Mengonsumsi Teh Setiap Hari: Baik atau Tidak?

Teh merupakan minuman yang digemari banyak penduduk di dunia, termasuk Indonesia. Bahkan, sebagian orang merasa kurang lengkap tanpa meminum segelas teh setiap harinya. Bagaimana sebenarnya dampak konsumsi teh setiap hari untuk kesehatanmu?
 
Tahukah kamu? Teh ternyata merupakan minuman tersehat yang ada di dunia setelah air mineral [1]. Manfaat teh terhadap kesehatan juga sudah diteliti sejak lama[1]. Secara umum, penelitian mengenai teh melibatkan tiga jenis teh yang memang sering dikonsumsi oleh masyarakat di dunia, yaitu teh hitam, teh hijau, dan teh oolong [2]. Di Indonesia sendiri, teh hitam merupakan jenis teh yang paling banyak dikonsumsi.
 
Apapun itu jenis tehnya, terdapat sebuah zat penting di dalam teh yang bermanfaat untuk kesehatan, yaitu flavonoid jenis polifenol [2,3]. Zat ini telah diketahui memiliki efek protektif terhadap pembuluh darah dan efek antioksidan, sehingga memiliki peranan dalam menurunkan risiko penyakit terkait pembuluh darah seperti hipertensi [2], penyakit jantung, dan stroke [3,4,5]. Namun, teh yang dilibatkan dalam penelitian tentu saja teh murni, bukan segala macam bentuk teh yang dijual dalam kemasan atau di supermarket yang telah dicampur gula atau susu [1].
 
Penelitian hingga saat ini menunjukkan tidak ada risiko fatal akibat konsumsi teh setiap hari [1]. Namun, bukan berarti semakin banyak mengonsumsi teh, kamu juga akan memperoleh manfaat yang lebih besar [1,3]. Hal ini dikarenakan teh juga mengandung kafein. Konsumsi kafein yang berlebihan akan berdampak terhadap hidrasi tubuh dan mengganggu pola tidur kamu [3]. Selain itu, teh juga mengandung zat yang mengganggu penyerapan zat besi. Zat besi ini penting untuk pembentukan sel darah merah, sehingga konsumsi teh berkaitan dengan risiko anemia [6]. Selengkapnya tentang teh dan anemia, dapat dibaca disini

 

Oleh karena itu, beberapa orang kemungkinan perlu membatasi konsumsi teh setiap harinya, contohnya, ibu hamil, orang dengan gejala maag, serta orang dengan anemia dan berisiko anemia. Beberapa studi menunjukkan konsumsi kafein meningkatkan risiko keguguran pada masa kehamilan. Pada orang dengan gejala maag, kafein dapat memperberat gejala maag yang dirasakan. Pada kasus anemia, setiap kelompok usia memiliki risiko anemia dari kelompok bayi hingga lansia. Namun, kelompok bayi, anak-anak, serta lansia perlu menjadi perhatian. Lansia biasanya memiliki penurunan fungsi tubuh, beberapa penyakit penyerta, atau perdarahan saluran cerna yang mungkin tidak terdeteksi [7]. Kelompok bayi dan anak-anak perlu menjadi perhatian karena masa pertumbuhan dan perkembangannya. Walaupun teh mengandung zat kaya antioksidan, teh merupakan minuman yang memiliki nilai gizi yang rendah sehingga kurang tepat jika terlalu sering diberikan untuk bayi/anak yang masih dalam masa pertumbuhan [8].
 
Jadi, mau konsumsi teh setiap hari? Tidak masalah, namun dengan syarat-syarat tertentu. Konsumsi teh yang optimal untuk memperoleh manfaatnya berjumlah sekitar tiga gelas/hari [2,5]. Teh sebaiknya dikonsumsi sebagai selingan, tidak bersamaan dengan makanan. Selain itu, sebaiknya konsumsi teh yang diseduh sendiri dan hindari mengonsumsi teh kemasan atau teh yang dijual dengan tambahan pemanis. Jika kamu termasuk golongan yang berisiko, membatasi konsumsi teh lebih baik. Salam sehat!



Disclaimer: Artikel yang terkandung dalam situs ini disajikan untuk digunakan sebagai informasi tambahan. Artikel di dalam situs zywielab.com ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan perawatan medis profesional atau rekomendasi terhadap suatu individu dari ahli gizi profesional. Artikel yang ada di dalam situs ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk diagnosis atau pilihan pengobatan. Semua pengobatan yang anda lakukan harus berdasarkan rekomendasi dari dokter dengan pemeriksaan secara langsung. Semua risiko atas penggunaan informasi di website ini sepenuhnya ada pada pembaca. Gambar-gambar dan ilustrasi yang dimuat di dalam website ini adalah gambar public domain kecuali jika diberikan referensi secara spesifik. Atribusi ditambahkan jika disyaratkan. Jika Anda menemukan sesuatu yang harus diperbaiki dalam artikel ini, silakan hubungi kontak@zywielab.com

 

Lisensi: Lisensi artikel ini adalah Creative Commons Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan (BY-NC-ND): Pencipta diberi kredit dan hanya karya verbatim saja untuk tujuan nonkomersial saja. Untuk lisensi komersial dan edukasi silahkan menghubungi kami di lisensi@zywielab.com

Referensi

  1. Tea consumption and risk of cardiovascular outcomes and total mortality: a systematic review and meta-analysis of prospective observational studies

Tentang Penulis dan Penyunting

cindy's picture
dr. Besthari Anindita Pramitasari
Universitas Indonesia, Dokter
Besthari merupakan dokter umum alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) lulusan tahun 2015 yang memiliki ketertarikan di bidang gizi. Disamping profesinya sebagai dokter, Besthari memiliki ketertarikan sendiri di bidang art & design¸serta entrepreneurship. Besthari telah mengikuti berbagai program dan pelatihan di bidang gizi, art & design, serta entrepreneurship. Saat ini...
rizal's picture
Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc.
Founder, Reviewer, The Science of Gastronomy
Rizal, sebagai pencetus Zywie laboratorium, walaupun memiliki latar belakang di bidang teknik dan bisnis, mempunyai perhatian lebih terhadap pendidikan kesehatan dan gizi di masyarakat. Perhatian ini muncul ketika Rizal sedang mempelajari "The Science of Gastronomy". Sekarang Rizal sedang bekerja di Lund University, Swedia.