak diperlukan [2]. Walaupun kemungkinan ASI tidak cukup tetap ada, tetapi hal ini cenderung disebabkan oleh teknik menyusui yang kurang efektif, bukan karena ibu tidak mampu memproduksi ASI dalam jumlah yang mencukupi [2]. Jadi, para ibu menyusui, ayo kenali tanda-tanda kecukupan ASI!

 

Tanda-Tanda Kecukupan ASI

Untuk menilai kecukupan ASI-mu, ibu harus menggunakan parameter yang objektif. Dua penilaian yang paling bisa kamu andalkan adalah peningkatan berat badan dan frekuensi buang air kecil [2].

  • Peningkatan berat badan. Bayi yang cukup ASI setidaknya harus mengalami peningkatan berat badan sebanyak 500 gram/bulan atau 125 gram/minggu [2]. Namun, jumlah ASI yang dihasilkan pada minggu pertama kelahiran memang tidak banyak, sehingga hal yang normal jika bayimu tidak mengalami kenaikan berat badan atau bahkan menurun pada awalnya [3]. Hal yang perlu diperhatikan adalah berat badan bayi tidak boleh turun >10% berat badan lahir dan berat badan bayi kembali atau telah melebihi berat badan lahir saat usia 2 minggu [2][3].
  • Frekuensi buang air kecil (BAK). Bayi yang mendapat cukup ASI akan BAK sebanyak 6-8x dalam sehari. Urin (air kencing) yang dibuang berwarna jernih, tidak kuning pekat, dan tidak berbau menyengat [2][3].

 

Bagaimana dengan perilaku bayi, misalnya bayi yang sering menangis, meminta ASI terus menerus, bayi yang membutuhkan waktu lama menyusui, atau bahkan bayi yang menolak ASI? Itu memang bisa menjadi kemungkinan ASI tidak cukup, tetapi bukan tanda yang objektif. Hal ini dikarenakan setiap bayi memiliki perilaku menyusui yang berbeda [3]. Ada bayi yang menyusui dengan cepat, tetapi ada juga yang lama [3]. Bayi pun bisa menolak ASI jika ibu tidak sabar memberikan ASI [3]. Bayi sering menangis dan melakukan penolakan adalah suatu bentuk ekspresi bayi. Banyak hal lain yang bisa menjadi penyebabnya selain lapar, contohnya buang air besar atau kecil, posisi yang tidak nyaman, lelah, ingin tidur, ingin digendong, atau bahkan sakit [2].

 

Jadi, para calon ibu atau ibu yang sedang menyusui sebaiknya menggunakan penilaian tanda kecukupan ASI yang objektif. Oleh karena itu, jangan jadikan lapar atau ASI yang kurang sebagai alasan utama bayi menangis atau menolak sebelum kamu telah menyingkirkan hal-hal lainnya yang dapat menjadi penyebabnya.

 

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

Tentang Penulis dan Penyunting

dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.