Mengenal Ultra-processed Food

Rak Makanan Ringan
AlejandroLinaresGarcia
Own work) [GFDL (http://www.gnu.org/copyleft/fdl.html) or CC BY-SA 4.0-3.0-2.5-2.0-1.0 (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0-3.0-2.5-2.0-1.0)], via Wikimedia Commons

Tidak bisa dipungkiri, hampir di setiap daerah yang telah mendapatkan akses internet, kemungkinan besar akan mudah menemukan makanan yang terproses (processed food). Pada awalnya, memproses makanan dari bahan dasar alami seperti buah dan sayur ini tentu menguntungkan bagi kita. Misalnya saja proses memasak, membuat asinan atau manisan hingga makanan fermentasi tentu akan menambah nilai dari sebuah makanan selain juga bisa meningkatkan daya tahannya terhadap pembusukan. Kemampuan manusia memproses makanan inilah yang membuatnya mampu bertahan dan beradaptasi di berbagai belahan dunia dengan beragam kesulitan alamnya (1). Namun keinginan manusia tak tampak batasnya, beberapa dekade akhir ini muncullah istilah Ultra-processed food. Mari kita tengok lebih dekat.

 

Mekanisasi telah hadir pula ke industri pangan. Sejak pertengahan abad 19, produksi massal makanan dengan bantuan mesin membuatnya sangat efisien dan efektif. Misalnya saja roti, biskuit, saus, bahkan produk daging. Permasalahan ketersediaan pangan pun di beberapa daerah teratasi. Beberapa abad setelahnya, akselerasi dalam perkembangan teknologi pangan membuat bahan-bahan murah bisa menjadi produk yang layak konsumsi (2). Produsen makanan dan minuman trans-nasional pun berkembang pesat, makanan cepat saji mudah ditemukan di mana-mana. Perubahan ini memberikan dampak pada meningkatnya kasus obesitas dan beragam penyakit kronis, seperti diabetes, yang awalnya dijumpai pada negara maju (3) dan kini telah merambah pula ke berbagai negara berkembang bahkan negara miskin (4). Suplai makanan global saat ini pun menjadi didominasi oleh makanan terproses yang siap santap (5).

 

Hadir sebuah istilah yakni ultra-processed food. Moodie (6) mendefinisikannya sebagai produk makanan yang berasal dari substansi yang diekstrak dari makanan utuh; seperti minyak, tepung dan pati, beragam gula, bagian yang murah dari hewan - dengan sangat sedikit atau bahkan tanpa sisa dari makanan utuh itu sendiri. Contoh produk ini adalah sereal, coklat batangan, minuman ringan dan beragam makanan ringan buatan pabrik lainnya. Umumnya produk ini memiliki kalori yang tinggi, rendah serat dan mikronutrien, serta tinggi akan lemak, gula dan garam. Menurutnya, mengonsumsi jenis makanan ini diimbangi dengan makanan segar lainnya, tidaklah membahayakan. Hanya saja makanan ini biasanya sangat nikmat sehingga konsumen menjadi terbiasa mengonsumsinya. Juga produsen makanan ini biasanya memiliki strategi pemasaran yang terbilang agresif (semisal harga yang lebih murah bila membeli ukuran jumbo), membuatnya lambat laun menggantikan peran makanan utuh yang sehat.

 

Jadi, bila processed food masih menyisakan banyak bagian utuh dari makanan yang alami, ultra-processed food hanya menyisakan sangat sedikit. Jaga dan sayangi tubuh kita dengan selalu mengimbangi asupan gizi yang baik, dari sumber yang baik pula!

Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. Manufacturing epidemics: the role of global producers in increased consumption of unhealthy commodities including processed foods, alcohol, and tobacco.

Tentang Penulis dan Penyunting

Rifqi Ahmad Riyanto S.Si., M.Sc.
ITB - Mikrobiologi, KNRTU - Food Technology
Kazan National Research Technological University, Rusia menjadi tempat menempuh pendidikan magister bagi Rifqi saat ini dalam bidang Teknologi Pangan. Selain aktif dalam bidang sains, saat ini juga aktif sebagai relawan untuk salah satu lembaga non-profit yang bergerak di bidang sosial.
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.